Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati Mapel Biologi kelas 10 SMA/MA

Materi Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati Mapel Biologi kelas 10 SMA/MA - Halo adik adik apa kabar? semoga dalam keadaaan baik abaik saja, jangan lupa untuk selalu mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dengan cara menggunakan masker, menjaga jarak dan tentunya mencuci tangan. Oiya pada kesempatan yang baik ini kakak ingin membagikan kepada adik adik kelas X SMA/MA tentang Materi Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati beserta dengan contoh latihan soal. Semoga bermanfaat yah.

Materi Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati Mapel Biologi kelas 10 SMA/MA
Materi Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati Mapel Biologi kelas 10 SMA/MA

Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah. Keseluruhan gen, jenis, dan ekosistem merupakan dasar kehidupan di bumi. Keanekaragaman tersebut saling berhubungan satu sama lain sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama lain. 


Keanekaragaman hayati tersebar di seluruh permukaan bumi mewarnai keberagaman mahluk hidup dan memberi manfaat terutama kepada kehidupan manusia. Keanekaragaman hayati sangat diperlukan untuk kelestarian hidup organisme dan berlangsungnya daur materi (aliran energi). Namun demikian, kualitas dan kuantitas keanekaragaman hayati di suatu wilayah dapat menurun atau bahkan dapat menghilang. Keanekaragaman hayati dapat dijaga kelestariannya serta dapat dipulihkan kembali. 

Istilah

  • Abisal : Daerah palung laut yang keadaannya gelap 
  • Biodiversitas : Variasi organisme hidup pada berbagai tingkatan 
  • Ekosistem : Hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungan abiotik 
  • Endemik : Spesies lokal yang unik dan hanya ada pada daerah tertentu dan tidak ditemukan di daerah lain 
  • Konservasi : Usaha yang dilakukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati 
  • Plasma nutfah : Bagian tubuh tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme yang mempunyai fungsi dan kemampuan mewariskan sifat 
  • Variasi : Perbedaan-perbedaan sifat yang terdapat pada makhluk hidup 

A. Tujuan Pembelajaran 

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini diharapkan , Anda dapat mengidentifikasi, menjelaskan dan menganalisis  serta menyajikan data sebaran, manfaat pelestarian dan ancaman keanekaragaman hayati Indonesia secara teliti, tanggung jawab dan bersyukur kepada Tuhan YME 
 

B. Uraian Materi 

1. Penyebaran  Flora di Indonesia 

Flora di Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang meliputi Malaysia, Filipina, Indonesia , dan Papua Nugini. Pada tahun 2009, Van Welzen dan Silk, botanis dari Belanda, melakukan penelitian yang menjelaskan distribusi flora Malesiana. Menurut keduanya, flora Malesiana terbagi menjadi flora dataran Sunda, flora dataran Sahul, dan flora di daerah tengah (peralihan) yang sangat khas dan endemik. 
 
a. Flora Daratan Sunda (Asiatis) 

Flora di Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang meliputi Malaysia, Filipina, Indonesia , dan Papua Nugini. Pada tahun 2009, Van Welzen dan Silk, botanis dari Belanda, melakukan penelitian yang menjelaskan distribusi flora Malesiana.  Menurut keduanya, flora Malesiana terbagi menjadi flora dataran Sunda, flora dataran Sahul, dan flora di daerah tengah (peralihan) yang sangat khas dan endemik. 
 
Flora di dataran Sunda terbagi menjadi tiga macam, yaitu flora endemik seperti padma raksasa (Rafflesia arnoldii) yang hanya terdapat di wilayah Bengkulu, Jambi, dan SumateraSelatan, serta bunga anggrek Tien Suharto atau anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum) yang hanya ada di wilayah Sumatera Utara. Selanjutnya flora khas paparan sunda adalah pada bagian pantai timur di dominasi hutan mangrove dan rawa gambut. Kemudian flora di bagian pantai barat didominasi oleh meranti-merantian, rawa gambut, kemuning, rotan dan hutan rawa air tawar.   
          
