ZCgRxn24sMSt1P8PT34NVVluf7C7ODQ8eSh7SrtI
Bookmark

Materi Menganalisis Unsur Pembangun Puisi Mapel Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA

Materi Menganalisis Unsur Pembangun Puisi Mapel Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA - Halo adik adik yang baik apa kabar? semoga dalam keadaan baik baik saja ya, nah pada kesempatan yang baik ini kakak ingin membagikan kepada adik adik mengenai materi yang sudah kakak siapkan, materi ini merupakan materi Bahasa indonesia yang dijelasakan pada pembahasan Menganalisis Unsur Pembangun Puisi untuk adik adik yang duduk dibangku kelas X SMA/MA, Tetap semangat yah.

Materi Menganalisis Unsur Pembangun Puisi Mapel Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA
Materi Menganalisis Unsur Pembangun Puisi Mapel Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan kalian mampu menganalisis unsur pembangun puisi dengan kritis dan semangat agar dapat menulis puisi yang kreatif, inovatif, dan benar.

B. Uraian Materi

1. Pengertian Puisi
Puisi merupakan bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.

2. Ciri-Ciri Puisi
a. Puisi Lama
Puisi Lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu sebagai berikut ini :
  1. Jumlah kata dalam 1 baris
  2. Jumlah baris dalam 1 bait
  3. Persajakan (rima)
  4. Banyak suku kata di tiap baris
  5. Irama

Ciri-Ciri Puisi Lama
  1. Tak diketahui nama pengarangnya
  2. Penyampaiannya yang bersifat dari mulut ke mulut sehingga merupakan sastra lisan.
  3. Sangat terikat akan aturan-aturan misalnya seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata ataupun rima.
b. Puisi Baru
Puisi Baru merupakan puisi yang tidak terikat lagi oleh aturan yang bentuknya lebih bebas daripada puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, ataupun rima.

Ciri-Ciri Puisi Baru
  1. Mempunyai bentuk yang rapi, simetris
  2. Persajakan akhir yang teratur
  3. Memakai pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain
  4. Umumnya puisi 4 seuntai
  5. Disetiap baris atasnya sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
  6. Ditiap gatranya terdiri dari dua kata (pada umumnya) : 4-5 suku kata
3. Jenis-Jenis Puisi
a. Puisi Naratif
Puisi naratif mengungkapkan suatu cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yakni balada dan romansa. Balada ialah puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Contohnya yaitu “Balada Orang-orang Tercinta” dan “Blues untuk Bonnie” karya WS Rendra. Romansa ialah jenis puisi cerita yang memakai bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang diselingi perkelahian dan petualangan.

b. Puisi Lirik
Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yakni elegi, ode, dan serenade.
  1. Elegi ialah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta.
  2. Serenada merupakan sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata “serenada” bermakna nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam 4 Kumpulan Sajak. Misalnya “Serenada Biru”, “Serenada Hitam”, “Serenada Merah Jambu”, “Serenada Kelabu”, “Serenada Ungu”, dan lain sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu menggambarkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa.
  3. Ode ialah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Ode banyak ditulis sebagai pemujaan terhadap tokoh- tokoh yang dikagumi. Contohnya adalah “Teratai” karya Sanusi Pane, “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan “Ode Buat Proklamator” karya Leon Agusta.

c. Puisi Deskriptif
Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatian. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif adalah satire dan puisi kritik sosial.
  1. Satire ialah puisi yang mengungkapkan perasaan ketidakpuasan penyair terhadap suatu keadaan dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.
  2. Puisi kritik sosial ialah puisi yang menyatakan ketidakpuasan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan atau orang tersebut. Kesan penyairan ini juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.
4. Unsur-Unsur dalam Puisi
a. Unsur intrinsik
Unsur intrinsik puisi merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam puisi dan memengaruhi puisi sebagai karya sastra. Yang termasuk unsur intrinsik puisi ialah diksi, imaji, majas, bunyi, rima, ritme, dan tema.

