ZCgRxn24sMSt1P8PT34NVVluf7C7ODQ8eSh7SrtI
Bookmark

Materi Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA

Materi Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA - Halo adik adik yang baik apa kabar? semoga dalam keadaan sehat sehat saja ya, nah pada kesempatan yang baik ini kakak ingin membagikan kepada adik adik mengenai materi yang telah kakak susun yaitu materi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk adik adik kelas XII SMA/MA tentang materi Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial. Semoga bermanfaat yah.

Materi Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA
Materi Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA

A. Tujuan Pembelajaran 

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini diharapkan  dapat menganalisis unsur kebahasaan Teks Editorial dengan kritis dan semangat agar dapat merancang teks editorial yang kreatif, inovatif, serta beranggungjawab. 

B. Uraian Materi 

Kalian sudah mengerti kan struktur teks editorial? Teks editorial berstruktur pernyataan pendapat (thesis statement), argumentasi (arguments), dan pernyataan ulang pendapat (reiteration). Kalian pasti masih ingat juga kaidah teks editorial. Pada topik ini kaidah akan kembali kita perdalam agar kalian mampu menganalisis bahasa teks editorial. Pemahaman kaidah bahasa sangat diperlukan dalam kemahiran menganalisis bahasa. 
Sebagai salah satu ragam bahasa jurnalistik, teks editorial/opini mengandung unsur-unsur bahasa yang dapat mengekspresikan sikap eksposisi. Teks eksposisi adalah salah satu jenis teks yang dibahas pada kelas 10 dalam kurtilas. Teks ini berfungsi untuk memaparkan dan menjelaskan suatu informasi. Adanya jenis teks ini dalam teks editorial menunjukkan bahwa teks editorial merupakan teks yang bergenre makro. 

Ada banyak kaidah kebahasaan yang digunakan dalam membuat teks makro, termasuk teks editorial. Berikut adalah uraian beberapa kaidah kebahasaan yang kita temukan dalam teks editorial. 

1. Adverbia frekuentatif dan Modalitas 
Adverbia frekuentatif adalah adverbia yang mempertegas ekspresi kepastian. Dalam tradisi struktru fungsional linguistik (SFL), hal ini sering juga disebut modalitas. Contoh adverbia frekuentatif adalah selalu, biasanya, sering, kadangkadang, jarang, dan kerap. 

2. Konjungsi 
Konjungsi yang digunakan pada teks editorial adalah konjungsi eksternal temporal, konjungsi internal penegasan, dan konjungsi kausalitas/sebab-akibat. Berikut adalah contoh ketiga konjungsi tersebut. 


3. Verba/kata kerja 
Verba dalam linguistik struktural harus dianalisis berdasarkan struktur klausa. Hal ini disebabkan skema informasi diterapkan pada tataran klausa. Kita tidak bisa menerapkan verba hanya pada tataran jenis kata semata. Halliday membagi verba menjadi enam jenis proses: material, tingkah laku (behavioural), verbal, mental, relasional, dan eksistensional. Dalam teks editorial, terdapat tiga jenis proses verba, yaitu material, mental, dan relasional. 
A. Verba material  
Verba ini menekankan adanya proses dalam melakukan sesuatu. Proses material membutuhkan dua partisipan yang disebut (1) pelaku dan (2) yang dikenai pelaku. Contohnya adalah sebagai berikut. 
 
 
B. Verba mental 
Verba mental adalah verba yang menjelaskan proses dalam merasakan. 
Ada tiga hal yang dijelaskan dalam proses ini, yaitu 
  1. Persepsi: (melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba) 
  2. Afeksi: (suka, takut, benci) 
  3. Kognisi: (berpikir, memahami, mengetahui)  
Dalam proses mental terdapat dua partisipan yang disebut yang merasakan (perasaan sadar untuk melihat, merasakan, atau berpikir) dan fenomena (hal yang dirasakan atau dipikirkan) Perhatikan contoh berikut! 


  
C. Proses relasional  
Verba relasional adalah proses untuk menjadi sesuatu 
Terdapat tiga tipe proses relasional, yaitu  
  1. Intensif a adalah b (membentuk hubungan persamaan di antara dua entitas)  
  2. Keadaan a ada pada b (mendefinisikan suatu entitas berada pada suatu tempat, waktu, atau sikap)  
  3. Posesif/kepemilikan a memiliki b (mengidentifikasi bahwa satu entitas memiliki yang lain)  
Setiap tipe proses di atas menciptakan dua model:  
a. Atributif (b adalah atributif untuk a)  
Proses ini membutuhkan dua partisipan, yaitu penanda dan 
petanda atau penyandang dan sandangan  
Contoh:   



  
b. Identifikatif (b adalah identitas bagi a) 
Proses ini membutuhkan dua partisipan, yang disebut token dan yang teridentifikasi dan partisipan nilai dan pengidentifikasi.  
Contoh: 


4. Modalitas 
Salah satu ciri kebahasaan teks editorial adalah adanya penggunaan kalimat pendapat dan pandangan seorang penulis terhadap suatu permasalahan (tesis). Untuk menunjukkan hal ini, teks editorial membutuhkan ciri kebahasaan yang lain, yaitu modalitas.  