Gambar 11.  Bunga Bangkai 
Sumber: kompas.com 

b. Flora Peralihan 

Flora di daerah peralihan memiliki kemiripan dengan flora di dataran Sunda dan Sahul. Wilayah yang termasuk di dalamnya adalah wilayah pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Di pulau Sulawesi setidaknya terdapat 4.222 jenis flora yang memiliki karakteristik yang hampir mirip flora di Flipina, Maluku, Nusa Tenggara, dan Jawa. Flora di bagian peralihan ini jika terdapat di pantai akan mirip dengan yang ada di Papua, namun untuk flora yang berada di gurun sangat mirip dengan yang ada di Kalimantan. Jenis flora endemik di wilayah ini adalah eboni (Diospyros celebica) atau lebih dikenal dengan kayu besi di pulau Sulawesi, pohon leda (Eucalyptus deglupta), dan cengkeh (Syzygium aromaticum). 
 
c. Flora Daratan Sahul 

Hutan di dataran Sahul memiliki ciri-ciri yang sama dengan hutan Australia wilayah utara dengan beribu-ribu jenis tumbuhan yang berdaun lebat dan hijau. Ketinggian pohon di wilayah ini bisa mencapai 50 meter. Karena lebatnya daun pohon di hutan sahul membuat sinar matahari tidak menembus tanah, sehingga kelembapan terjaga dan memiliki ciri ciri air tanah yang baik dan membuat tanah subur dengan organisme yang ada di dalamnya. Karena hal ini pula terdapat banyak tumbuhan merambat atau epifit. Spesies endemik di dataran ini antara lain sagu (Metroxylon sagu), pala (Myristica fragrans), dan matoa (Pometia pinnata). Selain itu, juga terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti pohon besi, cemara, merbau, dan jati. 
            
Seorang ahli geografi dan botani dari Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, mengklasifikasikan iklim di Pulau Jawa secara vertikal sesuai dengan tumbuhan yang hidup diiklim tersebut. Klasifikasi ini bisa dijadikan dasar pengelompokan tumbuhan di Indonesia secara vertikal.  
 
Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, flora di Indonesia dibagi menjadi beberapa kelompok berikut. 
  1. Daerah dengan ketinggian 0-650 m merupakan dataran rendah pantai dan hutan mangrove dengan jenis tanaman pandan, bakau (Rhizophora sp.), kayu api (Avicennia sp.), bogem (Bruguirea sp.), sagu, dan nipah. Semakin jauh ke daratan, ditemukan kelapa, kelapa sawit, cokelat, padi, jagung, kapuk (Ceiba pentandra), dan karet (Hevea brasiliensis). 
  2. Daerah dengan ketinggian 650-1500 m ditumbuhi tanaman rasamala (Altingia excelsa), kina (Chinchona officinalis), aren, pinang, kopi, tembakau, dan teh.  
  3. Daerah dengan ketinggian 1500-2500 m ditumbuhi tanaman cantigi koneng (Rhododendron album), cemara gunung (Casuarina junghuhniana), anggrek tanah (Paphiopedilum praestans) di pegunungan Papua, dan berri (Vaccinium lucidum). 
  4. Daerah dengan ketinggian di atas 2500 m merupakan daerah pegunungan yang dingin. Di ketinggian ini, ditemukan lumut, liken, dan bunga edelweis (Anaphalis javanica). 
Berikut beberapa contoh jenis flora di Indonesia yang merupakan spesies langka, diantaranya adalah sebagai berikut. 
  1. Bunga Bangkai Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) merupakan tumbuhan endemik dari Sumatera, yang dikenal dengan bunga majemuk terbesar. Dinamakan bunga bangkai karena bunga ini mengeluarkan aroma busuk yang digunakan untuk menarik serangga kumbang atau lalat untuk proses penyerbukan. 
  2. Padma Raksasa Padma raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan tumbuhan parasit yang terkenal karena ukuran bunga yang besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Bunga ini pertama kali ditemukan pada tahun 1818 dihutan tropis Bengkulu (Sumatera). Bunga ini terdiri dari 27 spesies dan dari semua spesiesnya ditemukan di Asia tenggara. 
  3. Edelweiss Jawa Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica) merupakan tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi nusantara. Edelweiss saat ini merupakan salah satu jenis bunga yang sudah sangat langka keberadaannya. 
  4. Daun Payung (Johannesteijsmannia altifrons) adalah salah satu tanaman di Sumatera Utara. Tanaman ini tidak tahan terhadap paparan sinar matahari langsung sehingga tanaman ini sering ditemukan tumbuh di antara pepohonan lebat. Keberadaan tanaman ini semakin berkurang karena banyaknya kebakaran hutan sehingga pohon tempatnya berlindung juga berkurang. 
  5. Ulin (Eusideroxylon zwageri) adalah sejenis pohon besar yang sering disebut dengan pohon besi dan merupakan tumbuhan khas dari Kalimantan. Ulin termasuk jenis pohon besar yang cukup sulit untuk diperkembangbiakkan sehingga populasinya menurun. 