Baca juga - Soal Teks Negosiasi
  1. Diksi atau pilihan kata, Dalam membangun puisi, penyair hendaknya memilih kata dengan cermat dengan cara mempertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam suatu puisi keseluruhan.
  2. Daya bayang atau imaji, Yang dimaksud dengan daya bayang atau imaji ketika membangun puisi ialah penggunaan kata-kata yang konkret dan khas yang dapat menimbulkan imaji visual, auditif, ataupun taktil.
  3. Gaya bahasa atau majas, Gaya bahasa atau majas atau bahasa figuratif dalam puisi ialah bahasa yang dipakai penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa atau memakai kata-kata yang bermakna kiasan atau lambang.
  4. Bunyi, Bunyi dalam puisi mengacu pada dipakainya kata-kata tertentu sehingga menimbulkan efek nuansa tertentu.
  5. Rima, Rima ialah persamaan bunyi atau perulangan bunyi dalam puisi yang bertujuan untuk menimbulkan efek keindahan.
  6. Ritme, Ritme dalam puisi adalah dinamika suara dalam puisi agar tidak dirasa monoton bagi penikmat puisi.
  7. Tema, Tema dalam puisi ialah ide atau gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui puisinya.

b. Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik puisi merupakan unsur-unsur yang berada di luar puisi dan memengaruhi kehadiran puisi sebagai karya seni. Adapun yang termasuk dalam unsur ekstrinsik puisi ialah aspek historis, psikologis, filsafat, dan religius.
  1. Aspek historis merupakan unsur-unsur kesejarahan atau gagasan yang terkandung dalam puisi.
  2. Aspek psikologis merupakan aspek kejiwaan pengarang yang termuat dalam puisi.
  3. Aspek filsafat, beberapa ahli menyatakan bahwa suatu filsafat berkaitan erat dengan puisi atau karya sastra keseluruhan. Beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa filsafat dan karya sastra dalam hal ini puisi, tidak saling terkait satu sama lain.
  4.  Aspek religius dalam puisi mengacu pada tema yang umum diangkat dalam puisi oleh pengarang.

5. Struktur dalam Puisi
a. Struktur Batin
Struktur batin puisi bisa disebut juga sebagai hakikat suatu puisi yang terdiri dari beberapa hal, seperti :

1) Tema/ Makna (sense)
Tema/Makna (sense) adalah unsur utama dalam puisi karena dapat menjelaskan makna yang ingin disampaikan oleh seorang penyair yang medianya berupa bahasa.

2) Rasa (feeling)
Rasa (feeling) adalah sikap sang penyair terhadap suatu masalah yang diungkapkan dalam puisi. Pada umumnya, ungkapan rasa ini berkaitan dengan latar belakang sang penyair, misalnya agama, pendidikan, kelas sosial, jenis kelamin, pengalaman sosial, dan lain-lain.

3) Nada (tone)
Nada (tone) adalah sikap seorang penyair terhadap audiensnya serta sangat berkaitan dengan makna dan rasa. Melalui nada, seorang penyair dapat menyampaikan suatu puisi dengan nada mendikte, menggurui, memandang rendah, dan sikap lainnya terhadap audiens.

4) Tujuan (intention)
Tujuan (intention)/maksud/amanat adalah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh sang penyair kepada audiensnya.

b. Struktur Fisik
Struktur fisik suatu puisi bisa disebut juga dengan metode penyampaian hakikat suatu puisi, yang terdiri dari beberapa hal berikut ini :

1) Perwajahan Puisi (tipografi)
Tipografi ialah bentuk format suatu puisi, seperti pengaturan baris, tepi kanan-kiri, halaman yang tidak dipenuhi kata-kata. Perwujutan puisi ini sangat berpengaruh pada pemaknaan isi puisi itu sendiri.

2) Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata yang dilakukan oleh seorang penyair dalam mengungkapkan puisinya sehingga didapatkan efek sesuai dengan yang diinginkan. Pemilihan kata pada puisi sangat berkaitan dengan makna yang ingin disampaikan oleh si penyair.

3) Imaji
Imaji ialah susunan kata dalam puisi yang bisa mengungkapkan pengalaman indrawi sang penyair (pendengaran, penglihatan, dan perasaan) sehingga dapat memengaruhi audiens seolah-olah merasakan yang dialami sang penyair.
 
4) Kata Konkret
Kata konkret merupakan bentuk kata yang bisa ditangkap oleh indra manusia sehingga menimbulkan imaji. Kata-kata yang dipakai umumnya berbentuk kiasan (imajinatif), misalnya penggunaan kata “salju” untuk menjelaskan kebekuan jiwa.

5) Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan efek dan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif sehingga mengandung banyak makna. Gaya bahasa ini bisa disebut juga dengan majas (metafora, ironi, repetisi, pleonasme, dan lain-lain).

6) Rima/ Irama
Irama/ rima ialah adanya persamaan bunyi dalam penyampaian puisi, baik di awal, tengah, maupun akhir puisi. Beberapa bentuk rima yakni :
  • Onomatope, yakni tiruan terhadap suatu bunyi. Misalnya ‘ng’ yang mengandung efek magis.
  • Bentuk intern pola bunyi, yakni aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi, dan sebagainya.
  • Pengulangan kata, yakni penentuan tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemah suatu bunyi.
Contoh Analisis Unsur Unsur dalam Puisi

Baca dan cermatilah puisi berikut ini dengan saksama!

Hujan Bulan Juni
Karya Sapardi Djoko Darmono

Tak ada yang lebih tabah 
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya 
Kepada pohon yang berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak 
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya 
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif 
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan 
Diserap akar pohon bunga itu

1. Analisis struktur batin puisi “Hujan Bulan Juni”
Struktur batin merupakan struktur tak kasat mata yang ikut membangun puisi dari dalam. Struktur batin membangun dan memberi ruh pada puisi sehingga puisi dapat menjadi media penyalur makna akan sesuatu. Unsur-unsur tersebut antara lain, sebagai berikut:
a. Tema
Berdasarkan hasil analisis puisi struktur fisik puisi “Hujan Bulan Juni” dapat disimpulkan tema dasar dari puisi ini mengenai perasaan yang tidak tersampaikan dan tertahan. Perasaan pengarang berupa rasa rindu atau cinta yang disembunyikan penyair kepada tambatan hatinya.

b. Rasa/Perasaan
Perasaan adalah sikap penyair terhadap inti masalah dalam puisi. Perasaan penyair dalam puisinya diketahui melalui gambaran ungkapan yang digunakan dalam setiap unsur struktur fisik yang dikandung dalam puisi untuk menyampaikan suasana hati penyair yang harus dipahami pembaca. Keseluruhan struktur fisik puisi ini menggambarkan perasaan dan suasana hati penyair. Pilihan kata, versifikasi, majas, pencitraan, dan tipografi yang sengaja digunakan dalam puisi ini secara jelas menunjukannya. Perasaan rindu atau cinta yang ditahan, tidak diungkapkan kepada seseorang. Penyair menghadapinya dengan berbesar hati untuk tabah menyimpannya dan dengan bijak berusaha untuk ,menghilangkan rasa yang tengah ia simpan.

c. Tone/Nada
Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca (Waluyo, 2005:37). Hal ini terkait pokok persoalan yang diungkapan dalam puisi. Nada dimaksudkan menyampaikan kisah yang ingin disampaikan penyair tentang permasalahan yang pernah dialami penyair.
Nada puisi “Hujan Bulan Juni” termasuk nada sendu karena puisi ini secara fisik seperti penjelasan sebelumnya, puisi ini merupakan lambang perasaan yang ditahan dan pada akhirnya penyair menyerah dan memilih untuk tidak menyampaikan perasaannya.


d. Amanat
Pesan atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat puisi disimpulkan dari sikap dan pengalaman pembaca yang tentunya masih berkaitan dengan tema dan isi yang dikemukakan penyair.
Puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono memiliki amanat tentang ketabahan, kearifan, dan kebijaksanaan yang harus dimiliki seseorang dalam keadaan berat sekalipun. Puisi ini juga mengamanatkan agar tidak berlarut-larut dalam perasaan sedihnya, agar segera melupakan perasaan yang membuatnya tidak nyaman.

