Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA

Materi Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA - Hai adik adik yang baik apa kabar? semoga dalam keadaan baik baik saja, nah pada kesemaptan yang cerah ini kakak ingin membagikan kepada adik adik mengenai materi yang sudah kakak sediakan, materi ini adalah materi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII SMA/MA tentang Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah. Semoga bermanfaat yah.

Materi Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA
Materi Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA

A. Tujuan Pembelajaran 

Setelah mempelajari modul pada kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan kalian dapat menganalisis kebahasaan teks cerita sejarah dengan kritis, cermat, dan bertanggung jawab agar kalian memiliki pemahaman tentang aturan atau kaidah  kebahasaan yang harus ada pada  teks cerita sejarah dengan benar. 

B. Uraian Materi 

Kalian masih berada pada modul teks kedua pembelajaran  Bahasa Indonesia kelas XII yaitu teks cerita sejarah. Baru saja kalian mempelajari informasi yang ada pada teks cerita sejarah. Pasti di antara kalian sudah memahaminya bukan? Masih pada jenis teks yang sama namun yang  akan kalian pelajari sekarang adalah kaidah kebahasaan teks cerita sejarah yang tentunya akan berbeda dari kaidah kebahasaan  teks lain.  Kalian akan dapat memiliki gambaran ciri khas bahasa dalam teks cerita sejarah. Menarik bukan?  Apa sebenarnya kaidah kebahasaan teks cerita sejarah dan bagaimana serunya menganalisis kekhasan kaidah  bahasa semua ada di modul ini. 
 
Penanda kekhasan bahasa yang digunakan dalam karya sastra pada umumnya adalah menggunakan bahasa konotatif dan emotif. Hal ini berbeda dengan bahasa ilmiah yang denotatif dan rasional. Meskipun demikian, bahasa dalam cerita sejarah tetap mengacu kepada bahasa yang digunakan masyarakat (konvensional) agar tetap dipahami oleh pembacanya. Penggunaan bahasa konotatif dan emotif diwujudkan pengarang dengan merekayasa bahasa dengan menggunakan beragam gaya bahasa, pencitraan, dan beragam pengucapan 
 