Modalitas adalah cara penulis menyatakan sikap dalam sebuah komunikasi. Beberapa bentuk modalitas di antaranya adalah memang, niscaya, pasti, sungguh, sangat, tentu, tidak, bukan (untuk menyatakan kepastian), agaknya, barangkali, mungkin, rasanya, rupanya (untuk menyatakan kesangsian), semoga, mudahmudahan (menyatakan keinginan), jangan (larangan), mustahil (keheranan). 

C. Rangkuman 

Kita dapat menganalisis bahasa teks editorial dengan cara memahami ciri kebahasaan teks editorial/opini. Ciri kebahasaan tersebut adalah adverbia frekuentatif, verba material, verba mental, verba relasional, konjungsi, dan modalitas. 

D. Penugasan Mandiri  

1. Bacalah teks editorial yang berjudul " Kado Tahun Baru ". Kemudian  analisislah kaidah kebahasaannya. 
 
Kado Tahun Baru  
Pertamina mengirim kado Tahun Baru yang pahit kepada masyarakat. Menaikkan harga elpiji tabung 12 kg lebih dari 50 persen. Akibatnya sampai di tingkat konsumen harganya menjadi Rp125.000,00 hingga Rp130.000,00. Bahkan di lokasi yang relatif jauh dari pangkalan, mencapai Rp150.000,00—Rp200.000,00. 
Sungguh, kenaikan harga itu merupakan kado yang tidak simpatik, tidak bijak, dan tidak logis. Masyarakat sebagai konsumen menjadi terkaget-kaget karena kenaikan tanpa didahului sosialisasi. Pertamina memutuskan secara sepihak seraya mengiringinya dengan alasan yang terkesan logis. Merugi Rp22 triliun selama 6 tahun sebagai dampak kenaikan harga di pasar internasional serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Kenaikan harga itu mengharuskan Presiden Republik Indonesia yang sedang melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur meminta Wakil Presiden Republik Indonesia menggelar rapat mendadak dengan para menteri terkait. Mendengarkan penjelasan Direksi Pertamina dan pandangan Menko Ekuin, yang kesimpulannya dilaporkan kepada Presiden. Berdasar kesimpulan rapat itulah, Presiden kemudian membuat keputusan harga elpiji 12 kg yang diumumkan pada Minggu kemarin. 

Kita mengapresiasi langkah cekatan pemerintah dalam mengapresiasi kenaikan harga elpiji non-subsidi 12 kg itu seraya mengiringinya dengan pertanyaan. Benarkah pemerintah tidaktahu atau tidakdiberi tahu mengenai rencana Pertamina menaikkan secara sewenang-wenang. Pertamina merupakan perusahaan negara yang diamanati undang-undang sebagai pengelola minyak dan gas bumi untuk sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Rasanya mustahil kalau pemerintah, dalam hal ini Menko Ekuin dan Menteri BUMN tidak tahu, tidak diberi tahu serta tidak dimintai pandangan, pendapat, dan pertimbangannya. 
Kalau dugaan kita yang seperti itu benar adanya, bisa saja di antara kita menengarai langkah pemerintah itu sebagai reaksi semu. Reaksi yang muncul sebagai bentuk kekagetan atas reaksi keras yang ditunjukkan pimpinan DPR RI, DPD RI, dan masyarakat luas. Malah boleh jadi ada politisi yang mengategorikannya sebagai reaksi yang cenderung bersifat pencitraan sehingga terbangun kesan bahwa pemerintah memperhatikan kesulitan sekaligus melindungi kebutuhan rakyat. 

Kita tidak bisa menerima sepenuhnya alasan merugi Rp22 triliun selama 6 tahun menjadi regulator elpiji sehingga serta-merta Pertamina menaikkan harga elpiji? Dalam peran dan tugasnya yang mulia inilah Pertamina tidak bisa semata-mata menjadikan harga pasar dunia sebagai kiblat dalam membuat keputusan. Sebab di sisi lain perusahaan memperoleh keuntungan besar atas hasil tambang minyak dan gas yang dieksploitasi dari perut bumi Indonesia. 