2. Analisis struktur fisik puisi “Hujan Bulan Juni”
a. Tipografi
Tipografi adalah tatanan larik atau bait puisi yang dibentuk sedemikian rupa untuk mendukung isi dari puisi. Tipografi atau perwajahan puisi merupakan bentuk visual untuk memperindah bentuk puisi dan berfungsi sebagai anasir hiasan bentuk serta memberi petunjuk bagaimana seharusnya puisi itu dibaca.
Puisi “Hujan Bulan Juni” tidak memiliki tipografi khusus. Penulisan puisi ini tidak memiliki kriteria tipografi berbentuk nyeleneh atau berbeda. Teknik penulisan seperti pada umumnya menggunakan rata kiri seperti yang tertera di atas.

b. Majas/bahasa kiasan
Sesuai dengan hakikat puisi sebagai pemusatan dan pemadatan ekspresi, bahasa kias dalam puisi merupakan sarana pengendepanan sesuatu yang ganda menjadi tunggal. Kata akan mengalami pemadatan dan dibiaskan dari makna realistisnya sehingga kata-kata mengalami perluasan makna.
Pemadatan dan pembiasan ini biasanya menggunakan majas sebagai medianya. Adapun macam-macam majas antara lain, metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antithesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Majas-majas yang sifatnya lugas ini banyak disematkan ke dalam puisi untuk membangkitkan tanggapan atas pembaca. Puisi “Hujan Bulan Juni” menggunakan sebagian dari majas-majas di atas, antara lain:

1) Majas personifikasi
Merupakan majas yang memanusiakan benda mati. Benda-benda mati ini digambarkan seolah-olah dapat melakukan aktivitas manusia.
...hujan bulan juni 
Dihapusnya jejak-jejak..
Pada larik ini seolah-olah bulan juni dapat melakukan pekerjaan manusia yaitu menghapus jejak-jejak.
…hujan bulan juni
…tak terucapkan
Potongan larik ini memberi gambaran seolah-olah hujan bulan Juni memiliki kemampuan untuk berbicara dan menyimpan pembicaraannya.
2) Majas metonimia
Merupakan majas yang menggunakan nama ciri atau nama benda yang dikaitkan dengan orang atau sesuatu sebagai penggantinya. Hujan bulan juni, merupakan simbolik rasa rindu dan cinta yang tak sempat diucapkan oleh penyair. Pohon berbunga itu merupakan simbol tambatan hati penyair.

c. Citraan
Citraan bagi penyair merupakan kata atau serangkaian kata yang digunakan untuk membangun komunikasi estetik atau untuk menyampaikan pengalaman inderawinya. Citraan bagi pembaca merupakan pengalaman inderawi yang ditimbulkan oleh sebuah kata atau serangkaian kata, sehingga pembaca seolah-olah ikut merasakan, mendengar, menyentuh , dan melihat apa yang digambarkan oleh penyair.
Puisi “Hujan Bulan Juni” memiliki banyak citraan bahkan hampir seluruhnya merupakan citraan karena puisi ini membawa pembaca seolah-olah ikut melihat dan mendengar akan kehadiran aktivitas bulan Juni. Salah satu contoh pada bait di bawah ini.