1. Kaidah Kebahasaan 
a. Menggunakan Kalimat Bermakna Lampau 
Kalimat yang bermakna lampau ditandai dengan kata=kata yang menyatakan bahwa kalimat tersebut sudah selesai. Hal tersebut ditandai dengan penggunaan kata telah, sudah, terbukti dan lain-lain. 
Contoh: 
  • Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya. 
  • Dalam banyak hal, Gajah Mada bahkan sering mengemukakan pendapatpendapat yang tidak terduga dan membuat siapa pun yang mendengar akan terperangah, apalagi bila Gajah Mada berada di tempat berseberangan yang melawan arus atau pendapat umum dan ternyata Gajah Mada terbukti berada di pihak yang benar 
b. Menggunakan Kata yang menyatakan Urutan Waktu 
Kalimat tersebut menggunakan konjungsi kronologis atau  temporal. Terlihat pada penggunaan kata seperti: sejak saat itu, setelah itu, mula mula, kemudian. 
Contoh 
  • Mula-mula pertikaian berkisar pada kelakuan Trenggono yang begitu sampai hati membunuh abangnya sendiri, kemudian diperkuat ... 
  • Setelah juara gulat itu pergi Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang- tenang masuk ke kadipaten. 
c. Menggunakan kalimat Tak Langsung 
Penggunaan kalimat tak langsung sebagai upaya untuk  menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang. Ditandai dengan penggunaan kata  mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut, mengungkapkan, menanyakan, menyatakan, atau menuturkan. 
Contoh 
  • Mengapa Sultan tak menyatakan sikap menentang usaha Portugis ...? 
  • Riung Samudera menyatakan bahwa ia masih bingung dengan semua penjelasan Kendit Galih tentang masalah itu. 
  • Menurut Sang Patih, Galeng telah periksa seluruh kamar Syahbandar clan ia telah melihat banyak botol clan benda-benda yang ia tak tahu nama clan gunanya 
d. Menggunakan Kata Kerja (verba) Mental 
Kata kerja ini merupakan jenis kata kerja yang mengekspresikan respons atau sikap seseorang terhadap suatu tindakan, keberadaan, atau pengalaman. Kata kerja mental juga disebut sebagai verba tingkah laku atau kata kerja behavioral yang menggambarkan perilaku atau tindakan seseorang ketika menghadapi keadaan tertentu.Kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh. 
Contoh 
  • Jawaban itu mengecewakan para musafir. 
  • Gajah Mada sependapat dengan jalan pikiran Senopati Gajah Enggon. 
  • Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir Patih Daha Gajah Mada memang mampu clan layak berada di tempat yang sekarang ia pegang. 
e. Menggunakan Kata Kerja (verba) Material 
Kata kerja material adalah kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan perbuatan fisik atau peristiwa. Kata kerja material ini menunjukkan subjek melakukan sesuatu perbuatan. Karena perbuatannya bersifat material sehingga  dapat dilihat atau kasad mata. Kata-kata yang digunakan seperti Berlari, menulis, melempar, tersenyum, menagis dan sebagainya. 
Contoh  
  • Pada suatu kali, kaki kuda Demak akan mengepulkan debu di seluruh bumi Jawa. 
  • Dan sebagai patih, ia masih tetap memimpin pasukan gajah, maka Kala Cuwil tak juga terhapus dalam sebutan. 
  • Sang Adipati telah menjatuhkan titah: kapal-kapal Tuban mendapat perkenan untuk berlabuh dan berdagang di Malaka ataupun di Pasai. 
f. Mengunakan Kalimat Langsung 
Hal ini ditandai banyaknya kalimat langsung atau dialog. 
Contoh 
"Mana surat itu?" 
''Ampun, Gusti Adipati, patik takut maka patik bakar:' "Surat apa, Nyi Gede, lontar ataukah kertas?" 
"Lon... Ion... Ion... kertas barangkali, Gusti, patik tak tahu namanya. Bukan lontar:' "Bukankah bukan hanya surat saja telah kau terima? Adakah real Peranggi pernah kau terima juga?" 
''Ada, Gusti real mas, Patik mohon ampun, karena tiada mengetahui adakah itu real Peranggi atau bukan:' 
 
g. Menggunakan Kata Sifat untuk Menggambarkan Tokoh, Tempat, atau Peristiwa. 
Kalimat ini menggunakan kata-kata seperti prihatin, khawatir, wibawa dan lain-lain. Contoh 
  • Pangeran Seda Lepen? Orang menunggu dan menunggu dengan perasaan prihatin terhadap keselamatan wanita tua itu. 
  • Gajah Mada mempersiapkan diri sebelum berbicara clan menebar pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan dari satuan masing-masing. Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besar wibawa Gajah Mada, bahkan beberapa prajurit harus mengakui wibawa yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih besar dari wibawa Jayanegara. 
2. Penggunaan Makna Kias 
a. Ungkapan 
Selain menggunakan bahasa dengan kaidah kebahasaan seperti diuraikan di atas, novel sejarah juga banyak menggunakan kata atau frasa yang bermakna kias. Kata atau frasa bermakna kias ini digunakan penulis untuk membangkitkan imajinasi pembaca saat membacanya serta memperindah cerita. Contoh 
  • Di antara para Ibu Ratu yang terpukul hatinya, hanya Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang bisa berpikir sangat tenang. Terpukul hatinya artinya sangat sedih. 
  • Mampukah Cakradara menjadi tulang punggung mendampingi istrinya menyelenggarakan pemerintahan? 
  • Tulang punggung artinya sandaran, sumber kekuatan Di sebelahnya, Gajah Mada membeku. 
  • Membeku artinya diam saja. 
 
