Pengertian Seni Pertunjukan, Sejarah, Ciri-ciri, Unsur dan Contoh Secara Lengkap

Pengertian Seni Pertunjukan, Sejarah, Ciri-ciri, Unsur dan Contoh Secara Lengkap - Seni pertunjukan (Bahasa Inggris: performing art) adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. performance biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton.

Meskipun seni pertunjukan bisa juga dikatakan termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan seni mainstream seperti teater, tari, musik dan sirkus, tetapi biasanya kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih dikenal dengan istilah pertunjukan seni. Seni pertunjukan adalah istilah yang biasanya mengacu pada seni konseptual atau avant garde yang tumbuh dari seni rupa dan kini mulai beralih ke arah seni kontemporer.
Pengertian Seni Pertunjukan, Sejarah, Ciri-ciri, Unsur dan Contoh Secara Lengkap
Pengertian Seni Pertunjukan, Sejarah, Ciri-ciri, Unsur dan Contoh Secara Lengkap


Pengertian Seni Pertunjukan Menurut beberapa Ahli

Menurut Murgiyanto (1995) Seni pertunjukan merupakan sebuah tontonan yang memiliki nilai seni dimana tontonan tersebut disajikan sebagai pertunjukan di depan penonton. Sal Murgiyanto juga mengatakan bahwa kajian pertunjukan adalah sebuah disiplin baru yang mempertemukan ilmu-ilmu seni (musikologi, kajian tari, kajian teater) di satu titik dan antropologi di titik lain dalam satu kajian inter-disiplin (etnomusikologi, etnologi tari dan performance studies).

Menurut Soedarsono seni pertunjukan adalah sebuah rumpun seni yang berfungsi sebagai sarana ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis yang mengajarkan bagaimana selayaknya manusia berprilaku sosial.

Anantarfi mengatakan bahwa seni pertunjukan adalah sebuah media yang digunakan untuk mengekspresikan / menyampaikan pesan moral dsb kepada penonton dalam bentuk dialog ataupun gerakan.

Malaranganjaya juga ikut berpendapat mengenai seni pertunjukan, menurutnya seni pertunjukan adalah sebuah media untuk mengekspresikan rasa dan karsa manusia.
Muhyani hampir memiliki pendapat yang sama tentang seni pertunjukan yaitu sebuah media untuk mengekspresikan cipta, rasa dan karsa manusia.

RoseLee Goldberg seorang kritikus seni dari amerika mengatakan bahwa seni pertunjukan merupakan sebuah seni yang dapat disajikan sendiri, kelompok/group dengan pencahayaan, musik atau gambar yang dibuat oleh artis sendiri atau bekerja sama, dan dilakukan di tempat-tempat mulai dari sebuah galeri seni atau museum untuk sebuah “ruang alternatif”, sebuah teate, kafe, bar atau sudut jalan.

Sapardi Djoko Damono seni pertunjukan merupakan cabang seni yang memiliki 3 unsur yakni sutradara, pemain dan penonton.

Edi Sedyawati mengemukakan bahwa seni pertunjukan merupakan seni yang telah ditemukan pada zaman prasejarah akhir, terutama pada zaman perunggu dan pada perkembangannya seni pertunjukan memiliki fungsi yakni fungsi religius, edukatif, peneguhan integrasi sosial, hiburan dan mata pencaharian.

Menurut Bagus Susetyo (2007:1-23) seni pertunjukan adalah sebuah ungkapan budaya, wahana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan perwujudan norma-norma estetik-artistik yang berkembang sesuai zaman, dan wilayah dimana bentuk seni pertunjukan itu tumbuh dan berkembang

1. Zaman Primitif
Berdasarkan hasil penelitian para pakar seni bahwa beberapa jenis  tari di indonesia yang tergolong seni primitif adalah Gordang Sambilan dari Batak, Topeng Hudog dari Kalimantan Timur, dari Bali misalnya tari barong seperti Barong Brutuk, Barong Ket, Rejang tenganan dan berbagai Tari Sanghyang. Dari Jawa adalah tari Kuda Kepang atau Jaran Kepan (apabila penarinya tidak sadarkan diri akan memakan beling (pecahan kaca).