Tak ada yang lebih bijak 
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya 
Yang ragu-ragu di jalan itu

Membaca bait ini seakan pembaca dibawa pada dimensi hujan bulan juni yang hidup. Pembaca juga seolah-olah juga melihat dihapusnya jejak kaki di jalan.

d. Diksi
Diksi yaitu pemilihan kata, kata-kata dalam puisi haruslah dipilih sedemikian rupa agar menimbulkan efek imaji estetik pada pembaca. Pemilihan kata dalam puisi dengan mempertimbangkan makna, komposisi bunyi, kedudukan kata dengan kata lain, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi.
Apabila dilihat dan dipahami secara mendalam, pilihan kata yang terdapat pada puisi “Hujan Bulan Juni” merupakan kata-kata yang sederhana, tidak rumit, dan dekat dengan realitas hidup. Meskipun demikian, kesederhanaan ini tidak berarti mengurangi kualitas estetik dan isi, sebaliknya kesederhanaan diksi yang dipilih oleh penyair mampu membangkitkan pengalaman tersendiri bagi pembaca. Puisi ini dengan kesederhanaan diksi yang disajikan memiliki tafsiran yang sangat luas.

Tak ada yang lebih tabah 
Dari hujan bulan juni

Kedua baris puisi di atas merupakan penjelasan tentang rasa yang berusaha ditahan. Larik pertama secara gamblang mengungkapkan ketabahan dalam menahan sesuatu. Larik kedua menyajikan kata yang kontradiktif, hujan dan bulan Juni. Pada umumnya berdasarkan penanggalan musim di Indonesia bulan Juni merupakan bulan kemarau, terlebih mengingat musim pada saat puisi ini muncul masih berjalan teratur. Apabila bulan Juni disandingkan dengan kata hujan, dapat berarti ketabahan seseorang yang menahan perasaannya diibaratkan hujan yang harus menahan dirinya untuk tidak muncul di musim kemarau. Hujan haruslah menahan bulir-bulirnya agar tidak jatuh.

Dirahasiakannya rintik rindunya
…pada pohon yang berbunga

Kata rintik rindunya jelas merupakan gambaran rasa yang tengah dirasakan penyair. Pohon yang berbunga diindikasikan merupakan tambatan hati sang penyair atau muara dari semua “rasa” yang dimiliki penyair. Kata dirahasiakannya mempertegas bahwa penyair tengah memendam sesuatu.

Dihapusnya jejak-jejak kakinya 
Yang ragu-ragu dijalan itu

Kedua baris tersebut menunjukkan bahwa penyair merasa ragu-ragu karena suatu hal, ia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Kata dihapusnya dapat diartikan penulis mulai menyerah dan berhenti meneruskan perasaannya, dipertegas dengan kata jejak-jejak kakinya yang merupakan rasa rindu dan cintanya.

…arif
Dibiarkanya yang tak terucapkan 
Diserap akar pohon bunga itu

Ketiga larik tersebut memberi penegasan pada larik-larik sebelumnya, bahwa penyair menyerah dan beritikad untuk tidak menunjukkan perasaannya. Penyair dengan sangat arif berkeinginan untuk melupakan rasa rindu dan cintanya itu.
 

e. Versifikasi (rima/Irama)
Berhubungan dengan rima, ritme, dan mentrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Persamaan bunyi membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca. Puisi “Hujan Bulan Juni” memiliki rima yang bebas tidak ada pengulangan bunyi tertentu. Bait pertama berima a-i-au, bait kedua berima a-i-a-u, bait ketiga berima i-i-a-u. apabila dilihat dari kata perkata, bunyi vokal a digunakan untuk menggambarkan rasa optimis, vokal i digunakan untuk menggambarkan kesedihan, dan vokal u digunakan untuk menggambarkan kegalauan.

