Lebih dari 7.000 Judul Naskah Kuno Keraton Tersimpan di Inggris? Berikut tentang Dunia Kesusastraan di Kasultanan Yogyakarta - Bukan.info

Keraton merupakan sesuatu yang identik dengan Yogyakarta. Disamping berfungsi sebagai pusat pemerintahan, keraton juga berfungsi sebagai pusat kebudayaan yang kaya akan tradisi dan budaya Jawa. Tentunya banyak sekali peninggalan bersejarah yang bersifat monumental seperti bangunan-bangunan tua dan naskah-naskah peninggalan kerajaan yang sangat bernilai tinggi.


Kegiatan kesusastraan berhubungan erat dengan pemerintahan (kasultanan Yogyakarta)
Kegiatan kesusastraan berhubungan erat dengan pemerintahan (kasultanan Yogyakarta)
sumber gambar wikipedia.org

Menurut sejarah, kegiatan sastra di Kasultanan Yogyakarta dimulai sejak pemerintahan Hamengku Buwana I. Tercatat bahwa sejak pemerintahan Hamengku Buwana I hingga Hamengku Buwana IX ada kegiatan kesusastraan yang menghasilkan berbagai naskah. Jumlah naskah yang dihasilkan sangatlah banyak, baik tersimpan di dalam maupun di luar negeri.
Beberapa naskah yang tersimpan di luar negeri, khususnya di Inggris tidak lain adalah naskah hasil rampasan perang saat penaklukan Kasultanan Yogyakarta pada perang Sepehi tahun 1812. Selain di Inggris juga banyak tersimpan di Belanda. Akibatnya, naskah produksi Kasultanan Yogyakarta sampai dengan abad ke-18 yang tersimpan di koleksi keraton Yogyakarta tinggal 3 buah yaitu Al-Qur'an yang ditulis di Surakarta pada masa HB II, Babad Ngayogyakarta: Hamengku Buwana I - Hamengku Buwana III, dan Serat Purwasayekti yang keduanya ditulis pada masa HB IV.

Naskah asli Babad Keraton masih tersimpan di Inggris?

Tercatat bahwa pada masa HB I terdapat naskah yang ditulis pada tanggal 28 September 1777 - 22 Mei 1778 dengan judul Babad Keraton yang sampai saat ini naskah aslinya masih tersimpan di The British Library Inggris. Adapun mikrofilm naskah itu sudah diserahkan ke Keraton Yogyakarta pada tahun 1969 yang sekarang disimpan di K.A.P Widya Budaya. Tak hanya Babad Kraton. Beberapa manuskrip kuno masa pemerintahan HB I hingga HB II, naskah aslinya terdapat di The British Library Inggris akibat kekalahan perang saat pemberontakan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Raffles. Hingga saat ini lebih dari 7.000 judul manuskrip kuno milik keraton masih tinggal di sana.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Maharsi (2007), Babad Kraton merupakan babad yang paling baik dijadikan sumber sejarah. Sebagai karya sastra sejarah Jawa yang ditulis oleh kelanjutan kerajaan Islam Mataram, Babad Kraton mengandung banyak unsur-unsur budaya Jawa Islam. 

Naskah keraton merupakan peninggalan sejarah yang kaya akan nilai sejarah, budaya dan sastranya
kanjeng kyai serat babad mataram
Kanjeng Kyai Serat Babad Mataram__kerajaannusantara.com

Sementara itu, naskah produksi Kasultanan Yogyakarta yang berada di dalam negeri sebagian besar tersimpan di K.A.P. Widya Budaya dan K.A.P Kridha Mardawa. di K.A.P Widya Budaya tersimpan 370 naskah yang merupakan produksi pada masa HB V sampai HB IX serta tiga naskah yang telah disebut di atas (Al-Qur'an yang ditulis di Surakarta pada masa HB II, Babad Ngayogyakarta: Hamengku Buwana I - Hamengku Buwana III, dan Serat Purwasayekti yang keduanya ditulis pada masa HB IV). Sedangkan di K.A.P Kridha Mardawa menyimpan sekitar 250 naskah.

Kegiatan kesusastraan di Kasultanan Yogyakarta sejak HB V hingga HB IX terus berlangsung melanjutkan tradisi sebelumnya meskipun kuantitas naskah yang dihasilkan dalam setiap periode pemerintahan tidak sama. Periode HB V merupakan periode yang paling produktif (1846-1855) yang mana menghasilkan naskah paling banyak daripada periode sesudahnya. Jenis naskah yang dihasilkan pun beragam. Baik berupa karya baru, saduran, setengah saduran dan salinan.

Diantaranya yaitu Serat Rama Kawi Miring, Serat Sipatulwijra dan Serat Sarasilah. Selain itu ada naskah yang dikeramatkan yaitu Kanjeng Kyai Serat Surya Raja (w.180) karya HB II. Naskah itu dikeramatkan di dalem Prabayeksa bersama dengan benda-benda pusaka lainnya.

 serat surya raja__ tembi.net

Selama pembuatan naskah, profesionalitas penulis naskah sangatlah diperhatikan. Tidak lain penulisnya adalah abdi dalem yang profesioanal dalam bidangnya. Tampak jelas pada pemerintahan HB V dan sebelumnya bahwa hasil naskah yang dihasilkan lebih bagus, rapi dan teratur daripada periode sesudahnya. Hal itu nampak dari jenis aksara, bahasa, kelengkapan, dan bahan yang dipakai. Contohnya yaitu Babad Ngayogyakarta: Hamengku Buwana IX produksi 14 Januari 1945 - 12 Oktober 1952 yang kualitas naskahnya lebih menurun dan cepat rusak daripada Serat Surya Raja yang dibuat pada masa HB II.

Demikianlah sejarah singkat tentang dunia kesusastraan di Kasultanan Yogyakarta. Semoga bermanfaat dan kita sebagai anak bangsa Indonesia (khususnya) semakin cinta dan melestarikan akan kekayaan budaya dan sastra  Indonesia.