Gambar 12. Aneka flora langka Indonesia
Sumber: id.search.yahoo.com 
 
2. Penyebaran Fauna di Indonesia 

Berdasarkan  letak  geografinya wilayah Indonesia dilewati oleh dua garis khayal, yaitu Garis Wallace dan Garis Webwe. Kedua garis khayal ini menyebabkan terjadinya perbedaan persebaran hewan (fauna) Indonesia. Penyebaran fauna di Indonesia dipengaruhi  oleh  aspek  geografi dan peristiwa geologi benua Asia dan Australia. Para pakar zoology  berpendapat bahwa tipe fauna di kawasan Indonesia bagian barat mirip dengan fauna di Asia Tenggara (oriental), sedangkan fauna di kawasan Indonesia bagian timur mirip dengan fauna di benua Australia (australis). Daerah persebaran fauna di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan Indonesia bagian  barat, kawasan peralihan (Wallacea), dan kawasan Indonesia bagian timur. 
  
Gambar 13. Peta persebaran fauna di Indonesia 

Sumber:  rumusguru.com 
 
a. Daerah Sebelah Barat Garis Wallace 

Kawasan Indonesia yang termasu ke dalam daerah sebelah Barat garis Wallace, meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Kawasan ini dibatasi oleh garis imajiner Wallace yang terletak di antara Kalimantan dengan Sulawesi dan antara Bali dengan Lombok.Meskipun jarak antara Bali dan Lombok sangat dekat, namun jenis fauna yang hidup di kedua pulau tersebut berbeda. Garis Wallace dikemukakan oleh Alfred Russel Wallace (ahli zoologi berkebangsaan inggris) pada abad ke-19. Beberapa jenis fauna kawasan Indonesia bagian barat yang juga menjadi spesies endemikantara lain harimau (Panthera tigris), macan tutul atau leopard (Panthera pardus), gajah (Elephas maximus), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos sondaicus), orang utan (Pongo pygmaeus), wauwau (Hylobates lar), lutung (Presbytis cristata), merak hijau (Pavo muticus), dan burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Fauna di wilayah ini dikenal juga dengan tipe oriental yang bercirikan hewan menyusui berukuran besar, berbagai macam kera dan ikan air tawar. 
   
Gambar 14. Fauna khas Indonesia Bagian Barat 
Sumber: juraganles.com 

b. Daerah Sebelah Timur garis Wallace 

Wilayah Indonesia yang ada di sebelah Tmur Garis Wallace memiliki berbagai jenis fauna Australia, yaitu berbagai jenis burung dengan warna bulu yang mencolok, misalnya kasuari, cendrawasih, kakatua, nuri dan parkit. Ada pula merpati berjambul dan beberapa jenis hewan berkantung dan walabi.  
 
Gambar 15.  Fauna khas Indonesia Bagian Timur 
Sumber : kumpulanbagianpenting.blogspot.com  
 
c. Daerah Peralihan 

Daerah peralihan adalah daerah di antar Garis Wallacs dan Weber. Disebut juga wilayah Wallace. Semakin ke Timur dari Garis Wallace, jumlah fauna oriental semakin berkurang. Sebaliknya semakian ke barat dari Garis Weber, Fauna Australia semalin berkurang. Dengan demikian, marsupiaiia dapat ditemukan di daerah Wallace dan butung pelatuk oriental juga dapat dijumpai di sebelah timur Wallace.  
 
Gambar 16, Fauna peralihan 
Sumber: commons.wikimedia.org 
 
Perhatikan fauna yang da di Bali dan di Lombok. Kedua pulau ini hanya dipisahkan oleh selat yang hanya berjarak sekitar 30 km, tetapi faunanya berbeda jauh. Di bali ditemukan hewan Oriental bajing dan harimau, tetapi hewan ini tidak menyebar ke Lombok. Sementara itu, di Lombok ditemukan burung pemakan madu yang tidak ditemukan di bali (fauna Australian). Hal serupa terjadi di Sulawesi dan Kalimantan. Di Sulawesi ditemukan hewan Australian Opoom dan burung kakaktua (fauna Australian), namun kedua hewan tersebut tidak ditemukan di Kalimantan.  
 
Terlepas dari tipe asiatis, tipe australian maupun peralihan, berapa hewan tersebut adalah hewan khas Indonesia. Hewan yang terancam punah adalah hewan asli Indonesia adalah orang utan (endemik di Sumatera dan Kalimantan), komodo (endemik Pulau Komodo), badak cula atu (endemik ujng Kulon Jawa barat) dan Anoa (endemik Sulawesi).  
 
3. Ancaman Kepunahan Keanekaragaman Hayati 
 
Gambar 17.  Kerusakan Hutan 
Sumber: ipqi.org 
 
Kepunahan flora dan fauna bukan suatu gejala baru. Bebebrapa ratus tahun yang lalu sebagian besar flora dan fauna telah berkurang karena kegiatan manusia. Di sisi lain manusia merupakan satu-satunya mahluk hidup yang mampu membendung terjadinya kepunahan berbagai jenis flora dan fauna. Jenis flora dan fauna yang cepa mengalami kepunahan adalah sebagai berikut: 
  • Flora dan fauna yang persebarannya sedikit dan kemampuan menyesuaikan diri terhadapa lingkungan (adaptasi) kecil 
  • Flora dan fauna yang ditemukan di daerah sebaran sempit. 
  • Flora dan fauna yang membutuhkan daerah luas untuk bertahan hidup. 
  • Meeupakan pemangs besar sehingga diburu oleh manusia. 
  • Flora dan fauna memiliki kekhususan tinggi. 
  • Umunya merupakan fauna besar dengan kepadatan rendah. 
  • Flora dan fauna bersaing dengan mansia baik langsung maupun tidak langsung 
  • Flora dan fauna memiliki nilai komersial. 
  • Pernah mempunyai kisaran luas dan berdekatan tetapi sekarang terbatas pada daerah kecil tempat hidupnya. 
Beberapa jenis hewan Indonesia dan keadaaanya dapat dilihat pada tabel 1. Sedangkan mamalia yang punah dan langka di Indonesia Barat dapat dilihat pada tabel 2. 
          
Tabel 1. Jenis Hewan di Indonesia  
         
Jenis Hewan > Keadaan 
  1. Musang Sulawesi > Rentan 
  2. Dugong > Rentan 
  3. Babi Rusa > Rentan 
  4. Anoa dataran rendah > Terancam punah 
  5. Anoa gunung > Terancam punah 
  6. Kuntul Cina > Rentan 
  7. Bangau bluwok > Rentan 
  8. Maleo > Rentan 
  9. Buaya Muara > Rentan 
  10. Penyu belimbing > Terancm punah 
  11. Penyu sisik > Terancam punah 
  12. Kura –kura forsten > Terancam 
  13. Kupu –kupu sayap hitam > Rentan 
 
Tabel 2 . Mamalia yang Punah dan Langka di Indonesia Barat 


Manusia saat ini sudah mengikuti perkembangan industrialisasi untuk emmenuhi kebutuhan hidupnya sehingga banyak aktifitas yang tidak disadarai dapat mengancam keanekaragaman hayati. Jika hal ini dibiarkan, maka keanekaragaman hayati akan mengalami penurunan, baik kualitas dan kuantitasnya. 
 
Hal-hal yang dapat menyebabkan penuruanan keanekaragaman hayati adalah sebagai berikut : 
  • Perusakan dan pemusnahan habitat. 
  • Mauknya jeis hwan pe;iharaan dan tumbuhan baru pada suatu habitat tanpa penelitian dan pengembangan yang seksama. 
  • Penggunaan jenis tumbuhan dan hewan pada suatu habitat secara berlebihan. 
  • Terjadinya pencemaran lingkungan dalam suatu ekosistem. Pencemaran lingkungan meliputi penvcemaran air, tanah dan udara. 
  • Terjadinya perubahan iklim global. 
  • Adanya perkembangan industry pertanian dan perhutanan. 
  • Adanya eksploitasi berlebihan saat penambangan logam dan pemanfaatan biota laut. 
4. Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati 

Usaha pelestarian sumber daya alam hayati merupakan tanggung jawab bersama dan harus dilakukan secara ketat, karena sudah banyak jenis tumbuhan dan hewan endemik telah berada di ambang kepunahan.  Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk pelestarian keanekaragaman hayati dibagi menjadi dua, yaitu pelestarian exsitu dan insitu. 

a. Pelestarian Secara In Situ 

Pelestarian In situ adalah pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan di tempat hidup aslinya (habitatnya). Pelestarian ini dilakukan pada mahluk hidup yang memerlukan habitat khusus atau mahluk hidup yang dapat menyebabkan bahaya pada kehidupan mahluk hidup lainnya jika dipindahkan ke tempat lain. Contoh  taman nasaional dan cagar alam. Indonesia saat ini memiliki 30 taman nasional dan ratusan cagar alam sehingga flora dan fauna asli Indonesia memiliki kesempatan baik untuk hidup terus , tentu apabila peraturan pemerintah ditaati.  

b. Pelestarian Ex Situ 

Pelestarian ex situ adalah pelestarian  keanekaragaman hayati (tumbuhan dan hewan) dengan cara dikeluarkan dari habitatnya dan dipelihara di tempat lain. Pelestarian secara ex situ dapat melakukan cara-cara sebagai beriku. 
  • Kebun koleksi 
  • Kebun plasma nutfah 
  • Kebun raya 
  • Penyimpanan dalam kamar-kamar bersuhu dingin 
  • Kebun binatang 
Dari hasil kerja sama dengan lembaga konservasiinternasional, terlah dilakukan pengembangan kawasn konservasi menjadi cagar biosfer yang merupakan kawasan dengan ekosistem terestrial dan pesisir yang melaksanakan konservasi biodiversitas melalui pemanfaatan ekosistem yang berkelanjutan. Cagar biosfer yang ada di Indonesia antara lain Kebun Raya Cibodas, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Batu, dan Taman Nasional Wakatobi. 
 
5. Manfaat Keanekaragaman Hayati 

a. Keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan  

Makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia adalah beras yang diperoleh dari tanaman padi (Oryza sativa).Namun, di beberapa daerah, makanan pokok penduduk adalah jagung, singkong, ubi jalar, talas, atau sagu. Selain kaya akan tanaman penghasil bahan makanan pokok, Indonesia juga kaya akan tanaman penghasil buah dan sayuran. Diperkirakan terdapat sekitar 400 jenis tamanam penghasil buah, contohnya sirsak (Annona muricata), jeruk bali (Citrus maxima), rambutan (Nephelium lappaceum), duku (Lansium domesticum), durian (Durio zibethinus), manggis (Garcinia mangostana), markisa (Passiflora edulis), mangga (Mangifera indica), dan matoa (Pometia pinnata). Terdapat sekitar 370 jenis tanaman penghasil sayuran, antara lain sawi, kangkung, katuk, kacang panjang, buncis, bayam, terung, kol (kubis), seledri, dan bawang kucai.Ada sekitar 70 jenis tanaman berumbi, misalnya kunyit kuning, jahe, lengkuas, temulawak, wortel, lobak, talas, singkong, ubi jalar, dan bawang putih.Indonesia juga kaya akan tanaman penghasil rempahrempah yang jumlahnya sekitar 55 jenis, antara lain merica (Piper nigrum), cengkeh (Eugenia aromatica), pala (Myristica fragrans), dan ketumbar (Coriandrum sativum). Sumber makanan juga berasal dari aneka ragam hewan darat, air tawar, dan air laut.Contohnya, sapi, kambing, kelinci, burung, ayam, ikan lele, belut, kepiting, kerang, dan udang. 
 
b. Keanekaragaman hayati sebagai sumber obat-obatan  

Indonesia memiliki sektar 30.000 spesies tumbuhan, 940 spesies di antaranya merupakan tanaman obat dan sekitar 250 spesies tanaman obat tersebut digunakan dalam industri obat herbal lokal. Beberapa tanaman obat beserta kegunaanya adalah sebagai berikut. Buah merah (Pandanus conoideus) dimanfaatkan sebagai obat untuk mengobati kanker (tumor), kolesterol tinggi, dan diabetes. Mengkudu (Morinda citrifolia) untuk menurunkan tekanan darah tinggi Kina (Chinchona calisaya, Chinchona officinalis), kulitnya mengandung alkaloid kina (quinine) untuk obat malaria. Selain tumbuh-tumbuhan, beberapa jenis hewan juga dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan, antara lain sebagai berikut. Madu dari lebah dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ular, bagian daging dan lemaknya dipercaya dapat mengobati penyakit kulit (gatalgatal).  
 
c.  Keanekaragaman hayati sebagai sumber kosmetik  

Beberapa tumbuhan digunakan sebagai bahan pembuatan kosmetik, antara lain sebagai berikut. Bunga mawar (Rosa hybrida), melati (Jasminum grandiflorum), cendana (Santalum album), kenanga (Cananga odorata), dan kemuning (Murraya exotica) dimanfaatkan untuk wewangian (parfum). Kemuning, bengkoang, alpukat, dan beras digunakan sebagai lulur tradisional untuk menghasilkan kulit. Urang-aring (Eclipta alba), mangkokan, pandan, minyak kelapa, dan lidah buaya (Aloe vera) digunakan untuk pelumas dan penghitam rambut. 
 
d. Keanekaragaman hayati sebagai sumber sandang  

Beberapa jenis tanaman digunakan untuk bahan sandang atau pakaian, antara lain sebagai berikut. Rami (Boehmeria nivea), kapas (Gossypium arboreum), pisang hutan atau abaca (Musa textilis), sisal (Agave sisalana), kenaf (Hibiscus cannabicus), jute (Corchorus capsularis) dimanfaatkan seratnya untuk dipintal menjadi kain atau bahan pakaian. Tanaman labu air (Lagenaria siceraria) dimanfaatkan oleh Suku Dani di lembah Baliem (Papua) untuk membuat koteka (horim) laki-laki. Sementara untuk membuat pakaian wanita, digunakan tumbuhan wen (Ficus drupacea) dan kem (Eleocharis dulcis). Beberapa hewan juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pakaian, antara lain sebagai berikut. Ulat sutera untuk membuat kain sutera yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Kulit beberapa hewan, misalnya sapi dan kambing dapat dimanfaatkan untuk membuat jaket. Kulit sapi digunakan untuk membuat sepatu. Bulu burung dapat digunakan untuk membuat aksesori pakaian. 
 
e. Keanekaragaman hayati sebagai sumber papan  

Sebagian besar rumah diIndonesia menggunakan kayu, terutama rumah adat. Kayu dimanfaatkan untuk membuat jendela, pintu, tiang, dan alas atap. Beberapa tumbuhan yang dimanfaatkan kayunya, antara lain jati (Tectona grandis), kelapa (Cocos nucifera), nangka (Artocarpus heterophyllus), meranti(Shorea acuminata), keruing (Dipterocarpus borneensis), rasamala (Altingia excelsa), ulin (Eusideroxylon zwageri), dan bambu (Dendrocalamus asper). Di Pulau Timor fan Alor, daun lontar (Borassus flabellifer) dan gebang (Corypha utan) digunakan untuk membuat atap dan diding rumah. Beberapa jenis tumbuhan palem (Nypa fruticans, Oncosperma tigilarium, dan Oncosperma horridum) juga dimanfaatkan untuk membuat rumah di Sumatra dan Kalimantan. Di Pulau Timor, alang-alang (Imperata cylindrica) dimanfaatkan untuk membut atap rumah. 
 
f. Keanekaragaman hayati sebagai aspek budaya  dan keagamaan 

Penduduk Indonesia yang menghuni kepulauan nusantara memiliki keanekaragaman suku dan budaya yang tinggi. Terdapat sekitar 350 entis (suku) dengan agama dan kepercayaan, budaya, serta adat-istiadat yang berbeda. Dalam menjalankan upacara ritual keagamaan dan kepercayaanya, penyelenggaraan upacara adat dan pesta tradisional seringkali memanfaatkan beragam jenis tumbuhan dan hewan. Beberapa upacara ritual keagamaan dan kepercayaan, upacara adat, serta pesta tradisional tersebut, antara lain sebagai berikut.Budaya nyekar (ziarah kubur) pada masyarakat Jawa menggunakan bunga mawar, kenanga, kantil, dan melati. Upacara kematian di Toraja menggunakan berbagai jenis tumbuhan yang dianggap memiliki nilai magis saat memandikan jenazah, misalnya limau, daun kelapa, pisang, dan rempah-rempah. Upacara Ngaben di Bali menggunakan 39 jenis tumbuhan yang mengandung minyak atsiri yang berbau harum, antara lain kenanga, melati, cempaka, pandan, sirih, dan cendana. Tebu hitam dan kelapa gading juga digunakan untuk menghanyutkan abu jenazah ke sungai. Umat Islam menggunakan hewan ternak (kambing, sapi, dan kerbau) pada hari raya Qurban. Umat Nasrani menggunakan pohon cemara (Araucaria sp. dan Casuarina equisetifolia) saat perayaan natal. 
 
g. Keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah  

Plasma nutfah (sumber daya genetik) adalah bagian tubuh tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme yang mempunyai fungsi dan kemampuan mewariskan sifat. Setiap organisme yang masih liar di alam maupun yang sudah dibudidayakan manusia mengandung plasma nutfah. Plasma nutfah berguna untuk merakit varietas unggul pada suatu spesies, misalnya spesies yang tahan terhadap suatu penyakit atau memiliki produktivitas tinggi. Plasma nutfah akan mempertahankan mutu sifat dari organisme dari generasi ke generasi berikutnya, misalnya padi Rojolele akan mewariskan sifat pulen dan rasa enak, serta ubi jalar Cilembu dan buah duku Palembang akan mewariskan sifat rasa manis. Keanekaragaman plasma nutfah dapat tetap terjaga melalui pelestarian semua jenis organisme. 
 

C. Rangkuman 

  1. Keanekaragaman tumbuhan (flora) di Indonesia dikelompokkan menajdi tiga kelompok, yaitu keanekaragaman datran sunda, peralihan dan dataran sahul. Keanekaragaman Flora Indonesia juga dibagi berdasarkan ketinggian dari atas permukaan laut atau secara vertikal. 
  2. Persebaran fauna (hewan) di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu persebaran fauna di kawasan Indonesia Bagian Barat, persebaratn Indonesia Bagian Timur dan pesebaran peralihan. Masing-masing kawasan mempunyai ciri khas yang berbeda. 
  3. Penurunan keanekaragaman hayati dinatarnya disebabkan oleh perusakan dan pemusnahan habitat, mesuknya jenis hewan dan tumbuhan baru pada suatu habitat,  pencemaran lingkungan,  perubahan iklim global, pesatnya perkembngan industry pertanian dan perkebunan serta penmabangan logam dan pemanfaatna biota laut. 
  4. Usaha-usaha yang dilakukan untuk pelestarian keanekaragaman hayati secara insitu dan ex situ. 
  5. Keanekaragaman hayati bermanfaat sebagai sumber pangan, papan, obat-obatan, kosmetika, kegiatan budaya dan keagamaan serta sumber plasma nutfah. 
 

D. Penugasan Mandiri  

Cermati artikel di bawah ini! 
Kebun binatang dibangun untuk sarana konservasi dan pengembangbiakan hewan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir tujuan mulia itu tercoreng. Deretan peristiwa hewan yang terlantar, kurus kering tak terurus hingga meregang nyawa menghiasi pemberitaan media. Selain kasus kematian hewan di Kebun Binatang Surabaya (KBS) Jawa Timur beberapa tahun lalu, kini Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat juga mengalami hal sama. Ada apa dengan kebun binatang? 
 
Jasad Michael menggantung dengan jeratan sling baja di lehernya. Kondisinya sangat mengenaskan. Michael adalah seekor singa Afrika berusia 1,5 tahun, penghuni Kebun Binatang Surabaya (KBS), Jawa Timur. Polisi menyatakan Michael mati terbunuh. Namun, apa yang menyebabkan ia terbunuh masih misterius hingga kini. 
 
Kisah tragis Michael melengkapi catatan kematian hewan-hewan lain yang di KBS. Kebun binatang yang berdiri sejak 1918 ini punya sejarah kelam, banyak hewan mati tak terurus sejak beberapa tahun sebelumnya seperti kematian Melani, sang Harimau Sumatera “kurus kering”. Penyebabnya konflik manajemen pengurus KBS yang berlarut-larut. 
 
Kabar menyedihkan lain datang dari Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat, awal Mei lalu. Seekor gajah Sumatera bernama Yani sekarat berhari-hari karena penyakit paru-paru hingga akhirnya ajal menjemput. Penyebabnya diduga karena masalah manajemen pakan yang buruk oleh pengelola kebun binatang. Petisi online “Selamatkan Kebun Binatang Bandung” sempat muncul di dunia maya. 
                                                                                     
Sumber: https://tirto.id/neraka-bernama-kebun-binatang-9dv 
 
Berdasarkan artikel di atas : 
1. Bandingkan kelemahan dan keunggulan pelestarian secara ex-situ dan in-situ bagi satwa gajah dan singa dengan mengisi tabel berikut ini! 


2. Bagaimana menurut pendapat Anda dalam mengelola pelestarian ex-situ sehingga kejadian di atas tidak terulang kembali? 
 

E. Latihan Soal  

Pilihlah satu jawaban yang paling benar! 
1. Berikut ini yang termasuk fauna tipe Australis adalah ... 
A. anoa, komodo, kuskus 
B. gajah, badak bercula satu, burung merak 
C. kangguru, cendrawasih, burung kasuari 
D. anoa, gajah, badak jawa 
E. komodo, babirusa, beruang 
 
2. Garis yang memisahkan jenis fauna (hewan) Indonesia bagian timur dengan bagian tengah adalah ... 
A. garis Weber 
B. garis Khatulistiwa 
C. garis Wallace 
D. garis lintang 
E. garis bujur 
 
3. Berikut yang termasuk flora khas Indonesia bagian Timur adalah 
A. Bunga bangkai, matoa, sagu 
B. Sagu, matoa, pala 
C. Bunga padma, kayu jati, sagu 
D. Bunga bangkai, bunga padma, bunga payung 
E. Sagu, matoa, kayu jati 
 
4. Berikut ini adalah aktivitas manusia yang dapat menyebabkan punahnya hewan atau tumbuhan, kecuali ... 
A. membangun tempat tinggal baru dalam hutan 
B. memburu hewan langka 
C. membuat cagar alam 
D. perluasan lahan pertanian 
E. pertambangan 
 
5. Salah satu upaya menjaga keanekaragaman hayati adalah ... 
A. penanaman secara monokultur 
B. membuang limbah rumahtangga ke sungai 
C. perburuan hewan 
D. menangkap ikan menggunakan peledak 
E. pelestarian hewan secara in situ dan eksitu 
   
Kunci Jawaban dan Pembahasan 

1. C kangguru, 
cendrawasih, burung kasuari Kangguru, cendrawasih, dan burung kasuari termasuk fauna tipe Australis. Ciri fauna Australis diantaranya yaitu: terdapat banyak mamalia berukuran kecil, terdapat hewan berkantung, jenis burung memiliki warna bulu yang indah namun memiliki suara yang kurang bagus. 

2. A  
 Garis Weber Garis yang memisahkan jenis fauna bagian Timur dengan bagian Tengah yaitu garis Weber. Sedangkan garis Wallace garis yang memisahkan jenis fauna bagian Tengah dengan bagian Barat. Dengan adanya garis-garis ini, maka Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah fauna, yaitu Oriental (Asiatis), Australis, dan Peralihan. 
 
3. B 
Sagu, matoa, pala, Sagu, matoa dan pala adalah jenis flora ciri khas dataran sahul atau Indonesia bagian timur.  

4. C 
Membuat cagar alam Membuat cagar alam bukan merupakan aktivitas yang dapat menyebabkan punahnya hewan atau tumbuhan. Membuat cagar alam termasuk kedalam konservasi atau perlindungan hewan atau tumbuhan. 

5. E 
Pelestarian ex situ dan In situ Salah satu usaha untuk menjaga keanekaragaman hayati yaitu dengan konservasi atau perlindungan tehadap hewan atau tumbuhan. Ada dua jenis konservasi yaitu secara in situ (di dalam habitatnya) dan ek situ.(di luar habitatnya) 
 

F. Penilaian Diri 

Lakukan penilaian diri untuk mengetahui seberapa jauh, Anda memahami materi pada kegiatan pembelajaran 2. Berilah tanda centang (v) pada kolom jika sesuai atau tidak sesuai dengan yang dirasakan 
 

Jika menjawab “Tidak” pada salah satu pertanyaan di atas maka pelajari kembali modul kegiatan pembelajaran 2. “Jangan putus asa”. Jika menajwab “Ya “ pada semua pertanyaan, maka lanjutkan ke modul berikutnya (KD.3.3). 

Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati Mapel Biologi kelas 10 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 

#
Penyebaran, Pelestarian dan Manfaat Keanekaragaman Hayati File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com

    Pencarian yang paling banyak dicari
    • manfaat keanekaragaman hayati pdf
    • tingkatan keanekaragaman hayati
    • keanekaragaman hayati di indonesia
    • cara melestarikan keanekaragaman hayati
    • keanekaragaman makhluk hidup pdf
    • manfaat keanekaragaman hayati di bidang ekonomi
    • pentingnya keanekaragaman hayati
    • keanekaragaman hayati tingkat gen
    • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022