b. Peribahasa 
Selain menggunakan kata atau frasa bermakna kias, novel sejarah juga banyak menggunakan peribahasa, baik yang berbahasa daerah maupun berbahasa Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkuat latar waktu clan tempat kejadian cerita. 
Contoh 
Hidup rakyat Majapahit boleh dikata gemah ripah loh jinawi kerta tata raharja, hukum ditegakkan, keamanan negara dijaga menjadikan siapa pun merasa tenang clan tenteram hidup di bawah panji gula kelapa.  Peribahasagemah ripah loh jinawi kerta tata raharja merupakan peribahasa Jawa, yang artinya hidup makmur aman tenteram. 
 
3. Analisis Kebahasaan Teks Cerita Sejarah 
Baiklah kalian mengetahui bagaimana kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. Apabila sudah memahaminya kalian akan berlatih bagaimana kenganalisis kaidah kebahasaan. Namun sebelumnya bacalahlah dengan saksama teks cerita sejarah berikut! 
…. ''Apakah Tuan sudah bermaksud melawan pemerintah?" 
Karena aku tahu inisiatifnya takkan berjalan tanpa rnmusan dan tanda tanganku, aku hadapi dia dengan cadangan. 

"Kalau perintah itu diberikan padaku setelah predikat 'tenaga ahli' itu dicabut oleh Gubermen, aku akan lakukan dengan segera, Tuan. Kalau tidak, aku masih punya hak untuk menolak:' 
Mukanya jadi kemerah-merahan karena berang. Ya, ya, kau akan kupermain mainkan, Tuan. Mari kita lihat siapa yang akan lebih tahan. 

Tetapi, ia tak mendesak lagi dan pergi dengan bersungut-sungut. Notanya datang lagi, isinya bernada curiga terhadap aku sebagai simpatisan salah sebuah dari organisasiorganisasi tersebut. 

Jelas dia belum kenal siapa Pangemanann. Sekali orang bernama Pangemanann ini jadi Algemeene Secrerie, takkan mudah orang dapat mengisarkan sejengkal pun dari tempatnya. Aku simpan baik-baik nota itu dan tak kujawab. 

Sekarang datang waktunya ia akan mencari-cari kesalahan. Mulailah aku mengingatingat secara kronologis pekerjaanku sejak 1912 sampai masuk ke tahun 1915. Hanya ada satu hal yang bisa digugat: analisa dangkal tentang naskah-naskah Raden Mas Minke yang aku anggap tidak berharga. Naskah-naskah itu aku simpan di rumah untuk jadi milik pribadi. Maka analisis yang kurang bersungguh-sungguh itu mungkin memberi peluang untuk menuduh aku menyembunyikan sesuatu pendapat atau kenyataan. 

Apa boleh buat, aku akan tetap berkukuh naskah-naskah itu lebih bersifat pribadi daripada umum. Dan aku katakan naskah itu telah dibakar langsung di kantor dalam tong kaleng kecil di kamarku. Walau begitu aku harus bersiap-siap. 

Pidato Sneevliet mulai bermunculan dalam terjemahan Melayu, dalam terbitan korankoran di Sala, Semarang, Madiun, Surabaya. Juga pidato-pidato Baars yang mampu berbahasa Melayu dan Jawa dengan fasih. Tapi, koran-koran Jawa Barat dan Betawi tampaknya tenang-tenang saja. Pengaruhnya mulai menjalari panggung pribumi. Tampaknya pengaruhnya dapat diibaratkan sebuah roda. Sekali orang mengenal dan menggunakannya, dia lantas jadi bagian dari kehidupan. 