Keuntungan besar itulah yang seharusnya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Caranya dengan mengambil atau menyisihkan sepersekian persen keuntungan untuk menyubsidi kebutuhan bahan bakar kalangan masyarakat menengah ke bawah. 
 
Sumber: Kedaulatan Rakyat 

Baca juga - Soal Struktur dan Kebahasaan Teks Editorial
 
2. Bacalah beberapa berita di media massa baik cetak maupun elektronik!  Buatlah kesimpulan dari informasi yang menurutmu aktual, kontroversial, dan fenomenal, kemudian rancanglah sebuah teks editorial berdasarkan struktur yang tepat! 
........................................................................................

E. Latihan Soal  

1. Bacalah teks berikut 
Gaya hidup bersepeda di Inggris ternyata mampu memberikan keuntungan perekonomian di sana sebesar 3 miliar poundsterling dalam hal pariwisata. Dalam hal dana pengeluaran kesehatan masyarakat, negara itu mampu menghemat 52 juta poundsterling. Dalam hal pengeluaran yang lain seperti transportasi, negara dapat menghemat 200 juta poundsterling. Dengan keuntungan yang banyak semacam itu, pemerintah Indonesia seharusnya mengeluarkan kebijakan yang dapat meningkatkan pengguna gaya hidup ini. Sebagai contoh, pemerintah bisa memperbanyak jalur transportasi khusus sepeda. 
Verba material yang terdapat pada teks di atas adalah .… 
A. memberikan, menghemat, mengeluarkan, memperbanyak 
B. memberikan, pengeluaran, kesehatan, keuntungan 
C. bersepeda, memberikan, mengeluarkan, menghemat 
D. memberikan, meningkatkan, memperbanyak, menghemat 
E. memberikan, meningkatkan, pengeluaran, keuntungan 

Baca juga - Soal Nilai-nilai Dalam Buku Pengayaan

 
2. Berikut ini kalimat yang mengandung verba relasional adalah …. 
A. Kita patut menyadari bahwa Komisi dibentuk lebih dari satu dasawarsa lalu untuk mengatasi mandulnya pemberantasan korupsi oleh oknum kepolisian dan kejaksaan. 
B. Kedua lembaga itu disinyalir merupakan tempat oknum aparat sehingga tidak mau bersungguh-sungguh memberantas korupsi. 
C. Itulah sebabnya Panitia Seleksi semestinya tak risau jika hubungan antara KPK, polisi, dan jaksa tidak harmonis. 
D. Ketiganya memang selayaknya dibiarkan berkompetisi. 
E. Konflik yang dialami KPK dengan kepolisian semestinya memperkuat tekad Panitia Seleksi untuk mencari kandidat pemimpin yang tak mudah goyah. 
 
3. Bacalah teks berikut! 
Menambah jumlah negara sahabat yang diberi fasilitas bebas visa memang sangat menarik dan menguntungkan karena dengan kebijakan ini, diharapkan jumlah wisatawan mancanegara yang berplesiran ke Indonesia semakin meningkat. Akan tetapi, tanpa diikuti oleh peningkatan industri wisata, jangan harap peningkatan jumlah wisatawan akan terwujud. Salah satu cara meningkatkan industri pariwisata adalah dengan perbaikan infrastruktur.
Jumlah konjungsi yang digunakan pada teks tersebut adalah …. 
A. 5 
B. 4 
C. 3 
D. 2 
E. 1 


 
4. Rendra melihat demontrasi mahasiswa itu dari dalam mobil. 
Kata yang mengandung verba mental yang digunakan pada kalimat di atas adalah.… 
A. Rendra 
B. mobil 
C. melihat 
D. demonstrasi 
E. mahasiswa 
 
5. Menambah jumlah negara sahabat yang diberi fasilitas bebas visa memang sangat menarik dan menguntungkan karena dengan kebijakan ini, diharapkan jumlah wisatawan mancanegara yang berplesiran ke Indonesia semakin meningkat. 
Ciri kebahasaan berupa modalitas terlihat pada kata…. 
A. menambah 
B. diharapkan 
C. meningkat 
D. menarik 
E. sangat 