Apabila ditarik kaitan antara fungsi vokal sebagai penanda suasana, dengan rima pada puisi ini. Rima puisi ini menimbulkan gambaran suasana sedih dan gundah dari penyair karena rindu dan cintanya yang tak tersampaikan. Vokal a yang ada menunjukkan bahwa penyair juga tengah berusaha untuk bangkit menyemangati diri sendiri dan berusaha tidak berlarut-larut dalam kekalutannya.
Ritme merupakan tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemahnya bunyi yang membentuk suatu rangkaian irama yang indah pada puisi. Ritme dibagi menjadi tiga jenis :
  1. Andante : kata yang terdiri dari dua vokal, menimbulkan irama yang lambat
  2. Allegro : kata yang terdiri dari tiga vokal, menimbulkan irama sedang
  3. Motto allegro : kata yang terdiri dari empat vokal, menimbulkan irama cepat.
Puisi “Hujan Bulan Juni” perlu diuraikan kata perkata untuk menemukan ritme irama secara tekstual, berdasarkan pembagian jenis ritme seperti di atas maka didapati hasil sebagai berikut :
Vokal yang terdiri dari 1-2 kata terdapat 45 kata Vokal yang terdiri dari 3 kata terdapat 4 kata Vokal yang terdiri dai ≥4 kata terdapat 4 kata

Dapat disimpulkan bahwa vokal 1-2 kata mendominasi isi puisi sehingga dapat dipastikan ritme utama dalam puisi ini adalah ritme andante, ritme dengan tempo lambat. Hal ini seolah menambah kesan kerahasiaan yang sendu dalam puisi. Mentrum merupakan efek magis dari bunyi-bunyian  yang ditimbulkan dari kata perkata dalam puisi.
Versifikasi yang terdapat pada puisi ini seolah memberi napas nuansa dalam puisi sehingga puisi lebih hidup. Efek dari bunyi-bunyian itu membawa efek tersendiri bagi pembaca. Rima, ritme, dan mentrum pada puisi ini seakan- akan membawa pembaca pada suasana sendu dibuktikan dengan dominasi vokal a-i-u. Ritme lambat yang diciptakan menambah kesan sendu juga menyiratkan ketegaran.

Sudahkah kalian paham dengan penjelasan yang terdapat dalam modul? Sudah pahamkah dengan contoh analisisnya? Baiklah kalau sudah jelas dan paham, Mari kita coba untuk belajar mempraktikkan menulis puisi.
Coba kerjakanlah latihan-latihan soal dan evaluasinya.
Sebagai materi pengayaan simaklah isi link berikut ini! https://youtu.be/x_rkQNt7uBs

C. Rangkuman

  1. Puisi merupakan bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.
  2. Puisi terbagi menjadi 2 yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi lama adalah puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan. Sedangkan puisi baru adalah puisi yang sudah tidak terikat lagi oleh aturan-aturan sehingga lebih bebas dibandingkan puisi lama.
  3. Puisi terbagi menjadi tiga jenis yaitu puisi naratif, puisi lirik yang terdiri dari elegi, ode, dan serenade, dan puisi deskriptif yang terdiri dari satire dan puisi kritik sosial.
  4. Unsur-unsur dalam puisi meliputi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam puisi yaitu diksi, imaji, majas, bunyi, rima, ritme, dan tema. Sedangkan unsur ekstrinsik puisi yaitu aspek historis, aspek psikologis, aspek filsafat, dan aspek religius.
  5. Struktur dalam puisi dibagi menjadi dua yaitu struktur batin dan struktur fisik. Struktur batin terdiri dari tema, rasa, nada, dan tujuan sedangkan struktur fisik terdiri dari tipografi, diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, dan rima.

D. Latihan Soal

Bacalah puisi berikut!

Sajadah Panjang

Ada sajadah panjang terbentang 
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang 
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini 
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu 
Mengukur jalanan seharian 
Begitu terdengar suara azan 
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang 
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba 
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.
(Taufiq Ismail)
 

1. Tuliskan imaji yang terdapat dalam puisi tersebut!
2. Tuliskan makna bait ke-3 puisi tersebut!
3. Bacalah puisi di bawah ini!

Museum Perjuangan

Susunan batu yang bulat bentuknya 
berdiri kukuh menjaga senapan tua 
peluru menggeletak di atas meja menanti 
putusan pengunjungnya.