Ciri–ciri kesenian pada zaman primitif, antara lain :
a. Gerakan sangat sederhana dan lebih mengutamakan improvisasi
b. Belum ada iringan gamelan, untuk iringan tari dengan sorak sorai, nyanyian dan tepukan tangan
c. Desain lantai lebih banyak berbentuk lingkaran
d. Di beberapa daerah sebagai pertunjukan jalanan (Jawa dan Bali)
e. Dilakukan oleh orang – orang pilihan, (contohnya : di Bali)
f.  Unsur tak sadarkan diri (trance) dan magis sangat kuat .

2. Zaman Masyarakat Feodal
Zaman masyarakat feodal dibagi menjadi Zaman Indonesia Hindu, Zaman Indonesia Islam, Zaman Invasi bangsa Barat, dan Zaman Pergerakan Indonesia. Pada Zaman ini pertumbuhan Kebudayaan nampak bertambah baik, walaupun hasil – hasil kebudayaan tersebut untuk kepentingan golongan tertentu dan kepentingan keagamaan. Di Samping itu corak masyarakat dari berbagai suku pada masing – masing zaman itu juga sangat mempengaruhi perkembangan Seni Pertunjukan (Tari) di Indonesia.

a.  Zaman Indonesia Hindu
Zaman ini dimulai sejak datangnya pedagang–pedagang india yang kemudian berbaur dan kawin dengan penduduk asli Indonesia dan melahirkan kebudayaan Indonesia Hindu yang didalamnya masih terpelihara dengan baik unsur – unsur kebudayaan Indonesia asli.
Satu hal yang sangat penting pada zaman itu adalah Kehidupan Kerohanian dengan ditemukannya peninggalan puluhan candi-candi sebagai monumen keagamaan. Salah satu seni pertunjukan yang penting pada zaman ini adalah tari. Tari menjadi salah satu bagian yang penting dalam upacara keagamaan yang dapat dilihat pada relief–relief candi yang menggambarkan penari–penari yang diiringi bermacam-macam instrumen musik.

Selain tari khusus keagamaan, pada zaman ini ada pula tari yang difungsikan untuk menghibur, yaitu ronggeng. Tari Ronggeng digambarkan sebagai penari wanita, terpahat pada candi Dieng, Borobudur dan Prambanan (abad VIII). Dalam perkembangan selanjutnya ronggeng dipelihara oleh para bangsawan Jawa makin diperhalus hingga menjelma menjadi tari-tarian yang bernilai artistik, seperti Gambyong, Golek dan Bondan. Sedangkan Ronggeng yang berkembang di kalangan rakyat jelata tetap bernama ronggeng, atau dengan sebutan lain Ledek atau tledek. Tari Ronggeng yang menari bersama penari laki-laki yang datang dari penonton di Jawa Tengah disebut Tayub.

Pada Zaman ini banyak sastrawan yang menggubah satra Mahabrata dan Ramayana sehingga kedua epos tersebut telah menjadi milik Indonesia. Kedua epos ini sangat penting bagi perkembangan Seni Pertunjukan di Indonesia khususnya Bali dan Jawa yang selalu menggunakan kedua epos ini kedalam bentuk seni pertunjukan. Begitu pula dengan alat musik iringan seperti gendang, gambang, dan suling yang telah mengiringi tari-tarian. Selain itu berkembang pula Dramatari Wayang Wwang (Dramatari Topeng) yang memakai lakon cerita Mahabrata dan Ramayana. Pada umumnya penari berasal dari keluarga bangsawan dalam tembok istana.

b.  Zaman Indonesia Islam
Zaman ini diawali dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra Utara pada akhir abad XIII dan kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram di Jawa, pertumbuhan seni pertunjukan tidak terganggu. Bahkan seringkali seni tari dan gamelan dipakai alat daya tarik untuk mengumpulkan orang-orang agar mau mendengarkan khotba-khotbah tentang ajaran agama Islam. Perkembangan seni tari di Jawa Tengah pada Zaman ini nampak lebih pesat dalam masa pemerintahan Sultan agung sebagai raja Mataram Islam.

Jenis tarian yang muncul pada zaman ini (Jawa) adalah tari Serimpi dan Bedhaya sebagai tarian wanita halus, tari Beksan atau wireng merupakan komposisi tari untuk laki-laki yang menggambarkan ketangkasan berperang. Salah satu tarian sakral yang dipelihara baik sampai sekarang dan dipentaskan pada waktu tertentu saja serta diwarisi oleh raja-raja Sultan Agung adalah Tari Bedhaya Ketawang.

Tari Piring di ateh Kaco, Luambek, dan Galombang, wayang Kulit sasak di lombok yang membawakan cerita serat menak peristiwa-peristiwa di Arab sebelum tampilnya Nabi Besar Muhamad SAW.

c. Zaman Invasi Bangsa Barat
Pada zaman ini kerajaan-kerajaan tunduk kepada Belanda. Pada saat itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua yaitu kerajaan Jogjakarta dan Surakarta. Dari perpecahan itu, mengakibatkan adanya perpecahan tari Jawa menjadi gaya Jogjakarta dan gaya Surakarta. Baik gaya Jogjakarta maupun Surakarta mengalami kemajuan yang amat pesat sejak pertengahan abad XVIII dan abad XIX, yang kemudian melahirkan dua macam dramatari, yaitu wayang Wong dan Langendriya. Wayang Wong adalah dramatari dengan dialog prosa bahasa Jawa yang membawakan cerita Mahabrata dan Ramayana. Sedangkan Langendriya adalah dramatari dengan dialog nyanyian bahasa Jawa dan memakai cerita Damarwulan.

Pada zaman ini, Indonesia dijejali dengan berbagai jenis tari klasik, pada umumnya berasal dari Jawa dan Bali karena mendapatkan pengayoman yang baik dari istana, bahkan para senimannya dihidupi oleh para raja untuk memelihara dan mengembangkannya.
Masa pengaruh barat ditandainya dengan masuknya musik nasional, dan sandiwara. Dari Cina berupa alat musik cina (gambang krromong) dan tarian yang disebut Barongsai dan Rebana (alat musik) dari Arab.

d. Zaman Pergerakan Nasional (1908-1945)
Pada Zaman ini mempunyai akibat yang baik terhadap perkembangan seni tari. Hal ini terbukti dari berbagai tari yang hanya dinikmati kaum bangsawan di Istana kemudian disebarluaskan ke kalangan masyarakat luas. Demikian pula sebaliknya, tari-tarian rakyat mendapat perhatian yang layak dari kalangan istana.

Seni Pertunjukan di Bali mengalami perkembangan pesat sejak masa pemerintahan Dalem waturenggong hingga pemerintahan raja-raja sebelumnya abad ke XX. Dramatari yang muncul dan berkembang di Bali antara lai : Gambuh, Topeng (topeng Pajegan dan topeng Panca), Arja, Wayang Wong, Wayang Kulit. Namun sebelumnya telah muncul tari untuk upacara yakni, tari Baris (Bebarisan), dan Rejang. Demikian pula muncul berbagai tema tari legong. Perkembangan tari Bali kemudian berlanjut dengan munculnya tari Kekebyaran dengan iringan gong kebyar yang mula-mula muncul di Bali Utara.
Ciri-ciri tarian pada zaman feodal, sebgai berikut :
a. Gerak tari sudah mempunyai standar tertentu/sudah baku
b. terikat pada tradisi
c. Ada ikatan kaula gusti(ada aturan tutur kata dalam dramatari)
d. Mengutamakan keindahan gerak (gerak imitatif dari manusia, alam, binatang)
e. Mempunyai fungsi untuk tontonan/hiburan

3. Zaman Masyarakat Modern
Zaman ini terjadi setelah kemerdekaan yang ditandai dengan bermunculan berbagai jenis tari kreasi dan kemudian lambat laun beranjak kebentuk kontemporer. Secara garis besar seni pertunjukan berkembang pesat karena seni pertunjukan menjadi cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Dalam pendidikan unsur-unsur barat mulai masuk dalam tari dengan menerapkan berbagai komposisi dan level gerak, diasuh oleh para seniman-seniman yang berpendidikan seni.

Selain berbagai tema legong yang telah berkembang di Bali Selatan, di Bali Utara berkembang seni Kekebyaran yang dipelopori oleh I wayan wandres dengan tari Kebyar Legong yang kemudian disempurnakan oleh Gede Manik menjadi teri Trunajaya. Di Bali selatan Muncul I Ketut Maria yang akrab di panggil I Mario, menciptakan tari kebyar duduk, kemudian tarian ini berkembang menjadi tari terompong, dan ciptaan lainya tema percintaan adalah tari OIleg Tambulilingan. Selain itu, muncul seniman I Nyoman Kaler dari Denpasar yang menciptakan berbagai tari kreasi bebancihan yang amat populer seperti Panji Semirang, Margapati, wiranata, dan Demang Miring. Sedangkan karakter perempuan seperti tari Pengaksama, Kupu-kupu Tarum, Candra Metu, Puspawarna, dan Bayan Nginte.
Ciri-ciri kesenian pada zaman modern, antara lain :
a. Tidak terikat pada pola-pola yang telah ada
b. menekankan kebebasan pribadi
c. bersifat sementara

4.  Perkembangan Seni Pertunjukan di Era Globalisasi
Seni pertunjukan semakin berkemabang dengan sangat baik.  Di indonesia dan juga di negara-negara berkembang lainnya, fungsi Seni Pertunjukan sebagai presentasi estetis yang tumbuh subur adalah seni pertunjukan yang disajikan kepada para wisatawan.

Seorang antropolo (J. Maquet) memberikan sebuah konsep seni pertunjukan wisata by metamorphosis yaitu : sebagai seni yang telah mengalami metamorfose ini sangat berbeda dengan seni yang diciptakan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri (art by destination). Seni Metamorfose disebut juga seni alkuturasi (art by alccuturation), karena seni pertunjukan tersebut dalam penggarapannya telah mengalami proses alkuturasi. Alkuturasi ini terjadi antara selera estetis seniman setempat dengan para wisatawan. Seni alkuturasi ini disebut “Pseudo traditional art” karena bentuknya masih mengacu pada bentuk-bentuk serta kaidah-kaidah tradisional, tetapi nilai tradisionalnya yang biasanya sakral, magis dan simbolis telah dikesampingkan atau dibuat semu.
Contoh :Barong and Kris Dance. Para penari keris yang menusuk-nusuk keris pada dada hanyalah pura-pura (mereka telah berlatih terlebih dahulu), begitu juga dengan kain putih yang dibawa Rangda tidak memiliki kekuatan magis sedikitpun, semua yang terjadi hanya semu belaka karena yang sesungguhnya dilakukan di Pura untuk upacara tertentu.

Bentuk-bentuk seni pertunjukan Jawa tradisonal yang sudah tidak berfungsi ritual lagi, misalnya Wayang Wong, Kethoprak dan sebagainya. Di Bali beberapa tarian upacara dialih fungsikan untuk seni pertunjukan wisatawan seperti pendet (yang telah di kemas ulang), Taian Cak atau Kecak, berbagai tari Sanghyang yang fungsinya untuk mengusir wabah penyakit telah dipentaskan untuk menghibur para wisatawan namun kandungan sakral, magis, dan simbolis dari aslinya telah dihilangkan (imitation).

Ciri-ciri seni pertunjukan yang dikemas untuk wisatawan :
1. Tiruan dari aslinya
2. Versi singkat dan padat
3.  Dikesampingkan nilai-nilai sakral, magis dan simbolisnya
4. Penuh variasi
5. Disajikan dengan menarik, dan
6. Murah harganya menurut wisatawan.

Dilihat dari ciri-ciri tersebut dan dipadukan dengan konsep seni wisata, teori itu akan berbunyi : “Seni wisata adalah seni yang dikemas khusus untuk wisatawan, yang memiliki ciri-ciri tiruan dari aslinya, dikemas padat dan singkat, dikesampingkan nilai primernya, penuh variasi, menarik serta murah harganya.

1. Tema
Tema adalah pikiran pokok yang mendasari kisah drama. Pikiran pokok  tersebut dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi kisah yang seru dan  menarik. Tema bisa diambil dari mana saja, bisa dari permasalahan kehidupan  pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan sosial masyarakat, percintaan,  lingkungan alam, penyimpangan sosial dan budaya, kriminalitas, politik, isu  globalisasi dunia, dan sebagainya. Tema dapat dipersempit menjadi sebuah topik, kemudian topik tersebut dikembangkan menjadi kisah dalam teater dengan dialog- dialognya. Sementara itu,  judul dapat diambil dari isi ceritanya.

2.  Plot
Plot adalah rangkaian peristiwa atau jalan kisah dalam drama. Plot terdiri  atas konflik yang berkembang  secara bertahap, dari sederhana menjadi kompleks,  klimaks, sampai penyelesaian. Adapun tahapan plot yaitu sebagai berikut.

a. Eksposisi
Perkenalan tokoh melalui adegan-adegan dan dialog yang mengantarkan  penonton pada keadaan yang nyata.

b. Konflik
Pada tahapan ini mulai ada kejadian atau peristiwa atau insiden yang  melibatkan tokoh dalam masalah.

c. Komplikasi
Insiden yang terjadi mulai berkembang dan menimbulkan konflik- konflik semakin banyak, rumit, dan saling terkait, tetapi belum tampak ada  pemecahannya.

d. Klimaks
Berbagai konflik telah sampai pada puncaknya atau puncak ketegangan  bagi para penonton. Di sinilah konflik atau pertikaian antartokoh mencapai  puncaknya.

e. Penyelesaian
Tahap ini merupakan akhir penyelesaian konflik. Di sini, penentuan ceritanya  akan berakhir menyenangkan, mengharukan, tragis, atau menimbulkan sebuah  teka-teki bagi para penonton.

3. Penokohan
Penokohan dalam teater mencakup hal-hal yang berkaitan berikut.
a. Aspek Fisikologis
Aspek ini berkaitan dengan penamaan, pemeranan, dan keadaan fisik tokoh.
Keadaan fisik antara lain tinggi, pendek, warna rambut, rambut panjang atau  pendek, gemuk, kurus, dan warna kulit.

b. Aspek Sosiologis
Aspek ini berkaitan dengan keadaan sosial tokoh, yakni interaksi atau peran  sosial tokoh dengan tokoh lain.

c. Aspek Psikologis
Aspek ini berkaitan dengan karakter yaitu keseluruhan ciri-ciri jiwa atau  kepribadian seorang tokoh. Jenis karakter dalam sebuah pementasan teater antara  lain baik hati, keras, sombong, munafik, rendah diri, ramah, dan pemarah.

4. Dialog
Dialog adalah percakapan antartokoh (yang bersamaan dalam satu gerak  atau adegan) untuk merangkai jalannya kisah. Dialog  harus mendukung karakter  tokoh, mengarahkan plot, dan mengungkap makna yang tersirat.

5. Bahasa
Bahasa merupakan bahan dasar naskah/skenario dalam wujud kata dan kalimat. Kata dan kalimat harus dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan  secara komunikatif dan efektif.

6. Ide dan Pesan
Ide dan pesan dalam pertunjukan harus bisa dituliskan oleh penulis dan  diimplementasikan di atas panggung oleh pemeran. Ide bisa didapat dengan cara  merekayasa secara logis sehingga selain dapat menghibur, dapat juga menampilkan  pesan moral melalui nilai-nilai pendidikan.

7. Setting
Setting atau latar adalah keadaan tempat dan suasana terjadinya suatu adegan di panggung. SeĴing ini bisa mencakup tata panggung dan tata lampu.

Macam-macam Seni Pertunjukan:
1. Tari Pendet
Pada awalnya tari pendet ini merupakan tarian pemujaan yang dipentaskan di pura. Tari pendat ini menggambarkan penyambutan atas turunnya dewata ke dunia. Seiring dengan perubahan zaman tari pendet ini berubah nama menjadi “ucapan selamat datang” namun tanpa menghilangkan unsur-unsur religius dan sakral. Tari pendet ini merupakan tari yang berasal dari bali.

2. Tari Klasik dari Keraton Surakarta
Tari ini sudah ada sejak zaman kerajaan majapahit. Semua yang terkandung dalam tarian ini merupakan tradisi dari budaya lingkungan keraton. Baik dari segi gerakan tari nya maupun aturan-aturan tersendiri. Di dalam setiap gerakanya pun memiliki makna dan pesan yang tersirat, begitu juga dengan iringan musik dan pakaiannya.

3. Angklung
Angklung merupakan alat musik yang berkembang di jawa barat sejak desember 1966. Angklung merupakan alat musik yang bernada ganda. Dari desember 2010 angklung terdaftar sebagai karya seni warisan budaya nonbendawi dan lisan manusia dari UNESCO. Asal usul angklung di ciptakan dan dimainkan untuk memanggil dewi sri agar turung ke bumi agar padi milik masyarakat tumbuh dengan subur dan lebat.

4. Sendratari Ramayana
Sendratari ramayana ini merupakan seni gabungan antara drama dan tarian tanpa dialog. Sendratari ramayana ini di angkat dari kisah ramayana dan asal usul seni sendratari ramayana ini dari GPH Djatikoesoemo untuk mengangkat wisata indonesia kepada dunia internasional. Sendratari ramayana pertama kali di pertunjukan pada tahun 1961, biasanya sendratari ramayana ini di pentaskan di candi prambanan pada musim kemarau pada hari selasa, kamis dan sabtu.

5. Reog
Reog merupakan seni pertunjukan sejak tahun 1920 dari jawa timur kota ponorogo. Dalam seni reog ponorogo ini tampak yang di tampilkan berbentuk kepala singa atau biasa di sebut singa barong yang dihiasi banyak bulu-bulu hingga tampak seperti kipas raksasa. Reog ini dikenal dengan berat nya sekitar 50 kg yang di bawakan oleh pemerannya menggunakan gigi. Selain latihan fisik pemerannya juga latihan spiritual seperti bertapa dan puasa. Reog ponorogo ini memang di kenal dengan ilmu gaib nya.

6. Tari Barong Bali
Tari barong ini di kenal dari kebudayaan pra-hindu dan merupakan tarian khas bali. Tari ini menggambarkan perkelahian antara kebaikan dan kebatilan. Barong sendiri melambangkan kebaikan sedangkan rangda melambangkan kejahatan. Pertarungan dan perkelahian ini tidak akan pernah selesai hingga dunia berakhir. Anda bisa menyaksikan seni pertunjukan ini di bali tepatnya di denpasar.

7. Wayang
Seni pertunjukan wayang ini berkembang dan sudah ada sejak berabad-abad yang lalu yang dikenal di daerah jawa dan bali. Wayang ini merupakan media awal masuk agama hindu ke indonesia, awal cerita wayang ini yaitu di prasasti balitung pada abad ke IV dengan bunyi  “si galigi mawayang” cerita wayang ini sendiri memakai cerita ramayana dan mahabharata. Adapun jenis-jenis wayang yaitu wayang kulit, wayang golek, wayang orang, wayang motekar dan wayang rumput.