Dalam pertunjukkan langsung di Sala, jelas benar pengaruh ini bekerja. Lakon yang dimainkan kala itu adalah Surapati. Setelah beberapa minggu berlalu, ternyata pemain peran utama sebagai Surapati adalah orang yang itu-itu juga: Marco. Secara khusus kusiapkan bagan peta pengaruh. Dalam waktu seminggu dapat kulihat, bahwa pengaruh itu laksana lelatu yang memercik dan meletik-letik ke kota-kota pelabuhan di Jawa Tengah dan Timur, memasuki pedalaman dan memerciki wilayahwilayah pabrik gula-semua wilayah pabrik gula. 
 
Dewan Hindia telah meminta pada Gubernur Jenderal, demikian yang kudengar dari omongan orang agar tenaga-tenaga kepolisian yang sudah mulai berpengalaman dalam mengawasi kegiatan politik pribumi ditetapkan kedudukannya untuk mengurusi soal ini. Kepolisian setempat yang telah mengambil inisiatif untuk pekerjaan ini supaya diberi pengukuhan, badan koordinasi supaya dibentuk untuk membantu pembentukan  seksi  khusus ini. Dasar dari permintaan itu adalah kegiatan politik Pribumi yang semakin menanjak dengan semakin melonggarkan hubungan antara Kerajaan dengan Hindia. Kalaupun ada rencana mengirim bantuan militer dari Kerajaan tak mungkin bisa diharapkan dalam situasi Perang Dunia. Maka juga Angkatan Perang Hindia seyogianya diperbesar untuk dapat menghadapi segala kemungkinan.  

(Toer, Pramoedya Ananta. 2006. Rumah Kaea. Jakarta: Lentera Dipantara, Halaman 387-393). 
 
Analisislah kaidah penggunaan bahasa teks Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir 

 

Kaidah Kebahasaan

Kutipan

 

Keterangan

Menggunakan kalimat bermakna lampau.

 

Dan aku katakan naskah itu telah dibakar langsung di kantor dalam tong kaleng kecil di kamarku.

telah dibakar

Menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu.

 

Mulailah aku mengingat-ingat secara kronologis pekerjaanku sejak 1912 sampai masuk ke tahun 1915.

Mulailah….sampai

 

Menggunakan kalimat tak langsung.

Dalam waktu seminggu dapat kulihat, bahwa pengaruh itu laksana lelatu yang memercik dan meletik-letik ke kota-kota pelabuhan di Jawa Tengah dan Timur, memasuki pedalaman dan memerciki wilayah-wilayah pabrik gula-semua wilayah pabrik gula.

bahwa

 

Menggunakan kata kerja (verba) mental

 

Dasar dari permintaan itu adalah kegiatan politik Pribumi yang semakin menanjak dengan semakin melonggarkan hubungan antara Kerajaan dengan Hindia.

semakin menanjak semakin melonggarkan

Menggunakan Kata

Kerja (verba) Material

Dan aku katakan naskah itu telah dibakar langsung di kantor dalam tong kaleng kecil di kamarku.

dibakar

 

Menggunakan kalimat langsung

 

''Apakah Tuan sudah bermaksud melawan

pemerintah?"

"Kalau perintah itu diberikan padaku setelah predikat 'tenaga ahli' itu dicabut oleh Gubermen, aku akan lakukan dengan segera, Tuan. Kalau tidak, aku masih punya hak untuk

menolak:'

 

Menggunakan kata sifat untuk

menggambarkan

tokoh, tempat, atau peristiwa

Tidak ada

 

 

C. Rangkuman 

  1. Kaidah kebahasaan teks cerita sejarah meliputi menggunakan kalimat bermakna lampau, menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu, menggunakan kalimat tak langsung, menggunakan kata kerja (verba) mental, menggunakan kata kerja (verba) material, menggunakan kalimat langsung, dan menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau peristiwa. 
  2. Penggunaan makna kias berupa penggunaan unkapan dan peribahasa. 
  3. Kegiatan analisis kebahasaan adalah kegiatan analisis terhadap kaidah kebahasaan dan analisis terhadap penggunaan  makna kata yaitu ungkapan dan peribahasa. 

D. Penugasan Mandiri  

Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir 

Sejarah danau Toba dan pulau Samosir juga tak pernah lepas dari cerita rakyat yang beredar. Sampai saat ini cerita rakyat itu sudah menjadi legenda dan bahkan tidak sedikit yang membuat dokumentasi melalui film tentangnya. Legenda ini begitu masyhur sehingga dijaga dengan baik oleh anak turun yang tinggal disekitar danau Toba. Boleh dipercaya boleh tidak karena sejarah danau Toba ini termasuk ke dalam ciri khas adat dan budaya masyarakat danau Toba dan sekitarnya. Tak ada yang bisa menceritakan detail asli ceritanya karena memiliki banyak versi. Namun, seluruhnya berawal dari seorang nelayan bernama Toba, putri ikan, dan anaknya Samosir. 

Dahulu sebelum menjadi danau Toba, wilayah tersebut merupakan sebuah desa yang asri dengan sungai dan sawah sebagai media pencaharian masyarakatnya. Kehidupan yang sederhana begitu tampak dari masyarakat wilayah tersebut tak terkecuali bagi seorang petani bernama Toba. Hidupnya sederhana dan penuh dengan rasa syukur dalam kesehariannya meskipun diketahui mata pencahariannya hanya sebagai petani dan nelayan kecil di sungai. Suatu hari dia pergi ke sungai dengan harapan memperoleh ikan yang banyak untuk dijual dan dijadikan lauknya untuk makan.  Tak seperti biasanya pada hari itu dia begitu kesulitan untuk mendapatkan ikan. Dia tetap bersabar mencari ikan hingga langit menunjukkan waktu sore hari sehingga dia memtuskan untuk pulang. Akan tetapi sesaat sebelum pulang dia merasaka bahwa kailnya bergerak dengan begitu kuat. Semangatlah dia untuk mendapatkannya karena berfikir akan mendapatan hasil tangkapan yang besar. Benar saja tak lama kemudian muncul ikan koi berwarna kuning keemasan yang elok lagi besar. Kemudian dibawalah hasil makanan tersebut ke rumahnya untuk dijadikan makanan. 

Saat ingin memasak makanan dia mengambil ikan itu, akan tetapi saat ingin mengambil ikan tersebut dia merasa iba dan kasihan dengan paras ikan ini. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan makan dengan lauk seadanya. Tak lupa dia memberikan makan untuk ikan itu juga. Keanehan terjadi saat pagi hari karena dia sudah tidak mendapati ikan di bejana namun banyak makanan yang tersedia diatas meja. Penasaran dia pun akhirnya terkaget dengan perempuan yang sedang berada di dapurnya. Belum sampai kagetnya hilang wanita tersebut mengaku sebagai jelmaan dari ikan yang telah ditangkapnya dna merupakan seorang putri ikan. Setelah tenang barulah Toba menanyakan kejelasan asal usul wanita tersebut. Singkat cerita mereka berdua saling jatuh cinta karena sering bersama. Akhirnya Toba menikahi putri ikan tersebut dengan syarat bahwa Toba tidak boleh menceritakan asal usul putri ikan kepada orang lain termasuk anaknya. 

Toba dan putri ikan hidup bahagia dengan cara yang sederhana. Meskipun putri ikan bisa menghasilkan emas dari sisiknya akan tetapi Toba tidak ingin berharap dari hasil tersebut. sekuat tenaga dia bekerja untuk menghidupi keluarganya. Sampai suatu ketika dia telah memiliki seorang pemuda yang bernama Samosir. Sayangnya Samosir termasuk anak yang hiperaktif dan susah diatur sehingga seringkali membuat masalah baik kepada keluarganya maupun penduduk sekitarnya. Akan tetapi Toba dan putri ikan tetap sabar untuk menghadapi anaknya tersebut. sudah tak terhitung lagi berapa masyarakat yang mengeluh pada Toba tentang perilaku anaknya namun ketika dinasehati oleh Toba, Samosir tetap bergeming. 

Hingga suatu ketika Samosir diperintahkan oleh ibunya yang tak lain putri ikan untuk mengantarkan makanan ke sawah. Makanan tersebut dikirim untuk ayahnya yang sedang bekerja. Saat menuju ke sawah Samosir ternyata justru memakan bekal untuk ayahnya tersebut dan tertidur dibawah pohon. Di sisi lain ayahnya begitu kelaparan menunggu kiriman makanan dari Samosir, sampai dia tak tahan akan rasa laparnya. Akhirnya dia memutuskan pulang untuk makan, sampai di tengah jalan dia menemukan anaknya sedang tidur dengan bekal di sampingnya. Ketika dibangunkan Samosir mengaku telah memakan habis bekalnya dan tertidur disana. Alangkah marahnya Toba mendengar anaknya yang masih bersikukuh merasa dirinya benar. Hingga akhirnya tak sengaja dia melanggar sumpahnya dengan berujar bahwa Samosir adalah anak ikan. 

Setelah berujar seperti maka langit tampak seperti marah dan menumpahkan hujan yang sangat lebat hingga menenggelamkan desanya. Putri ikan yang menyadari eksalahan suaminya hanya bisa tertunduk dan kembali menjadi ikan, sedangkan Samosir dikutuk oleh ayahnya sehingga menjadi pulau sedangkan Toba hanyut tenggelam terbawa arus dan akhirnya aliran sungai akibat hujan lebat itu menjadi sebuah danau yang ditangahnya terdapat pulau Samosir. Itulah legenda yang menjadi sejarah danau Toba. 

Analisislah kaidah penggunaan bahasa teks Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir 
 

 

Kaidah Kebahasaan

Kutipan

 

Keterangan

Menggunakan kalimat bermakna lampau.

 

 

 

 

Menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu.

 

 

 

 

Menggunakan kalimat tak langsung.

 

 

 

Menggunakan kata kerja (verba) mental

 

 

 

 

Menggunakan Kata

Kerja (verba)

Material

 

 

 

 

Menggunakan kalimat langsung

 

 

 

Menggunakan kata sifat untuk

menggambarkan

tokoh, tempat, atau peristiwa

 

 

 

 
 

E. Latihan Soal   

1. Cermatilah penggalan teks cerita sejarah berikut! 
Dalam  terdiam yang sekilas begini, dia menemukan jawaban yang cerdik. Yaitu, dia anggap lebih      baik bertanya, meminta pendapat atau saran dari Danurejo II. “Dus apa saran Tuan?”  
Mersa diakajeni, Danurejo II menjawab lurus, “Sebetulnya, melawan kompeni disadari 
Sri Sultan sebagai menimba air dengan keranjang.” 
Hm?” 
“Tapi. Seandainya terjadi persatuan yang menggumpal antara rakyat Yogyakarta dan rakyat Surakarta, bagaimanapun hal itu bisa menjadi kekuatan yang tidak terduga.” 
Makna peribahasa ” Bagai  menimba air dengan keranjang” adalah… 
A. Perbuatan yang tidak perlu dilakukan. 
B. Pekerjaan sia-sia. 
C. Perbuatan yang bodoh. 
D. Pekerjaan orang yang tidak cerdas. 
E. Perbuatan orang-orang zaman dahulu. 
 
2. Cermatilah penggalan teks cerita sejarah berikut! 
Pengangkatan ini memang banyak terpengaruh oleh bujukan Dara Petak (1). 
Mendengar akan pengangkatan patih ini merahlah muka Adipati Ronggo Lawe(2). Ketika mendengar berita ini dia sedang makan, seperti biasa dilayani oleh kedua orang istrinya yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati(3). Mendengar berita itu dari seorang penyelidik yang datang menghadap pada waktu sang Adipati sedang makan, Ronggo Lawa marah bukan main(4). Nasi yang sudah dikepalnya itu dibanting ke atas lantai dan karena dalam kemarahan tadi sang adipati menggunakan aji kedigdayaannya, maka nasi sekepal itu amlas ke dalam lantai (5). Kemudian terdengar bunyi berkerotok dan ujung meja diremasnya menjadi hancur(6). (Kemelut di Maja Pahit, SH Mintarja) 
Ungkapan ….merahlah muka… pada penggalan tersebut adalah…. 
A. Malu 
B. Bangga 
C. Marah 
D. Kecewa 
E. Sedih 
 
3. Ciri bahwa penggalan tersebut menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu  terdapat pada kalimat…. 
A. 1 dan 3 
B. 2 dan 3 
C. 3 dan 4 
D. 4 dan 5 
E. 5 dan 6 
 
4. Penggunaan kata kerja mental terlihat dari penggunaan kata…. 
A. Pengangkatan 
B. Dilayani 
C. Menghadap 
D. Dibanting 
E. Berkerotok 
 
5. Cermatilah penggalan teks cerita sejarah berikut! 
Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya. 
Kata telah diperintahkan pada kalimat tersebut menunjukkan kaidah kebahasaan…. 
A. Menggunakan kata yang menyatakan urutan 
B. Menggunakan kalimat bermakna lampau. 
C. Menggunakan kata kerja material 
D. Menggunakan kalimat langsung 
E. Menggunakan kata sifat 
 
Kunci Latihan Soal Pembelajaran 1 
1.  B
Pembahasan : Makna peribahasa ” Bagai  menimba air dengan keranjang” adalah melakukan pekerjaan yang sia-sia. 
2.  C
Pembahasan :Ungkapan merahlah muka pada kutipa tersebut bermakna marah. 
3.  E
Pembahasan :5 dan 6 merupakan kaidah kebahasaan yang menandaka urutan waktu karena menggunakan penanda maka pada kalimat 5 dan kemudian pada kalimat 6. 
4.  A
Pembahasan :Pengangkatan merupakankata kerja mental karena bukan makna sebenarnya diangkat namun merupakan aktivitas mental yaitu menempatkan seseorang pada jabatan tertentu. 
5.  B
Pembahasan :Telah diperintahkan menunjukkan penggunaan waktu lampau yaitu kata telah. 
 
 

F. Penilaian Diri 

Berilah tanda centang (√) pada format di bawah ini sesuai dengan jawaban kalian!  

No

Pertanyaa

 

Ya 

Tidak 

1.

Saya sangat senang belajar tentang  menganalisis kaidah kebahasaan dalam teks cerita sejarah.

 

 

2.

Penjelasan materi menganalisis kaidah kebahasaan dalam teks cerita sejarah dengan jelas. 

 

 

3.

Saya memahami kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. 

  

 

 

4. 

Saya memahami penggunaan makna kias teks cerita sejarah dengan jelas.

 

 

 

5.

Saya memahami bagaimana cara menganalisis kebahasaan teks cerita sejarah dengan jelas.

 

 

 

6.

Semua  kegiatan pembelajaran yang diberikan pada modul tentang menganalisi kaidah kebahasaan dalam teks cerita sejarah  bermanfaat bagi kehidupan saya

 

 


Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah Mapel Bahasa Indonesia kelas 12 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 


#
Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com


      Pencarian yang paling banyak dicari
      • contoh teks cerita sejarah
      • jenis teks cerita sejarah
      • contoh teks cerita sejarah pribadi
      • ciri-ciri teks cerita sejarah
      • contoh teks cerita sejarah kelas xii
      • kaidah teks cerita sejarah
      • kaidah kebahasaan teks cerita sejarah brainly
      • struktur teks cerita sejarah
      • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022