Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA

Materi Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA - Halo adik adik yang baik apa kabar? semoga dalam keadaan baik baik saja, pada kesempatan yang cerah ini kakak ingin membagikan kepada adik adik mengenai materi yang telah disusun, materi ini kakak ambil dari mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI SMA/MA mengenai Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel. Semoga bermanfaat yah.

Materi Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA
Materi Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini diharapkan
kalian dapat mencapai tujuan yaitu mengonstruksi resensi dari buku kumpulan cerita pendek atau novel yang dibaca.

B. Uraian Materi

Kumpulan cerita pendek (cerpen) dan novel merupakan dua contoh karya sastra yang sering dijadikan objek resensi. Apabila dilihat dari segi stuktur, teks resensi buku kumpulan cerpen atau novel sama dengan struktur teks resensi pada umumnya. Struktur tersebut terdiri atas judul resensi, identitas karya, orientasi atau pengantar, paparan argumen, dan rekomendasi atau saran.

Pada subbab sebelumnya, kita telah belajar tentang struktur dan cara menyusun teks resensi berdasarkan hasil perbandingan. Melalui bekal kemampuan tersebut, kita dapat mulai mengontruksi resensi suatu buku yang telah kita baca. Langkah-langkah dalam mengontruksi resensi suatu buku kumpulan cerpen atau novel juga sama dengan langkah-langkah menyusun teks resensi pada umumnya. Dalam mengonstruksi sebuah teks resensi, kita juga perlu memperhatikan aspek-aspek kebahasaan yang digunakan. Dengan demikian, pesan yang kita maksud dalam teks resensi dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.

Seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya, isi merupakan hal yang membedakan resensi novel dan kumpulan cerpen dengan jenis karya lainnya. Untuk mengonstruksi teks resensi novel dan buku kumpulan cerpen, Anda perlu memperhahatikan hal-hal berikut.
  1. Membaca cerita secara keseluruhan. Untuk kumpulan cerpen, cerita dibaca satu per satu.
  2. Menentukan unsur intrinsik dalam cerita pada saat membaca ulang cerita
  3. Menuliskan sinopsis cerita, terutama dengan memperhatikan alur dan amanat cerita.
  4. Menuliskan kesan saat membaca cerita, boleh jadi menjelaskan kaitan cerita dengan kondisi saat ini.
  5. Memaparkan keunggulan dan kelemahan sebagai bahan rekomendasi unuk pembaca lain.
Suatu karya kumpulan cerpen atau novel dapat dianggap berkualitas. Karya disajikan dengan bahasa yang menarik dan mudah dicerna, isi cerita menghibur, alur cerita terjalin dengan baik, inspiratif dan memperluas wawasan, serta dapat menyampaikan amanat dan nilai-niali yang relevan. Sebaliknya, suatu novel atau cerita dapat pula dianggap kurang berkualitas. Hal ini dapat disebabkan adanya kejanggalan, ketidakkonsistenan teknik penceritaan, dan memberikan amanat yang bertentangan dengan nilai moral, nilai agama, atau nilai etika yang berlaku di masyarakat.

Agar kalian lebih memahami mengonstruksi sebuah resensi cermatilah resensi novel dan cerpen berikut ini.
http://jantri-mukti.blogspot.com/2012/12/resensi-novel-5-cm.html

Judul : 5 CM
Pengarang : Donny Dirgantoro Penerbit : Grasindo
Tahun penerbitan : 2007 Tebak buku : 381 hlm
Nomor Edisi : ISBN 9797591514

Tentang Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta yang menjalin persahabatan sejak bangku sekolah. Lima orang sahabat ini digambarkan sebagai orang baik-baik yang menyukai musik, ngobrol absurd, film dan lain-lain. Semua genre film pun mereka sukai kecuali film india. 5 sahabat ini beranggapan memang semua permasalahan yang ada di dunia ini pastilah memiliki solusi, namun yang pasti menurut mereka solusinya bukanlah dengan berjoget dan bernyanyi di jalanan.

Ada lagi satu film yang tak mereka sukai yaitu film silat hal ini disebabkan bahwa dikisahkan mereka semua tak ada yang jago bela diri. Karena bagi mereka pembelaan diri yang paling ampuh di dunia ini adalah dengan mengatakan ‘maaf saya lagi khilaf’.

Persahabatan yang terjalin selama tujuh tahun membuat mereka saling memahami satu sama lain. Tentang Arial yang paling tampan, dengan tubuh atletisnya Arial tak pernah lupa menggunakan sepatu basketnya kemanapun ia pergi. Arial juga dikenal sebagai sosok dengan penjiwaan yang tenang dan ramah serta jarang khilaf. Tentang Riani yang merupakan satu-satunya perempuan dari keempat sahabatnya, cantik, cerdas dan tak lupa dengan kaca mata yang selalu bertengger di hidungnya. Riani adalah aktivis kampus, dan dengan hobi membacanya ia merupakan wanita yang berwawasan luas.

Tentang Zafran, si pembuat syair dan sering galau. Zafran digambarkan sebagai sosok yang selalu terus terang meski sedikit kocak kalau sudah bareng sama Riani. Badannya kurus dengan rambutnya yang gondrong. Tentang Ian, badannya paling gemuk diantara keempat sahabatnya. Supporter bola sejati, digambarkan dalam novel waktu Ian banyak digunakan untuk bermain bola dan ngefens berat sama Happy Salma. Tentang Genta, yang berwibawa sehingga sering dianggap sebagai pemimpin, seorang aktivis kampus dengan tubuh lumayan besar dan rambut berjambu

Persahabatan kelima orang ini selalu solid dan setiap orangnya punya ambisi masing- masing. Mereka berlima selalu mengagendakan pertemuan dan pergi bersama-sama. Namun, kejenuhan itu tiba-tiba datang dan setiap dari mereka memutuskan untuk tidak bertemu beberapa waktu dan tidak boleh ada komunikasi

Tiga bulan terlewati dengan aktivitas mereka masing-masing. Kelima sahabat ini pun bertemu kembali dan berkumpul bersama. Mereka pun mengagendakan untuk pergi mendaki ke gunung yang merupakan puncak tertinggi Jawa. Dengan menaiki kereta ekonomi mataramaja untuk sampai di kota Malang, mereka disuguhkan dengan pemandangan indah disetiap perjalanan yang ditempuh.

Perjalanan menuju puncak tertinggi Jawa pun dimulai. Pukul 05.00 dari Ranu Pane Mahameru terlihat berkabut, angin dingin seolah menusuk kulit mereka. Pendakian berangsur dramatis, dan mereka pun akhirnya sampai di puncak Mahameru meski perjalanannya terdapat beberapa kecelakaan. Para pendaki berbaris teratur dengan menghadap ke arah bendera merah putih. Secara serentak mereka mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di puncak tertinggi Jawa

Tema yang diambil sungguh menarik, tentang kebersamaan, persahabatan, usaha, dan lain sebagainya. Donny pun agaknya memberikan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit. Penggambaran karakter yang kuat pada setiap tokohnya. Penulis seolah ingin memberi pesan pada pembaca untuk tidak menyerah apapun yang terjadi.
 
Meski berakhir dengan bahagia, ada sedikit kejadian yang masih menggantung. Mengenai keturunan mereka yang memiliki umur yang sama, akhir ceritanya terlihat begitu dipaksakan.
https://made-blog.com/10-contoh-resensi-novel-lengkap/(dengan perubahan)



http://www.bukabuku.com/browses/product/2010000826843/filosofi-kopi.html

Judul Buku : Filosofi Kopi
Pengarang : Dee Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka Edisi 
Cetakan : Kesebelas 
Tahun Terbit 2015
Tebal Buku : 139 Halaman

Ada beberapa cara dalam menikmati sebuah karya, baik secara visual, tulisan, dan sebagainya. Dan masing-masing cara memiliki kekurangan dan kelebihan. Filosofi Kopi, sebuah karya yang terkenal di kalangan masyarakat luas lewat tayangan layar lebarnya yang dibintangi oleh Chiko Jeriko. Karya film tersebut diadaptasi dari karya tulisan cerpen (cerita pendek) karya Dee Lestari yang berjudul “Filosofi Kopi”. Bagi para penikmat karya dalam bentuk tulisan akan berpendapat salah satunya adalah Filosofi Kopi adalah sebuah karya cerpen yang sangat pantas untuk dijadikan teman bersantai di sore hari sambil menikmati secangkir kopi panas. Bahasanya yang ringan dan alur cerita yang dapat menghanyutkan para pembacanya.

Filosofi Kopi menceritakan seorang barista yang sangat mengagumi suatu entitas yang disebut kopi, dia (Ben) berkeliling ke seluruh penjuru dunia untuk belajar bagaimana membuat kopi kualitas terbaik. Setelah itu, dia kembali ke Jakarta dan membuka kedai kopi bersama kawannya (Jody) dengan nama Kedai Kopi Filosofi Kopi. Kedai tersebut setiap harinya selalu ramai para konsumen yang selalu menikmati kopi buatan Ben. Para konsumen pun merasa terpuaskan karena keramahan dalam melayani mereka. Tetapi, kecintaan Ben terhadap kopi diuji ketika seorang pebisnis kaya yang datang untuk menantangnya dalam membuat kopi yang sempurna. Tantangan pun diterima oleh Ben. Beberapa waktu kemudian, Ben berhasil membuat kopi yang menurutnya sudah sempurna, yang dijuluki sebagai kopi terbaik di dunia. Tapi, kesenangan itu hanya sesaat, hingga datang seorang bapak yang mengatakan bahwa kopi Ben tersebut bukanlah yang terbaik, namun tetap enak. Bentuk kecintaan Ben terhadap kopi tidaklah main-main, dia selalu ambisius jika berbicara tentang kopi. Ben meminta kepada bapak tadi untuk memberitahukan dimana kopi yang lebih enak dibanding kopi buatannya. Suatu hari Ben dan Jody pergi ke suatu daerah di Jawa Tengah dan berkenalan dengan Kopi Tiwus, kopi sederhana dari daerah terpencil dan tidak perlu proses yang rumit ataupun alat yang canggih. Kopi tiwus sangat nikmat walau hanya diseduh dengan air panas. Pada titik inilah, Ben sadar bahwa kecintaan yang berlebih bukanlah hal yang baik dan sesunggunya tidak ada yang sempurna di dunia ini, namun dia tetap mensyukuri hidup ini.

Filosofi Kopi karya Dee Lestari yang terdiri atas kumpulan cerita pendek dan prosa  selama satu dekade (1995-2005). Beberapa dari tulisan di buku tersebut ia tulis saat masih kuliah. Di dalam karya tersebut, Dee membuat kemiripan pada masing-masing tokoh utama dari setiap cerpen, yakni sosok yang ambisius akan suatu hal. Dee seperti menjadikan hal tersbut ciri khas pada setiap cerpennya. Pada cerpen Filosofi Kopi, Dee membuat tokoh Ben yang  sangat  berambisi  untuk  membuat  kopi  terbaik.  Dalam cerpen Mencari Herman, Dee membuat tokoh Hera yang sangat berambisi juga untuk mencari seorang yang bernama Herman dari dia usia 13 tahun hingga dewasa. Hera tak pernah berhenti untuk mencari Herman hingga maut memanggilnya. Sikat Gigi, cerpen yang menceritakan tokoh Tio yang begitu terobsesi terhadap Egi, seorang wanita yang dicintai sedari awal ia mengenalnya. Tapi apa boleh dikata, Egi mencintai  pria lain, tapi Tio tak pernah perduli, cintanya tak pernah padam, ia selalu percaya bahwa Egi adalah rumah ternyaman bagi dirinya. Rico de Coro, adalah salah satu cerpen terunik yang ditulis oleh Dee di buku karyanya ini. Menceritakan tentang seekor kecoa yang memiliki rasa pada seorang gadis manusia bernama Sarah, anak dari Om Haryanto, sang pemilik rumah, yang juga ditinggali oleh keluarga kecoa Rico. Kecoa di rumah Om Haryanto selalu diburu tetapi ayah Rico tidak terima, dia menggunakan berbagai cara untuk membalas dendam akan kematian kerabatnya yang lain. Hingga pada akhirnya, rencana untuk membalas dendam itu bukannya melukai keluarga Om Haryanto, tapi menewaskan Rico demi menyelamatkan Sarah. Cerpen ini unik dengan apa adanya, menceritakan kecoa yang rela mati demi kecintaannya terhadap seorang anak gadis.
Karya Dee ini sangat cocok untuk menemani dikala bersantai, menunggu bus, pesawat, pacar yang telat menjemput, ataupun lamaran yang tak kunjung datang. Cerpen-cerpen itu menghibur dengan gayanya masing-masing dapat dibaca bagi semua kalangan apalagi para pecinta karya sastra dan prosa.
https://komunitasjendela.org/resensi-kumpulan-cerpen-filosofi-kopi/

C. Rangkuman

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengontruksi resensi novel dan kumpulan cerpen.
a. Membaca cerita secara keseluruhan. Untuk kumpulan cerpen, cerita dibaca satu per satu.
b. Menentukan unsur intrinsic dalam cerita pada saat membaca atau dengan membaca ulang.
c. Menuliskan sinopsis cerita, terutama dengan memperhatikan alur dan amanat cerita.
d. Menuliskan kesan saat membaca cerita, boleh jadi menjelaskan kaitan cerita dengan kondisi saat ini.
e. Memaparkan keunggulan dan kelemahan sebagai bahan rekomendasi untuk pembaca lain.

 
D. Latihan Soal

Cermati penggalan novel berikut !

Judul buku : Dilan , Dia
Adalah Dilanku Tahun 1990 (fiksi)
Penulis : Pidi Baiq 
Penerbit : Pastel Books, Bandung, 2014
Tebal buku : 346 halaman

https://www.gramedia.com/blog/review-buku-dilan-tahun-1991-cerita-masa-pacaran-putus-dan-jadi- dewasa/#gref


Dari kantin, sebelum mau masuk ke kelas, aku berpapasan dengan Dilan. Dia sedang jalan bersama kawan-kawannya. Kutebak, pasti baru datang dari warung Bi Eem.
"Milea!" dia manggil dan lalu mendekat. Kuhentikan langkahku. Sedangkan Nandan, Hadi dan Rani terus berjalan karena aku minta mereka untuk jalan duluan.
”Ya?”

“Boleh gak aku ikut pelajaran di kelasmu lagi?" Dia senyum. Aku juga.
“Nanti kamu dimarah lagi,” kataku.

“Gak apa-apa. Aku orang yang siap dimarah," katanya Sambil senyum. Aku diam. Lalu kutanya dia sambil kupandang matanya.
“Kamu mau bikin aku senang gak?"

Aku nyaris gak percaya bahwa aku bisa nanya seorang berani itu kepadanya. “Iya?"
“Kalau gitu," kataku. “Ikuti mauku," kataku tersenyum. “Emang apa maumu?"
 

“Jangan ikut belajar di kelasku!" kataku sambil aku goyangkan jari telunjukku. Aslinya sih aku suka ada Dilan di kelasku, tapi aku merasa gak enak ke temen-temen
Dilan ketawa.

“Oke, kalau begitu," katanya.

Di saat yang bersamaan, Ibu Sri lewat. Dia mau masuk ke kelasku. Dilan menyapanya dan nanya ke dia:
"Bu, boleh ikut belajar di kelas Ibu?”

“Heh? Kamu, kan, punya jadwal sendiri,” jawab Ibu Sri. “Ayo, pada masuk! Sudah bel.” “Siap grak!”
Aku senyum melihat cara Dilan menghormat Ibu Sri, dia tegakkan badannya, lalu tangannya ia tempelkan di jidat. itu benar-benarjadi seperti hormat kepada komandan, atau seperti kepada bendera.
Habis itu, Dilan pergi.

Aku masuk kelas untuk mengikuti pelajaran beri. kutnya. Itu adalah pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (sekarang PKN), dengan Ibu Sri sebagai gurunya. Ya, aku masih ingat.

Tapi yang lebih aku ingat bukan Ibu Srinya, melainkan kejadiannya, yaitu pada waktu Ibu Sri sedang menjelaskan materi pelajaran, tiba-tiba papan pembatas kelas bagian sebelah kanan itu roboh, jatuh menimpa ke arah kami. Papan pembatas kelas itu jatuh, menimpa papan tulis dan menggulingkan Presiden Indonesia, Soeharto, dalam bentuknya sebagai foto yang dikasih pigura.

Kami semua kaget, ibu Sri juga. Dia lari sambil teriak menyebut nama Tuhan: “Allahu akbar!l” dan juga menyebut nama salah satu keluarganya: “Mamaaaa l” (sejak itu aku tahu Ibu Sri memanggil ibunya dengan sebutan 'Mama').

Kami semua lari, berusaha menghindar, karena tahu itu bahaya. Kami lari ke arah belakang bagian kelas.

Dari tempat kami ngungsi, kami menyaksikan sendiri bagaimana papan pembatas kelas itu roboh bersama dua orang yang masih menggantung di atasnya. Dan, Pemirsa saksikanlah bersama-sama, kedua orang itu adalah:
Piyan dan Dilan!

Aku tidak ingin percaya, tapi itu nyata. Lalu, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Aku dapat penjelasan langsung dari Dilan setelah beberapa bulan kemudian.
 

Katanya, waktu itu, di kelas sedang tidak ada pelajaran, gurunya tidak datang karena sakit. Di|an dan Piyan, berusaha naik ke atas pembatas kelas itu, tujuannya untuk mencapai lubang ventilasi yang ada di tembok bagian atas.
”Ih! Ngapaiiiin?” kutanya. ”Ngintip kamu, ha ha ha ha.”
”Ha ha ha ha. Kamu jadi beneran masuk ke kelas Ibu Sri.” "Iya! Ha ha ha. Masuk dengan cara lain."
“Ha ha ha."

“Risiko tinggi mencintaimu.” “Ha ha ha.”
Tapi itulah yang terjadi. Mau gimana lagi.

Wati, teman sekelasku, mungkin dia jengkel. Dihampirinya Dilan, untuk kemudian dia lempar dengan buku pelajaran, sambil ngomong: Maneh wae, Siah“ itu bahasa Sunda, kira-kira artinya: "Elu lagi! Elu lagi!"

Dia juga menjewer Piyan: “Maneh deui! Mimilu !” juga bahasa Sunda, kira-kira artinya: "Kamu juga lagi, ikut-ikutan."

Dilan tidak melawan. Piyan hanya meringis. Aku Iangsung ingin tahu siapa Wati sebenarnya? Kenapa dia berani ke Dilan? Kenapa dia berani ke Piyan? Di saat mana, aku merasa yakin orang lain tak akan berani melakukannya. Dan. kenapa keduanya tidak melawan ketika diperlakukan macam itu oleh Wati?
Selidik punya selidik, ternyata Wati itu tidak lain adalah saudara Dilan. Pantesan! ibunya Wati adalah adik dari ayahnya Dilan.

Ya. Tuhan, kenapa aku baru tahu?

Dilan dan Piyan, lalu dibawa Pak Suripto ke ruang guru dengan cara yang kasar menurutku!
Saat itu, anehnya aku tidak cemas. Anehnya aku percaya, Dilan pasti bisa menghadapinya dengan tenang.
--000--

Tapi sejak adanya peristiwa itu, aku tidak pernah melihat Dilan selama dua hari, di lingkungan sekolah dan di mana pun.

Mungkin. dia sakit. Mungkin, dia diskors. Aku tidak tahu dan aku ingin tahu ke mana.
Tapi bingung harus bertanya ke siapa? Nanya ke Nandan atau Rani, khawatir mereka akan menyangka yang bukan-bukan. Nyangka aku perhatian Atau apalah , meskipun iya begitu, tapi jangan sampai mereka tahu.
 
Jadi?

Ya, aku bingung. Gak ada jalan lain rasanya. Aku cuma bisa berharap aku akan tahu dengan sendirinya.
--ooo--

Keinginanku bisa ke kantin berdua dengan Wati, akhirnya kesampaian.

Di kantin, ada Nandan, Rani, dan Jenar yang ingin gabung makan satu meja dengan kami, tapi kubilang aku ada urusan dengan Wati. Untung mereka bisa ngerti, dan kemudian pada duduk di meja lain.
Pasti kamu tahu tujuanku ngobrol dengan Wati. Meskipun malu, harus kuakui, bahwa dari Wati aku ingin dapat informasi lebih banyak tentang Dilan. Setidaknya Wati itu saudaranya, pasti lebih banyak tahu tentang Dilan dibanding orang lain.

Maksudku, aku ingin jelas menyangkut tentang banyak informasi buruk yang kudapat tentang Dilan. Bukan mau ikut campur. Aku mengerti, hidup Dilan adalah urusannya.
Bagaimanapun dirinya, apalah urusanku dengan dia. Aku bukan siapa-siapanya. Aku bukan pacarnya.

Apakah aku normal kalau aku ingin tahu semua hai tentang Dilan? Kalau enggak, biarin, deh, gak normal juga. Aku duduk berdua dengan Wati, agak di dekat jendela. Aku merasa harus hati-hati, jangan sampai Wati tahu tujuan asliku ngobrol dengan dia.
Setelah ngobrol tentang hal lain yang kuanggap gak enting, aku mulai berusaha mengarahkan pembicaraan gupaVa membahas pada pokok yang kumaui:
"Eh, ngomong-ngomong, kemarin, waktu Si Dilan jatuh: kamu lempar dia pake buku, kok, kamu berani, sih?"

”Oh? Ha ha ha. Berani, lah!” jawab Wati. ”Habisnya kesel. Dia itu nakal tau? Di rumahnya juga begitu!”

“Kamu saudaraan, ya?” ”Iya. Ibuku adik ayahnya."
”Oh, pantes!” kataku. ”Kaget aja, pas lihat kamu berani mukul dia, ha ha ha.” “Ha ha ha. Kesel,” jawab Wati. ”Nakal dia itu.”
”Nakal gimana?”

“Ah, banyak!” kata Wati. ”Pernah, tuh, waktu malam minggu, kapan, ya, pokoknya dia motong ayam ibuku. Diambil di kandang gak bilang-bilang."
“Oh, ya?” Aku senyum.

”Disate tau gak?! Dimakan sama temen-temennya di belakang rumah dia!”
 
“Ha ha ha. Mabuk-mabukan, ya?” “Enggak, lah !”
"Taunya enggak?" “Tau aja.”
“Ngambil ayam ibu kamu?” tanyaku. ”Kok, berani?"

“Pas ditegur ibuku, dia bilangnya salah ngambil. Gelan gak kelihatan katanya.” “Ha ha ha.”
"Padahal, kamu tau gak? Ayahnya itu galak,” kata Wati. “Ayahnya tentara." ”Oh? Ya?!”
Aku nyaris terperangah mendengar bahwa ayahnya Diian adaiah juga tentara. “Iya.”
”Cabang apa?”

”Gak tau, tuh,” jawab Wati. “Gak ngerti.” ”Ooh …”
"Nakal banget dia itu.”

”Si Dilan pasti pacarnya banyak, tuh!” kataku.

”Ah, siapa? Gak punya pacar dia mah. Terlalu cuek ke cewek!" ”Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya." ”Iya, kali."
”Emang belum punya pacar?"

”Gak tau, tuh," jawab Wati. ”Eh, kok, jadi ngomongin Si Dilan, sih?!”

“Iya,” kataku, pura-pura sama baru menyadari hai itu. Padahal masih banyak yang ingin kutahu tentang Dilan. termasuk kenapa dia tidak pernah kulihat selama dua hari ini, tapi gak jadi karena kuatir Wati akan curiga kenapa aku bertanya soal itu,

Jawablah pertanyaan berikut !
1. Buatlah sinopsis dari penggalan novel tersebut !
2. Buatlah sebuah kalimat yang menunjukan kelebihan resensi !
 
Kunci jawaban
1. Sinopsis penggalan novel Dilan.
Milea beberapa hari belakangan ini selalu mencari Dilan di warung bu Eem. Dia ingin selalu tahu keberdaan Dilan ada di mana. Tiba-tiba di suatu lorong sekolah Milea berpapasan dengan Dilan. Dilan menggoda Milea bahwa dia ingin belajar di kelas Milea. Selang beberapa saat ada kejadian yangtidak di sangka. Dilan di jewer oleh Wati. Usut punya usut ternyata Wati adalah sepepu Dilan. Dari Watilah Milea tahu siapa sebenarnya Dilan.

2. Kalimat yang menyatakan kelebihan dalam resensi novel
Novel Dilan 1990 ini bahasanya mudah dipahami dan alurnya cukup menarik sehingga novel ini
Rubrik penilian nomor 1

Keterangan
Jawaban benar nilai skor 1
Jawaban salah skor 0
Soal 2 bila semuanya benar nilai seratus

E. Penilaian Diri

Apakah pembelajaran kali ini menyenangkan? Bagaimana suasana saat pembelajaran berlangsung? Puaskah kalian dengan pencapaian diri dalam materi kali ini? Isilah table berikut sesuai pemahaman dan penugasan kalian terhadap materi yang telah dipelajari.

Berilah tanda centang (√) pada format di bawah ini sesuai dengan jawaban kalian!
Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 


#
Mengonstruksi Resensi Buku Kumpulan Cerpen atau Novel File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com


      Pencarian yang paling banyak dicari
      • manfaat resensi
      • struktur resensi
      • tujuan resensi
      • resensi buku
      • resensi film
      • resensi film adalah
      • contoh kalimat resensi
      • contoh teks resensi
      • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022