8. Tari Saman
Tari saman yang berasal Dari suku gayo ini merupakan tarian yang terkenal juga hingga ke mancanegara, tari saman ini menggambarkan tentang sopan santun, pendidikan, keagamaan, kepahlawanan dan kekompakan. Tari saman ini tidak menggunakan alat musik sama sekali tetapi menggunakan anggota badan untuk iringan musik dan nada nya seperti tepuk tangan, memukul dada, paha dan sebagainya untuk sinkronisasi gerakan penarinya tersebut.

9. Tari Kecak
Tari Kecak ini merupakan tari yang berasal dari bali dengan beranggotakan puluhan laki-laki dengan berbaris melingkar kemudian menyerukan “cak” dengan irama tertentu dan lengan di angkat. Tari ini Menceritakan kisah ramayana ketika pasukan kera Membantu rama melawan rahwana. Tari kecak ini di ciptakan pada tahun 1930an oleh wayan limbak. Tarian ini di ciptakan menurut ritual sanghyang yaitu ketika penarinya dalam kondisi tidak sadar. Tari kecak menjadi terkenal dan populer ketika wayan limbak dan para penarinya keliling dunia. Anda bisa menyaksikan tari kecak atau seni pertunjukan ini di uluwatu.

Seni pertunjukan di Indonesia
Seni pertunjukan di Indonesia merupakan karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Berikut adalah macam-macam seni pertunjukan di Indonesia:
  1. Banjet (Jawa Barat bagian utara)
  2. Barongan (hampir di seluruh daerah)
  3. Barongsai (Jawa Tengah)
  4. Burokan (Jawa Barat)
  5. Hadrah (Pulau Jawa)
  6. Hudoq (Kalimantan Timur)
  7. Kecak (Bali)
  8. Kethoprak (Jawa Tengah)
  9. Lengger (Jawa Tengah)
  10. Lengguk (Jawa Tengah)
  11. Lenong (DKI Jakarta)
  12. Liang liong (Jawa Tengah, Jawa Timur)
  13. Ludruk (Jawa Timur)
  14. Makyong (Riau)
  15. Mamanda (Kalimantan)
  16. Ondel-ondel (DKI Jakarta)
  17. Oprak alang (Jawa Tengah bagian utara)
  18. Orkes gambus (hampir di seluruh daerah)
  19. Randai (Sumatra Barat)
  20. Reog (Jawa Timur)
  21. Rudat (Jawa Barat)
  22. Saman (Aceh)
  23. Sanghyang (Bali)
  24. Seblang (Jawa Timur)
  25. Sendratari Ramayana (Yogyakarta, Bali)
  26. Sintren (Jawa Tengah)
  27. Srandul (Jawa Tengah)
  28. Tanjidor (DKI Jakarta)
  29. Tarling (Jawa Barat)
  30. Wayang bangsawan (Kepulauan Riau)
  31. Wayang golek (Jawa Barat)
  32. Wayang kulit (Pulau Jawa)
  33. Wayang orang (Jawa Tengah)
  34. Wayang potehi (Jawa Tengah)
  35. Wayang rumput (Jawa Tengah)
  36. Zapin (Pulau Kalimantan)
Yang Paling banyak dicari :
  • fungsi seni pertunjukan
  • konsep seni pertunjukan
  • contoh seni pertunjukan
  • sejarah seni pertunjukan
  • jenis-jenis seni pertunjukan dan penjelasannya
  • unsur seni pertunjukan
  • pengertian pertunjukan seni musik
  • karakteristik seni pertunjukan
Sumber : ruangpengetahuan.co.id. Wikipedia.org, tilempastikaigede.blogspot.com, walpaperhd99.blogspot.com


Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel