Pengertian Teater Daerah, Jenis, Ciri-ciri dan Contoh secara lengkap

Pengertian Teater Daerah, Jenis, Ciri-ciri dan Contoh secara lengkap - Jika sebelumnya tentang jenis-jenis teater tutur, sekarang kita membahas tentang jenis-jenis teater daerah. Teater daerah disebut juga teater etnis karena diciptakan oleh suku bangsa untuk memenuhi keperluan mereka akan upacara, seni, dan hiburan. Di Indonesia, terdapat banyak sekali teater etnis. Di Sumatra, dapat dijumpai randai, dermuluk, mak yong, dan mendu. Di Jawa Barat, terdapat ubrug, topeng banjet, longser, sintren, manoreh, ronggeng gunung, dan topeng blantek. Sementara itu, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada ludruk, ketoprak, jemblung, ketoprak ongkek, srandul, ande-ande lumut, dadung awuk, wayang topeng, ketek ogleng, jatilan, reog, dan wayang wong. Adapun di Pulau Bali terdapat arja, calon arang, gambuh, topeng prembon, dan cepung. Lenong, blantek, dan topeng betawi merupakan teater rakyat dari Jakarta.
Pengertian Teater Daerah, Jenis, Ciri-ciri dan Contoh secara lengkap
Pengertian Teater Daerah, Jenis, Ciri-ciri dan Contoh secara lengkap

Pengertian Teater Daerah, Jenis, Ciri-ciri dan Contoh secara lengkap - Menurut Saini Kosim, dari sifat-sifatnya dan latar belakang perkembangannya teater etnis dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu teater upacara keagamaan, teater istana, dan teater rakyat. Berikut ini dapat kamu perhatikan ketiga kelompok teater tersebut.

Kata teater dari bahasa yunani yaitu Theatron yang berarti tempat untuk menonton. Namun teater dapat diartikan sebagai tontonan atau pertunjukkan (Tarigan 1985:73) .

Jadi pengertiannya adalah sebagai tempat untuk pertunjukkan atau kegiatan pertunjukkan itu sendiri. Teater merupakan seni yang menyeluruh, karena seni selalu kerjasama (kolektif) secara bersamama-sama antara sutradara dan pelaku, serta pelaku dengan tata rias dan tata busana.

Seni Teater terbagi dalam beberapa jenis menurut ideologinya, menurut sumber dananya, menurut karakteristiknya, dan masih banyak pembagian seni teater berdasarkan pengalaman masing-masing pelakunya. Menurut karakteristiknya, Seni Teater dibagi menjadi dua, yaitu seni teater Tradisional dan seni teater Modern.

Seni Teater tradisional adalah seni teater yang bersifat kedaerahan berdasarkan tradisi, bergerak dengan sistem kekerabatan yang kental. Sedangkan seni teater modern adalah seni teater yang mempunyai dasar-dasar keilmuan yang mapan. Penulisan yang sudah berpatern, penokohan, latihan yang bersistem, dan semua hal yang sudah dibakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.
Berikut Teater tradisional yang ada di Indonesia :

A. Wayang
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali.

B. Makyong
Makyong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional.

C. Drama Gong
Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali.

D. Randai
Randai adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu).

E. Mamanda
Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. F. Longser
Longser merupakan salah satu bentuk teater tradisional masyarakat sunda, Jawa barat.

G. Ketoprak
Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah tersebut ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak.

H. Ludruk
Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki.

I. Lenong
Lenong adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta.

J. Ubrug
Seperti umumnya bentuk kesenian, ubrug juga memiliki fungsi estetik dan sosial. Kesenian yang hingga kini masih ada di sejumlah daerah di Banten ini, masih tetap menjadi sarana hiburan bagi sebagian masyarakat.

1. Teater Upacara Keagamaan
Teater upacara keagamaan masih kuat berakar dalam fungsi ritualnya. Contoh kelompok teater ini dapat ditemukan di Bali, yaitu calon arang. Topeng Cirebon juga dapat dikelompokkan ke dalam teater upacara
keagamaan.

Teater keagamaan memiliki sifat-sifat yang khas. Tempat pementasan biasanya berupa ruangan atau halaman bangunan ibadah atau tempat yang dianggap sakral melalui upacara. Meskipun terdapat batas jasmaniah antara pemain dan penonton, hubungan rohaniah antara keduanya sangatlah erat. Pemain dan penonton secara rohaniah berada di tengah-tengah kegiatan bersama, yaitu penjelasan, pemantapan, dan pengukuhan kembali nilai-nilai yang menjadi penyangga kehidupan mereka bersama. Kelompok teater ini biasanya berbicara tentang tiga dunia, yaitu dunia atas atau dunia para dewa atau leluhur, dunia manusia, dan dunia bawah atau dunia para siluman. Penyelenggara dan pemimpin pementasan sering merangkap sebagai pejabat atau pemimpin keagamaan.

Wayang kulit Jawa pada awal perkembangannya sangat bersifat keagamaan yang dipimpin oleh seorang dalang yang merangkap sebagai shaman atau dukun sebelum pengaruh Hindu dan Buddha masuk ke Jawa. Selain itu, penggunaan perlengkapan keagamaan, seperti genta, air suci, sesajen, dupa, dan gunungan menunjukkan eratnya hubungan teater kelompok ini dengan agama dan upacara keagamaan.
(Calon arang di Bali merupakan contoh teater upacara keagamaan)

2. Teater Istana
Teater istana ialah kelompok teater etnis yang pada awalnya didukung dan dikembangkan oleh para bangsawan, baik di istana maupun kabupaten. Ciri kelompok teater ini yaitu berlakunya kesantunan dan tata krama istana atau kabupaten. Contoh teater kelompok ini adalah wayang wong, wayang kulit, dan langendriyan di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Contoh lainnya adalah gending karesmen dan wayang golek pada awal perkembangannya di Jawa Barat    Di Bali, dikenal jenis teater istana bernama gambuh. Gambuh merupakan teater tradisional yang paling tua di Bali yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-16. Bahasa yang digunakan dalam gambuh yaitu
bahasa Bali kuno yang terasa sangat sukar untuk dipahami oleh orang Bali sekarang. Tariannya pun sangat sulit karena merupakan tarian klasik yang bermutu tinggi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau gambuh menjadi sumber dari tari-tarian Bali yang ada sekarang.

Kebanyakan lakon yang dimainkan gambuh diambil dari struktur cerita Panji yang diadopsi ke dalam budaya Bali. Cerita-cerita yang dimainkan di antaranya Damarwulan, Ronggolawe, dan Tantri. Peran utama menggunakan dialog berbahasa Kawi, sedangkan para punakawan berbahasa Bali. Sering pula para punakawan menerjemahkan bahasa Kawi ke dalam bahasa Bali biasa.

Pementasan gambuh diiringi suling yang suaranya sangat rendah. Suling ini dimainkan dengan teknik pengaturan napas yang sangat sukar. Selain itu, dalam gamelan pengiring gambuh, yang sering disebut gamelan “pegambuhan”, suling mendapat tempat yang khusus. Gambuh mengandung kesamaan dengan opera pada teater Barat karena unsur musik dan nyanyian mendominasi pertunjukan. Oleh karena itu, para penari harus mampu menyanyi. Pusat kendali gamelan dilakukan oleh juru tandak yang duduk di tengah gamelan dan berfungsi sebagai penghubung antara penari dan musik. Selain dua atau empat suling, melodi pegambuhan dimainkan dengan rebab bersama seruling. Peran yang paling penting dalam gamelan adalah pemain kendang lanang atau disebut kendang pemimpin. Dia bertugas memberi aba-aba pada penari dan penabuh.

Teater istana memiliki kekhasan tersendiri karena mengungkapkan tata nilai kaum bangsawan. Teater kelompok ini sangat dipengaruhi oleh susila, tata krama, dan kesantunan pendukungnya. Cerita teater istana biasanya bertemakan kebijaksanaan dan kezaliman raja, keperwiraan atau kepengecutan pangeran, para ksatria, dan sebagainya.

Perlengkapan yang digunakan tentu saja alat-alat yang berhubungan erat dengan tugas hidup kasta ksatria, yaitu memerintah dan berperang. Sementara itu, cara berperan pemain cenderung dibakukan, mengikuti tata krama dan kesantunan para bangsawan.
(Pada awal perkembangannya, wayang golek termasuk teater istana)

3. Teater Rakyat
Teater rakyat merupakan kelompok teater yang tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat di kampung-kampung dan menyerap sifat-sifat rakyat sebagai pendukungnya. Teater rakyat memiliki ciri yang berbeda dengan teater keagamaan dan teater istana. Cerita teater rakyat biasanya diambil dari kisah yang populer di kalangan rakyat atau penggalan-penggalan dari kehidupan sehari-hari. Perlengkapan pentas dan busana yang dikenakan pemain seadanya.

Gaya berperan spontan dan improvisatoris dengan banyak lawakan yang sedikit vulgar. Pementasan dilaksanakan di mana saja, di halaman rumah, lapangan, atau terminal. Dalam teater rakyat, hubungan antara pemain dan penonton sangat akrab.

Arja merupakan jenis teater tradisional dari Bali yang bersifat kerakyatan. Seperti bentuk teater tradisi Bali lainnya, arja merupakan bentuk teater yang penekanannya pada tarian dan nyanyian. Apabila ditelusuri, arja bersumber dari gambuh yang disederhanakan unsur tariannya dan lebih menekankan pada nyanyiannya. Nyanyian yang digunakan memakai bahasa Jawa Tengah dan Bali halus yang disusun dalam tembang macapat.

Selain arja, ada juga ketoprak. Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di daerah-daerah tersebut, ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan masyarakatnya dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya, seperti srandul dan emprak. Pada mulanya, ketoprak merupakan permainan orang-orang desa untuk menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama yang disebut gejogan.

 Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memerhatikan bahasa. Bahasa yang digunakannya yaitu bahasa Jawa dengan berbagai tingkatannya. Tingkatan bahasa Jawa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Biasa (sehari-hari), bahasa Jawa Krama (untuk yang lebih tinggi), dan bahasa Jawa Krama Inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi). Penggunaan bahasa dalam ketoprak tidak hanya memerhatikan penggunaan tingkatan bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa. Karena itu, muncullah bahasa ketoprak, yakni bahasa Jawa dengan bahasa yang halus dan spesi fik. Contoh teater rakyat yang lain yaitu ludruk. Ludruk merupakan teater yang bersifat kerakyatan di daerah Jawa Timur yang berasal dari Jombang. Bahasa yang digunakan dalam ludruk yaitu bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timur. Ciri-ciri bahasa dialek Jawa Timur tetap terbawa meskipun semakin ke barat makin luntur, menjadi bahasa Jawa setempat. Alat musik yang digunakan dalam ludruk yaitu kendang, cimplung, jidor, dan gambang. Lagu-lagu (gending) yang digunakan yaitu Parianyar, Beskalan, Kaloagan, Jula-juli, Samirah, dan Junian. Ludruk dimainkan oleh pria. Bahkan, peran wanita pun dimainkan oleh pria.

Fungsi pokok paling dominan dari teater tradisional pada masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Peringatan atau penghormatan kepada nenek moyang denganmempertontonkan kegagahan maupun kepahlawanannya.
  2. Memanggil kekuatan gaib roh-roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertunjukan.
  3. Pemanggil roh-roh yang dianggap nenek moyang yang baik untuk mengusir roh-roh jahat.
  4. Pelengkap upacara yang diselenggarakan pada saat tertentu dalam siklus waktu.
  5. Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkatan hidup seseorang.

Sebelum membahas contoh teater tradisional lainnya, ada baiknya kita simak apa itu teater? Teater berasal dari bahasa yunani Teatron yang memiliki arti tempat untuk menonton. Teater dapat juga diartikan sebagai pertunjukan drama. Seni pertunjukan teater terbagi menjadi dua, yakni teater modern dan teater tradisional. Contoh seni teater modern yang sering kita dengar adalah opera, kabaret dan Pantomim. Namun kali ini kita akan mengulas satu persatu secara singkat mengenai seni teater tradisional Nusantara dan asal daerahnya. Yuk simak apa saja seni teater tradisional yang ada di Nusantara dalam ulasan dibawah ini.

Teater Tradisional Wayang Wong Dari Jawa
Wayang Wong atau wayang orang merupakan seni teater tradisional yang berkembang di pulau Jawa, baik Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Wayang wong mengambil cerita dari kisah pewayangan, memiliki pakem alur cerita tertentu, dimana alur cerita yang disajikan tidak boleh diubah. Pemain wayang wong menggunakan busana dan aksesoris seperti wayang. Kisah yang biasa diangkat dalam pertunjukan wayang wong adalah kisah Ramayana dan Mahabaratha.

