Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Pertunjukan Musik Tradisional Pengiring Tari dan Teater Tradisional Mapel Seni Budaya kelas 10 SMA/MA

Materi Pertunjukan Musik Tradisional Pengiring Tari dan Teater Tradisional Mapel Seni Budaya kelas 10 SMA/MA - Hai adik adik yang baik, apa kabar? semoga dalam keadaan baik baik saja ya, jangan lupa untuk selalu mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah agar terhindar dari berbagai hal yang tidak diinginkan, Oiya pada kesempatan yang baik ini kakak ingin membagikan kepada adik adik mengenai materi yang sudah disiapkan yaitu materi tentang Pertunjukan Musik Tradisional Pengiring Tari dan Teater Tradisional Mapel Seni Budaya kelas 10 SMA/MA. Semoga bermanfaat yah.

Materi Pertunjukan Musik Tradisional Pengiring Tari dan Teater Tradisional Mapel Seni Budaya kelas 10 SMA/MA
Materi Pertunjukan Musik Tradisional Pengiring Tari dan Teater Tradisional Mapel Seni Budaya kelas 10 SMA/MA

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi pembelajaran ini diharapkan siswa dapat :
1. Mengidentifikasi pertunjukan musik tradisional untuk mengiringi tarian tradisional.
2. Mengidentifikasi pertunjukan musik tradisional untuk mengiringi teater tradisional.
3. Mempresentasikan kesimpulan tentang perbedaan musik tradisional dalam ragam pertunjukan (musik, tari dan teater).

B. Uraian Materi

Pada perkembangannya, baik musik barat maupun musik tradisional di Indonesia dapat difungsikan tidak hanya saya pertunjukan musik secara khusus tetapi juga dapat dikolaborasikan dengan cabang seni lainnya. Dari beberapa karya musik tradisional di Indonesia banyak beberapa pertunjukan musik tradisional yang dipadukan dengan cabang seni lainnya seperti tari dan teater.

Kamu mungkin pernah melihat, di Indonesia banyak sekali ragam pertunjukan musik tradisional yang dikombinasikan dengan tarian dan teater. Seperti Tari Jaipongan di Jawa Barat, seni tari ini telah berkembang dan memiliki kekhasan tersendiri, tidak hanya saja gerak tariannya tetapi komposisi musiknya itu sendiri. Dalam Jaipongan antara musik dan tari telah menjadi satu kesatuan yang utuh yang tidak terpisahkan. Tari Jaipongan tanpa musik yang mengiringinya akan ada kesan “kosong/hampa” demikian juga sebaliknya.

Dalam pembahasan berikutnya kita akan mempelajari lebih jauh musik tradisional sebagai iringan tari dan teater tradisional. Agar kita bisa memahami tentang fungsi dan bentuk pertunjukan musik lainnya disamping musik sebagai sajian musiknya saja.

1. Musik Tradisional Sebagai Pengiring Tari
Seperti yang telah dijelaskan di atas, musik yang berkembang hingga saat ini tidak hanya disajikan sebagai pertunjukan musiknya saja, tetapi dapat pula dikembangkan dan difungsikan sebagai pengiring tarian. Musik disini dibuat untuk mengiringi sebuah tarian. Sehingga dalam proses penciptaannya perlu dilakukan dengan baik sesuai gerakan tarian.
Tari merupakan salah satu cabang seni yang menggunakan media gerak sebagai unsur utamanya. Tari adalah ekspresi jiwa melalui gerak-gerak ritmis yang indah. Gerak tari bisa bersumber dari gerak keseharian dan gerakan natural yang diolah sedemikian rupa. Jika kita simak, gerak tari meliputi beberapa unsur yakni, gerak, ruang, musik, tata rias, properti, tata busana, dan tata lampu.
Dalam perkembangannya di Indonesia, jenis tari dibagi berdasarkan pola garapannya. Banyaknya kesenian tari yang ada di masyarakat kita tentunya memiliki pola garapan masing-masing. Jenis tari menurut pola garapan ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Tari Tradisional
Tari tradisional ini terbagi menjadi 5, yaitu tari primitif, tari rakyat, tari wayang, tari Topeng, dan tari klasik.
  1. Tari Primitif, merupakan tari tradisi yang menunjukkan gerak tari yang sederhana, yang terdiri dari gerakan serta hentakan kaki, ayunan tubuh dan gerakan kepala. Gerakan ornamentik dari tangan dan kaki boleh dikatakan tidak ada. Pada dasarnya tari primitif digunakan untuk pemujaan ataupun upacara ritual. Tari primitif ini meskipun sederhana tetapi sangat intens dan ekspresif. Ini disebabkan karena merupakan karya total antara manusia, kepercayaan, dan lingkungan hidup.
  2. Tari Rakyat (Folklorik), tari ini berasal dari kehidupan sosial atau kelompok masyarakat yang langsung tumbuh/ berkembang dikalangan masyarakat tersebut. Tari ini juga lahir dari ungkapan masyarakat di dalam rangkaian kegiatan sosial religius. Contohnya tari Reog Ponorogo, Tor-Tor Huda (dari Simalungun), ronggeng gunung ciamis, ibing pencak silat, ketuk tilu, dan lain-lain.
  3. Tari Wayang, tari wayang merupakan bagian dari salah satu pertunjukan wayang orang (wayang wong). Berbeda dengan tarian lainnya, seorang penari tari wayang bukan saja hanya bisa menari, tapi dituntut pula bisa bernyanyi dan berdialog dalam bentuk tembang
  4. Tari Topeng, di Jawa Barat tari topeng merupakan tarian yang banyak berkembang di daerah Cirebon dan Indramayu. Tari topeng adalah tarian yang dipentaskan penari-penari yang memakai topeng. Keunikan dari tari ini adalah topeng yang dikenakan mempunyai karakter yang berbeda-beda.
  5. Tari Klasik, merupakan tari yang bermutu tinggi, karena berasal dan berkembang di kalangan adat yang kuat serta mapan seperti di keraton-keraton, rumah bangsawan, dan juga di banjar seperti di Bali. Tari klasik memiliki standar dan norma yang cukup kuat, sehingga sampai pada pembakuan gerak, sifatnya konvensional yang juga mengandung konsep simbolik ataupun filosofis.
b. Tari Kreasi 
Merupakan bentuk tari yang terbentuk karena adanya kesadaran untuk mencipta, mengolah ataupun mengubah tarian yang menjadi dasarnya. Tari kreasi merupakan media yang memberikan kebebasan bagi seniman- seniman tari saat ini di dalam mencari kemungkinan baru dibidang tari. Tari kreasi ini ada yang mengacu pada bentuk yang sudah ada, misalnya gubahan dari tari klasik ataupun tari tradisional. Disamping itu, ada pula yang sifatnya tidak terkait pada faktor yang sudah ada, dan sering juga dipakai sebagai eksperimen. Karena itu dapat bersifat kontemporer. Contoh tari kreasi, yaitu: tari kuda lumping, tari merak, tari jaipongan, dll.

Musik dalam tari merupakan salah satu unsur yang menunjang dalam pertunjukan tari. Sehingga dapat dikatakan musik dalam tari adalah suatu pola ritmis yang dapat memberikan makna, struktur, dinamika, serta kekuatan gerakan tari. Coba kita bayangkan,gerak tari tanpa musik rasanya belum lengkap, sehingga unsur musik yang dinamakan ritme harus selalu dipertimbangkan agar gerak tersebut ingin bermakna, memiliki struktur, dinamika, serta kekuatan.

Untuk iringan tari, musik dapat dibedakan dalam tiga jenis yakni :
  • Musik sebagai pengiring tari, bila hadirnya musik hanya diperankan untuk mengiringi sebuah tarian.
  • Musik sebagai ilustrasi, bila hadirnya musik sekedar berperan sebagai bentuk ilustrasi dari sebuah tarian.
  • Musik sebagai pasangan gerak, bila hadirnya musik dalam tari bukan semata mengiringi, atau menjadi latar, namun lebih memiliki karakter untuk dapat bersama-sama mengekspresikan maksud dari tarian.
Tari hampir tak pernah lepas dari musik. Bahkan dalam tari tradisional terdapat beberapa nama tarian sama dengan nama musiknya. Oleh karena itu banyak nama tarian tradisional di Indonesia menunjukkan nama musik tradisionalnya. Contoh di Jawa Barat, kamu mungkin sudah kenal tari Jaipongan, tari ini tidak pernah lepas dari musiknya. Antara tari dan musiknya telah memiliki kekhasan tersendiri. Seseorang mendengar jenis musik ini tanpa melihat tariannya sudah paham bahwa itu musik Jaipongan. Disamping struktur musikalnya secara keseluruhan, juga ada kekhasan tersendiri dalam Jaipongan, yakni pola tabuhan kendangnya.

Demikian pula di daerah-daerah lainnya di Indonesia, banyak musik dijadikan pengiring sebuah tarian untuk menambah kekuatan ritme dan emosional penari. Selain Jaipongan di Jawa Barat terdapat pula beberapa tarian yang menggunakan musik sebagai pengiringnya seperti contoh di bawah ini yang mungkin bisa kamu lihat dalam beberapa media seperti televisi dan internet :
  • Tari Pendet , berasal dari Bali
  • Tari Gandrung, berasal dari Banyuwangi Jawa Timur
  • Tari Tor tor , berasal dari suku Batak Sumatera Utara
  • Tari Tayub, berasal dari Jawa Tengah.
2. Musik Tradisional Sebagai Pengiring Teater
Seperti telah dibahas di atas, musik bukan saja komposisi yang selalu utuh disajikan secara mandiri, akan tetapi musik bisa saja akan tetapi bisa dikolaborasikan dengan cabang seni lainnya. Disamping sebagai pengiring tari, musik dapat disajikan sebagai pengiring seni peran atau teater.

Musik sangat memungkinkan diolah untuk keperluan sebuah pertunjukan teater karena musik pada pertunjukan teater lebih banyak menitikberatkan pada dukungan suasana yang diperjelas dengan bunyi musik. Hal ini tentunya dikarenakan musik dapat berkompromi dengan naskah teater yang akan dipentaskan. Sehingga dalam hal ini komposisi musik yang dibuat tidak sebebas seperti pertunjukan musik mandiri, akan tetapi harus menyesuaikan dengan kepentingan musik untuk menunjang pertunjukan teater.

Kata teater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti seeing place (Inggris). Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia.

Unsur-unsur teater dalam urutannya meliputi :
  • Tubuh manusia sebagai unsur utama (Pemeran/ pelaku/ pemain/aktor).
  • Gerak sebagai unsur penunjang (gerak tubuh, gerak suara, gerak bunyi dan gerak rupa).
  • Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran).
  • Bunyi sebagai efek penunjang (bunyi benda, efek dan musik).
  • Rupa sebagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias dan kostum).
  • Lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi).
Dalam pertunjukan teater, musik sangatlah erat kaitannya, sehingga ada yang menyebutkan pertunjukan teater dengan didukung aktor yang baik pun akan masih terasa “hambar” jika tidak didukung oleh penataan musik yang sesuai dengan konteks cerita yang disajikan. Selain berpengaruh terhadap aktor (emosi aktor dapat dicapai melalui musik), juga berpengaruh terhadap emosi penonton dalam menuntun atau mengapresiasi sebuah karya teater.
Musik untuk teater pada penggarapannya sangatlah bebas bentuknya, dalam arti musik disesuaikan dengan adegan pada naskah. Meskipun demikian, musik pada teater bukanlah sekedar musik “pelengkap” yang hanya berfungsi sebagai “pengekor” pada naskah. Pada proses penggarapan musik teater harus selalu ada kesepakatan antara seorang penata musik, sutradara, dan aktor tentang kesesuaian musik dengan adegan atau sebaliknya, adegan yang menyesuaikan terhadap musik.
Musik pada pertunjukan teater pada dasarnya berfungsi sebagai “penguat” sebuah cerita yang terdapat pada naskah. Namun, pada kenyataannya musik pada teater bisa berfungsi lebih dan berperan sangat penting. Terdapat beberapa fungsi dan peranan musik sebagai ilustrasi pada pertunjukan teater, yaitu :
a. Musik pembuka
Berfungsi untuk memusatkan perhatian penonton pada pertunjukan yang akan disajikan, sekaligus memberitahukan bahwa pertunjukan akan dimulai. Oleh karena fungsinya untuk memusatka perhatian penonton, maka komposisi musik pembuka harus dapat menarik perhatian penonton.

b. Musik penutup
Musik yang berfungsi untuk memberitahukan penonton bahwa pertunjukan telah selesai. Musik penutup ini memungkinkan sekali terjadi kesamaan bentuk komposisinya dengan musik pembuka atau dengan musik lainnya.

c. Musik pergantian babak
Setiap pergantian babak pada pertunjukan teater alangkah baiknya dan senantiasa diciptakan komposisi musik yang relatif pendek. Komposisi musik ini berfungsi untuk menjaga stabilitas emosi penonton dalam menghantarkan suasana ke babak selanjutnya, selain berfungsi juga sebagai persiapan pada aktor dan stage crew.

d. Musik ilustrasi
Musik yang berfungsi membantu mengungkapkan suasana batin aktor dalam penokohan yang ada dalam cerita pada babak atau adegan tertentu. Komposisi musik ini harus bisa membantu aktor dalam mengungkapkan ini hati si aktor, oleh karenanya proses dialog dan kesepakatan antara aktor dan penata musik sangat diperlukan.

e. Musik penokohan
Komposisi musik yang digarap khusus sebagai ciri khas dari kemunculan seorang tokoh. Musik ini harus bisa menjelaskan dan menggambarkan karakter tokoh yang muncul, sehingga penonton akan tahu bahwa dengan dimainkannya musik tersebut berarti akan muncul tokoh yang menjadi ciri daripada musik tersebut.

f. Musik aksentuasi
Berfungsi untuk memperjelas maksud dari gerakan aktor. Meskipun pada kenyataanya suatu gerakan manusia tidak berbunyi secara jelas, misalnya ketika dalam sebuah cerita seseorang dikisahkan memukul lawannya, untuk memperjelas gerakan tersebut maka dipertebal dan diperjelas melalui musik aksentuasi.

g. Musik setting
Musik yang menyajikan atau mengungkapkan tempat dan waktu terjadinya suatu peristiwa. Salah satu contoh misalnya peristiwa malam hari disebuah hutan atau disuatu pedesaan, musik mempunyai peranan penting untuk mengungkapkan keadaan tersebut secara auditif melalui bunyi-bunyi asosiatif atau kreatif tentang suasana tersebut. Secara teknis iringan musik ini harus ada kesinambungan antara suasana, gerak dan musik.

h. Musik pelebur emosi
Artinya menghancurkan atau membuyarkan emosi yang telah terbimbing dari adegan-adegan sebelumnya, kemudian dilebur secara sengaja agar penonton sadar bahwa yang mereka lakukan hanyalah sebuah sandiwara.

Dari pemaparan diatas, sangatlah jelas bahwa keberadaan musik pada pertunjukan teater bukan hanya sebagai “pelengkap” saja, akan tetapi mempunyai peranan, makna, dan fungsi yang sangat penting serta memegang peran inti dalam kelancaran sebuah pementasan teater, karena dengan penataan musik yang sesuai dengan tema cerita akan semakin menguatkan maksud dari skenario dan membantu aktor dalam memainkan sebuah adegan yang diperankan.

Teater di Indonesia telah berkembang cukup lama, hal ini tergantung pada masyarakat pendukungnya. Dilihat dari pendukungnya, bentuk teater terdiri dari beberapa jenis teater antara lain :
  1. Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan pedesaan , bentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dan lain-lain.
  2. Teater Keraton yaitu teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewadewa . Contoh : teater Wayang.
  3. Teater Urban atau kota-kota. Teater ini masih membawa idiom bentuk rakyat dan keraton. Teater jenis ini lahir dari kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok baru dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan baru, sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.
  4. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu. Dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.
Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan berkembang secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya, untuk memulai menanam padi harus diadakan upacara khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan. Juga ketika panen, sebagai ucapan terima kasih maka dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/ status dan kematian) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata cara yang unik dan menarik.

Ada beberapa seni teater tradisional yang sudah berkembang di Indonesia. Masing-masing daerah memiliki ciri dan kekhasan sendiri dalam pertunjukannya. Hal tersebut bisa dilihat dari cerita, latar, tokoh, bahasa yang digunakan, bahkan musiknya yang memiliki karakteristik masyarakat di daerahnya masing-masing. Di bawah ini adalah beberapa jenis teater tradisional Indonesia yang mungkin bisa kamu lihat di beberapa media, diantaranya :
a. Wayang
Wayang merupakan salah satu pertunjukan teater yang berkembang di daerah Jawa dan Bali. Di Indonesia terdapat beberapa jenis teater wayang seperti, wayang golek di Jawa Barat, wayang kulit di Jawa Tengah, wayang wong di Jawa Tengah. 
Ciri khas pertunjukan wayang disamping terdapat adegan teater juga ditambah dengan unsur tarian dan musik yang biasanya menggunakan alat musik berupa gamelan.

b. Makyong
Makyong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Nama makyong berasal dari mak hyang, nama lain untuk dewi sri, dewi padi. Makyong adalah teater tradisional yang Salah satu adegan Wayang Wong berasal dari Pulau Bintan, Riau. 
Makyong dipentaskan pada siang atau malam hari dengan lama pementasan bisa mencapai kurang lebih tiga jam. Didalamnya terdapat unsur musik berupa nyanyian dan alat musik berupa gendang, rebab, dan tetawak (gong).

c. Drama Gong
Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). 
Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut “drama klasik”. Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar).

d. Randai
Randai adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Randai dapat diartikan sebagai “bersenang-senang sambil membentuk lingkaran” karena memang pemainnya berdiri dalam sebuah lingkaran besar bergaris tengah yang panjangnya lima sampai delapan meter. 
Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika adat Minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni, seperti: drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat. Alat musik yang digunakan gendang, saluang, dan talempong.

e. Mamanda
Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup. Istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. 
Mamanda secara etimologis terdiri dari kata “mama” (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan. Alat musik yang digunakan, gendang, biola, serunai atau suling, kadang ditambah pula dengan akordeon.

f. Longser
Longser merupakan salah satu bentuk teater tradisional masyarakat sunda, Jawa barat. Longser berasal dari akronim kata melong (melihat dengan kekaguman) dan saredet (tergugah) yang artinya barang siapa yang melihat pertunjukan longser, maka hatinya akan tergugah. 
Longser yang penekanannya pada tarian disebut ogel atau doger. Sebelum longser lahir dan berkembang, terdapat bentuk teater tradisional yang disebut lengger. Kekhasannya ada lampu oncor atau obor dengan tiga buah sumbu. Alat musik pengiring yang digunakan biasanya gamelan baik gamelan pelog, salendro, atau degung.

g. Ketoprak
Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. 
Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak. Ketoprak juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung oleh pencipta ketoprak ditambah kendang dan seruling. Pada perkembangannya sudah ada pertunjukan ketoprak dengan menggunakan gamelan jawa.

h. Ludruk
Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang digelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari (cerita wong cilik), cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. 
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan masyarakat. Alat musik yang digunakan berupa gamelan jawa yang sekarang perkembangannya ditambah pula alat musik modern keybord karena sering diselingi hiburan menampilkan lagu-lagu campursari.

i. Lenong
Lenong adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya. 
Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.

j. Ubrug
Istilah ubrug berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). 
Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk. Selain berkembang di provinsi Banten, kesenian Ubrug pun berkembang sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan yang tentunya dipentaskan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Teater Ubrug pada awalnya dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda daun kelapa atau rubia. Untuk penerangan digunakan lampu blancong, yaitu lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar yang diletakkan di tengah arena.

C. Rangkuman

  1. Musik tari merupakan salah satu unsur yang menunjang dalam pertunjukan tari. Sehingga dapat dikatakan musik dalam tari adalah suatu pola ritmis yang dapat memberikan makna, struktur, dinamika, serta kekuatan gerakan tari. Coba kita bayangkan, gerak tari tanpa musik rasanya belum lengkap, sehingga unsur musik yang dinamakan ritme harus selalu dipertimbangkan agar gerak tersebut ingin bermakna, memiliki struktur, dinamika, serta kekuatan.
  2. Musik dalam tari dibedakan dalam tiga jenis, yakni; sebagai musik pengiring tari, sebagai musik ilustrasi, dan sebagai musik partner gerak.
  3. Musik pada pertunjukan teater bukan hanya sebagai “pelengkap” saja, akan tetapi mempunyai peranan, makna, dan fungsi yang sangat penting serta memegang peran inti dalam kelancaran sebuah pementasan teater, karena dengan penataan musik yang sesuai dengan tema cerita akan semakin menguatkan maksud dari skenario dan membantu aktor dalam memainkan sebuah adegan yang diperankan.
  4. Fungsi dan peranan musik dalam pertunjukan teater dalam urutannya sebagai; musik pembuka, musik penutup, musik pergantian babak, musik ilustrasi, musik soundtrack, musik soundtrack, musik penokohan, musik aksentuasi, musik setting, dan musik pelebur emosi.
  5. Pada perkembangannya jenis-jenis teater yang berkembang di Indonesia antara lain; teater rakyat, teater keraton, teater urban, dan teater kontemporer.

D. Penugasan

Praktek Kerja Mandiri
Setelah mencermati pembahasan materi di atas, lakukan kegiatan kerja mandiri dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Amatilah 2(dua) pertunjukan musik tradisional yang ada di daerahmu atau daerah lain di Indonesiayang berbeda yakni:
a. dalam pertunjukan musik sebagai pengiring tari, dan
b. dalam pertunjukan musik sebagai pengiring teater tradisional.
2. Buatlah catatan beberapa hal yang diperlukan pada saat kamu mengamati pertunjukan tersebut.
3. Tuliskan hasil catatan tersebut ke dalam format tabel (contoh di bawah) seperti judul karya, asal daerah, jenisnya, dan alat musik yang digunakan.
4. Buatlah kesimpulan perbedaan kedua pertunjukan musik tradisional tersebut menurut pendapat kamu.
5. Presentasikan hasil tulisanmu dengan cara:
a. Mempresentasikan di depan kelas apabila pembelajaran secara tatap muka, atau
b. Buatlah video presentasi dan kumpulkan kepada gurumu apabila pembelajaran dilaksanakan di rumah (Belajar Dari Rumah).
6. Kumpulkan tabel laporan hasil pengamatannya setelah kamu presentasikan.

Laporan Pengamatan
Pertunjukan Musik Tradisional
Nama Siswa : ...................................................
Kelas : ...................................................
Semester : ..............

E. Latihan Soal

Jawablah pertanyaan di bawah ini!
  1. Pada musik dapat difungsikan tidak hanya sebagai pertunjukan musik secara mandiri tetapi dapat difungsikan sebagai pengiring pertunjukan lainnya seperti pertunjukan tari. Coba jelaskan tiga jenis musik dalam pertunjukan tari!
  2. Pada perkembangannya terdapat beberapa jenis tari yang ada di Indonesia. Sebutkan jenis-jenis tari berdasarkan pola garapannya!
  3. Demikian halnya dalam pertunjukan teater, musik merupakan unsur penunjang yang penting dalam pertunjukannya. Sebutkan jenis-jenis musik dalam pertunjukan teater!
  4. Berdasarkan pendukungnya, sebutkan jenis-jenis pertunjukan teater yang berkembang di Indonesia!
  5. Sebutkan 5 pertunjukan teater tradisional dan asal daerah yang ada di Indonesia!

F. Penilaian Diri

Nama : ............................................................................
Kelas : .............................
Semester : ........

Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Pertunjukan Musik Tradisional Pengiring Tari dan Teater Tradisional Mapel Seni Budaya kelas 10 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 

#
Mengidentifikasi alat musik tradisional File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com


      Pencarian yang paling banyak dicari
      • pertunjukan musik tradisional adalah
      • ciri khas pertunjukan musik tradisional
      • apa saja yang harus dipersiapkan dalam pertunjukan musik tradisional
      • fungsi pertunjukan musik tradisional
      • pertunjukan musik tradisional jawa barat
      • tema pertunjukan musik tradisional
      • jenis pertunjukan musik
      • konsep pertunjukan musik tradisional
      • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022