Aku tahu sudah, di dalamnya 
tersimpan darah dan air mata kekasih 
Aku tahu sudah, di bawahnya terkubur
kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali 
ibu-ibu direnggut cintanya 
dan tak pernah kembali

Bukalah tutupnya
senapan akan kembali berbunyi 
meneriakkan semboyan 
Merdeka atau Mati.

Ingatlah, sesudah sebuah perang selalu 
pertempuran yang baru melawan 
dirimu.
(Kuntowijoyo)
 

Tulislah makna yang terdapat dalam puisi “Museum Perjuangan”!

Kunci Jawaban dan Pembahasan Latihan Soal Kegiatan 1

1. Tuliskan imaji yang terdapat dalam puisi tersebut!
2. Tuliskan makna bait ke-3 puisi tersebut!
Makna yang terkandung dalam bait ke-3 puisi tersebut adalah tentang manusia yang hidup tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga tentang manusia yang tidak dapat terlepas dari kebutuhan hidup di dunia. Setelah manusia mencari rezeki untuk kebutuhan hidupnya, manusia tetap harus kembali kepada Tuhannya.

3. Tulislah makna yang terdapat dalam puisi “Museum Perjuangan”!
Makna yang terdapat dalam puisi Museum Perjuangan karya Kuntowijoyo adalah penjelasan tentang perjuangan seorang pahlawan. Ia harus pergi untuk berperang, siap untuk tetap hidup atau mati demi kata merdeka untuk negerinya. Perjuangan pahlawan harus selalu terus diingat sebagai momentum generasi muda untuk berkontemplasi dan merefleksikan diri dalam hidup bermasyarakat dan bernegara sejauh mana generasi muda mampu berkarya dan berkreasi dalam menumbuhkan kebaikan serta mampu membuat inovasi untuk ikut serta dalam memajukan bangsa dan negara. Selain itu, puisi Museum Perjuangan juga seolah mengingatkan dan menasihati kita bersama bahwa sesudah kita merdeka, sesudah kita selesai berperang, sesungguhnya musuh kita bukan orang lain, tetapi musuh kita adalah diri kita sendiri.

E. Penilaian Diri

Setelah kalian belajar bertahap dan berlanjut melalui kegiatan belajar 1, berikut diberikan tabel untuk mengukur diri kalian terhadap materi yang sudah kalian pelajari. Jawablah sejujurnya terkait dengan penguasaan materi modul ini, dan isilah tabel refleksi diri terhadap pemahaman materi di tabel berikut dan (Centanglah).

Tabel Refleksi Diri Pemahaman Materi

Jika menjawab “TIDAK” pada salah satu pertanyaan di atas, Pelajarilah kembali materi tersebut dan pelajari ulang kegiatan belajar 1 yang sekiranya perlu kalian ulang. Jangan putus asa untuk mengulang lagi!. Apabila kalian menjawab “YA” pada semua pertanyaan, maka lanjutkan ke Kegiatan Pembelajaran 2.
Tetap semangat dan bahagia ya!

Baca juga - Soal Teks Negosiasi

Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Menganalisis Unsur Pembangun Puisi Mapel Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 


#
Menganalisis Unsur Pembangun Puisi File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com


      Pencarian yang paling banyak dicari
      • contoh makna puisi
      • contoh analisis puisi
      • contoh isi puisi
      • makna adalah
      • isi puisi adalah
      • berikut ini adalah bagian dari irama dalam puisi kecuali
      • makna puisi aku
      • apakah yang dimaksud dengan tipografi dalam puisi
      • contoh analisis unsur pembangun puisi
      • unsur pembangun batin puisi
      • struktur batin puisi
      • perlukah memahami unsur-unsur pembangun puisi ketika akan menulis puisi
      • contoh unsur-unsur puisi
      • unsur batin puisi
      • unsur pembangun puisi brainly
      • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022

      Post a Comment

      Post a Comment