Baca juga - Soal Pandangan Pengarang Terhadap Kehidupan Dalam Novel

Kunci Latihan Soal 
1. A
Penjelasan  :
Verba material adalah verba yang menekankan tindakan fisik/proses dalam melakukan sesuatu. Ciri verba material adalah adanya dua partisipan, yaitu (1) agen dan (2) tujuan atau yang dikenai proses. Untuk melihat jenis verba berdasarkan proses yang dikemukakan Halliday, kita harus menganalisisnya berdasarkan tataran klausa. Berdasarkan hal tersebut, verba material yang dimaksud adalah memberikan, menghemat, mengeluarkan, memperbanyak. Sementara itu, kata kesehatan, keuntungan, adalah kata benda (nomina), dan kata bersepeda dalam teks berkedudukan sebagai atribut kelompok nomina (frasa).
2. B
Penjelasan : 
Dalam bahasa Indonesia, verba relasional dapat dicirikan dengan penggunaan kopula: adalah dan merupakan, proses sebagai sesuatu: menjadi, dan kepemilikan: memiliki. Berdasarkan hal tersebut, kita dapat memahami bahwa verba relasional terdapat kalimat Kedua lembaga itu disinyalir merupakan tempat oknum aparat sehingga tidak mau bersungguh-sungguh memberantas korupsi. 
Mari perhatikan kalimat lainnya. 
  • Kita patut menyadari bahwa Komisi dibentuk lebih dari satu dasawarsa lalu untuk mengatasi mandulnya pemberantasan korupsi oleh oknum kepolisian dan kejaksaan. (memiliki verbal mental menyadari) 
  • Itulah sebabnya Panitia Seleksi semestinya tak risau jika hubungan antara KPK, polisi, dan jaksa tidak harmonis.(bukan kalimat verba) 
  • Ketiganya memang selayaknya dibiarkan berkompetisi. (memiliki verba material dibiarkan) - Konflik yang dialami KPK dengan kepolisian semestinya memperkuat tekad Panitia Seleksi untuk mencari kandidat pemimpin yang tak mudah goyah. ( memiliki verba mental memperkuat) 
3. B
Penjelas : 
Jika kita cermati teks di atas, terdapat beberapa penggunaan konjungsi internal, yaitu dan (kalimat 1), karena (kalimat 1), yang(kalimat 1) dan konjungsi eksternal, yaitu akan tetapi. Dengan demikian, konjungsi yang digunakan pada teks di atas ada empat buah. 
4. C
Penjelas : 
Verba mental adalah verba yang menjelaskan proses dalam merasakan. Ada tiga hal yang dijelaskan dalam proses ini, yaitu Persepsi: (melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba); Afeksi: (suka, takut, benci); Kognisi: (berpikir, memahami, mengetahui)  
5.  E
Penjelas : 
Modalitas adalah cara penulis menyatakan sikap dalam sebuah komunikasi. Beberapa bentuk modalitas di antaranya adalah memang, niscaya, pasti, sungguh, sangat, tentu, tidak, bukan (untuk menyatakan kepastian), agaknya, barangkali, mungkin, rasanya, rupanya (untuk menyatakan kesangsian), semoga, mudah-mudahan (menyatakan keinginan), jangan (larangan), mustahil (keheranan).

F. Penilaian Diri 

Setelah kalian belajar bertahap dan berlanjut melalui kegiatan belajar 2, berikut diberikan tabel untuk mengukur diri kalian terhadap materi yang sudah kalian pelajari. Jawablah sejujurnya terkait dengan penguasaan materi modul ini, dan Isilah tabel refleksi diri terhadap pemahaman materi di tabel berikut dan centanglah. 
 
Tabel Refleksi Diri Pemahaman Materi  

No

Pertanyaan

Ya

Tidak

1.

Apakah kalian telah memahami Unsur kebahasaan Teks editorial?

 

 

2.

Apakah kalian telah memahami Adverbia frekuentatif dan Modalitas dalam teks editorial?

 

 

3.

Apakah kalian memahami konjungsi dalam teks editorial?

 

 

4.

Apakah kalian memahami kata kerja dalam teks editorial?

 

 

5.

Apakah kalian memahami modalitas dalam teks editorial?

 

 

6.

Apakah kalian dapat merancang sebuah teks editorial buatanmu sendiri?

 

 

 

Jika menjawab “TIDAK” pada salah satu pertanyaan di atas, maka pelajarilah kembali materi tersebut dan pelajari ulang kegiatan belajar 2 yang sekiranya perlu kalian ulang. Jangan putus asa untuk mengulang lagi! Apabila kalian menjawab “YA” maka pemahaman kalian dapat dilanjutkan dengan evaluasi. 


Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 


#
Menganalisis Unsur kebahasaan Teks Editorial File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com


      Pencarian yang paling banyak dicari
      • struktur teks editorial
      • teks editorial adalah
      • sifat teks editorial
      • contoh teks editorial
      • contoh teks editorial beserta strukturnya
      • contoh teks editorial singkat
      • contoh teks editorial beserta analisisnya
      • jenis-jenis teks editorial
      • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022

      0

      Post a Comment