Teater Tradisional Ketoprak Dari Yogyakarta
Ketoprak adalah seni teater tradisional yang berkembang pesat di Yogyakarta, awal mula keberadaan ketoprak diyakini berasal dari daerah surakarta. Pada jaman dahulu ketoprak diiringi oleh musik seadanya saja seperti lesung yang merupakan alat penumpuk padi dan kendang. Namun saat ini Ketoprak lebih banyak diiringi oleh musik gamelan Jawa. Ketoprak tak hanya menyajikan satu atau dua jenis cerita, cerita cerita seperti epos ramayana dan juga kisah 1001 malam pun dipentaskan oleh pemain ketoprak, dengan beberapa penyesuaian tokoh tentunya.

Teater Tradisional Mendu dari Kepulauan Riau
Mendu adalah seni teater tradisional yang berkembang di kepulauan riau dan kalimantan barat. Pertunjukan Mendu merupakan kombinasi dari drama, silat, seni tari dan pantun. Pertunjukan Mendu biasanya diawali oleh tarian khas melayu seperti tari Baladun. Pada tahun 2014 pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan Seni Teater Mendu sebagai Warisan budaya tak benda milik bersama kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Teater Tradisional Lenong Dari Betawi, Jakarta
Lenong merupakan sandiwara tradisional dari Betawi yang dikemas dengan banyolan dan selingan musik. Dialog dialog yang diucapkan oleh pemain Lenong menggunakan Logat Betawi.

Teater Tradisional Ludruk dari Jawa Timur
Teater Ludruk merupakan seni pertunjukan tradisional dari Jawa Timur. Ludruk dimainkan diatas panggung, mengambil tema utama keseharian kehidupan rakyat, perjuangan melawan penjajahan atau kisah 1001 malam. Ludruk tidak sepenuhnya mempertunjukan drama namun juga diselingi musik dan guyonan. Biasanya seni teater tradisional Ludruk diawali dengan tari remo.

Teater Tradisional Mamanda dari Kalimantan Selatan
Mamanda berkembang di Kalimantan Selatan. Yang paling mencolok dalam pertunjukan mamanda adalah busana yang digunakan oleh pemain Mamanda, busana yang dikenakan memang sengaja dibuat gemerlap dan mewah. Pertunjukan Mamanda memiliki kesamaan dengan pertunjukan Lenong jika dilihat dari interaksi antar pemain dan penonton, dimana penonton juga dapat ikut aktif berseloroh dan berkomentar atas adegan yang dipertunjukkan. Hingga saat ini kebanyakan cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan Mamanda adalah cerita dengan tema istanasentris yang membahas kehidupan raja dan bawahannya. Dalam Mamanda, dialog pemain tidak terikat oleh naskah, pemain Mamanda dapat berimprovisasi sesuka hati.

Teater Tradisional Randai Dari Minangkabau
Pertunjukan Randai berkembang di daerah Minangkabau. Dialog yang digunakan dalam Randai memiliki irama dendang dan umumnya menggunakan gurindam untuk menyampaikan maksud. Alat musik pengiring kesenian Randai terdiri dari Talempong, Gendang dan Batang padi yang disebut Puput.

Teater Tradisional Longser dari Jawa Barat
Seni pertunjukan Longser berasal dari jawa barat. Longser merupakan akronim dari Melong ( melihat) dan Seredet ( tergugah), yang dapat diartikan bahwa siapapun yang melihat akan tergugah. Umumnya Longser meninggalkan kesan sederhana, jenaka dan menghibur. Longser lebih banyak menceritakan kehidupan sehari hari masyarakat biasa.

Teater Tradisional Dulmuluk dari Sumatera Selatan
Dulmuluk berasal dari sumatera selatan, tepatnya Palembang. Nama Dulmuluk sendiri diambil dari tokoh cerita di dalam Hikayat Abdoel Moeloek. Pertunjukan Dulmuluk memadukan sejumlah unsur seperti nyanyian, tarian dan drama.

Teater Tradisional Kondobuleng dari Makasar
Kondobuleng berasal dari kata Kondo yang bermakna bangau dan buleng yang bermakna putih, dengan demikian kondobuleng berarti bangau putih. Seni pertunjukan Kondobuleng berasal dari Bugis, Makasar. Kondobuleng dipentaskan dengan gaya lucu dan jenaka.

Yang paling banyak dicari
  • ciri ciri teater daerah
  • contoh teater rakyat
  • macam macam teater modern
  • perbedaan teater tradisional dan modern
  • sejarah teater tradisional
  • contoh teater ketoprak
  • fungsi teater modern
  • contoh teater kontemporer dan daerah asalnya
  • Navigasi Halaman
Sumber : walpaperhd99.blogspot.com, www.kata.co.id


Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel