Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Materi Pesan Buku Fiksi Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA

Materi Pesan Buku Fiksi Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA - Hai adik adik yang baik apa kabar? semoga selalu dalam keadaan baik baik saja ya, nah kali ini kakak ingin menyampaikan bahwa kakak ingin membagikan kepada adik adik mengenai materi yang telah disusun dari berbagai sumber, materi ini merupakan materi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang Pesan Buku Fiksi. Selamat belajar!!

Materi Pesan Buku Fiksi Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA
Materi Pesan Buku Fiksi Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA

A. Tujuan Pembelajaran 

Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan  
1. menganalisis pesan buku fiksi; 
2. menyusun ulasan terhadap pesan dari buku kumpulan puisi yang dikaitkan dengan situasi kekinian. 

B. Uraian Materi 

Pada pembahasan pertama ini, kalian akan memahami hakikat fiksi, jenis-jenis fiksi, dan yang terakhir unsur-unsur fiksi. 
 
1. Hakikat Fiksi 

Nurgiyantoro (2015: 2) menyatakan bahwa fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.  

Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2015: 2) menyatakan bahwa fiksi merupakan cerita rekaan atau cerita khayalan, hal itu disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran faktual, sesuatu yang benar-benar terjadi. 

Nah, sekarang kalian sudah tahu kan apa yang dimaksud fiksi? Jika sudah mari kita lanjut ke jenis-jenis fiksi.  

2. Jenis-Jenis Fiksi 

Seperti halnya dalam kesastraan Inggris dan Amerika, teks fiksi menunjukan pada karya yang berwujud novel dan cerita pendek. Nurgiyantoro (2015: 11) menyatakan bahwa pengertian fiksi sengaja dibatasi pada karya yang berbentuk prosa, prosa naratif, atau teks naratif. 

Novel (Inggris: novel) dan cerita pendek (disingkat: cerpen; Inggris: short story) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut juga fiksi. Sebutan novel dalam bahasa Inggris—dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia—berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’.  

Nurgiyantoro (2015: 5) menyatakan bahwa dalam dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2015: 5) menyatakan bahwa karya sastra yang demikian disebut sebagai fiksi historis (historical fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta sejarah, fiksi biografis (biographical fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta biografis, dan fiksi sains (science fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta ilmu pengetahuan.  
 
1. Fiksi historis (historical fiction), 
Fiksi historis jika yang menjadi dasar penulisan fakta sejarah. Contoh: karya-karya Dardji Zaidan seperti Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia dapat dipandang sebagai fiksi historis. Novel historis terikat oleh fakta-fakta yang dikumpulkan melalui penelitian berbagai sumber. Namun, di dalam cerita tersebut memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Contoh lain misalnya, novel Surapati dan Robert Anak Surapati (Abdul Muis) yang berangkat dari fakta sejarah.  
 
2. Fiksi biografis (biographical fiction) 
Fiksi biografis jjika yang menjadi dasar penulisan fakta biografis. Contoh: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (Cindy  Adam) dan Kuantar Kau ke Gerbang (Ramadhan K. H.), Tahta untuk Rakyat (Mochtar Lubis), dan Sang Pencerah (Akmal Nasery Basral), walau merupakan karya sastra-yang imajiner, oleh pembaca tidak jarang juga dinikmati sebagai karya sastra. Karya biografis juga memberikan ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog yang biasanya telah dikreasikan oleh penulis. 
 
3. Fiksi sains (science fiction) 
Fiksi sains jika yang menjadi dasar penulisan fakta ilmu pengetahuan. Contoh: novel yang berjudul 1984 karya George Orwell.  
 
4. Cerita pendek/cerpen,  
Adalah cerita berbentuk prosa yang pendek. 
 
5. Novelet 
Adalah cerita yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel. 
 
6. Novel/roman 
Adalah cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahnpermasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsur-unsurnya secara lebih luas dan rinci. 
 
7. Cerita anak 
Adalah cerita yang mencakup rentang umur pembaca beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun. 
 
8. Novel remaja (chicklit dan teenlit) 
Adalah novel yang ditulis untuk segmen pembaca remaja. 

9. Dongeng 
Adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi. 
 
10. Fabel  
Adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatang yang diperlakukan seperti manusia. 
Contoh: Cerita 
Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau, dan lain-lain 
 
11. Hikayat  
Adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain. Novelet  adalah cerita yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel. 
 
12. Legenda  
Adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-lain.Cerita anak 
 
13. Mite  
Adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul. 
 
14. Cerita Penggeli Hati 
Sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain. 
 
15. Cerita Perumpamaan  
Adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil 
 
3. Unsur-Unsur Fiksi  
Berikut ini unsur intrinsik yang membangun cerita fiksi dimana unsur ini ada di dalam cerita fiksi. 
a. Tema, 
Yaitu gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks. Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2015: 114) mengemukakan bahwa tema (theme) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.  

b. Tokoh 
Yaitu pelaku dalam karya sastra, sebagaimana dikemukakan oleh Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2015: 247) tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya sebagai jawaban terhadap pertanyaan: “Siapa tokoh utama novel itu?”. 

c. Plot 
Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2015: 167) mengemukakan bahwa plot sebagai peristiwaperistiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.  

d. Latar, 
yaitu tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.  
1) Latar Tempat 
Latar tempat menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. 
2) Latar Waktu 
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. 
3) Latar Sosial-Budaya 
Latar sosial-budaya menunjuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial-budaya memang dapat secara meyakinkan menggambarkan suasana kedaerahan, local color, warna setempat daerah tertentu melalui kehidupan sosial-budaya masyarakat. 

e. Amanat 
Yaitu pemecahan yang diberikan pengarang terhadap persoalan di dalam sebuah karya sastra atau pesan yang ingin disampikan pengarang kepada pembaca. Nurgiyantoro (2015: 429) menyebut dengan kata moral, moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Secara umum moral menunjuk pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban.  

f. Sudut pandang, 
yaitu cara pandang pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. 

g. Penokohan 
Adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi atau drama dengan cara langsung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk menafsirkan kualitas dirinya melalui kata dan tindakannya.  
 
Sedangkan unsur ekstrinsik yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, berikut ini.  
  • Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap.  
  • Keyakinan  
  • Pandangan hidup yang keseluruhan itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.  
  • Psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial juga akan mempengaruhi karya sastra.  
  • Pandangan hidup suatu bangsa.  
  • Berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya. 

C. Rangkuman 

  1. Fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.  
  2. Prosa fiksi dibedakan menjadi dua, yaitu a) prosa modern yang terdiri dari cerita pendek, novelet, novel/roman, cerita anak, novel remaja, fiksi historis, fiksi biografis, fiksi sains. b) prosa lama yang terdiri dari dongeng, fable, hikayat, legenda, mite, cerita penggeli hati, dan cerita perumpamaan.  
  3. Unsur fiksi dibedakan menjadi dua, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. a) intrinsic terdiri dari tema, tokoh, alur/plot, konflik, klimaks, latar, amanat, sudut pandang, dan penokohan. b) unsur ekstrinsik terdiri dari keadaan subjektivitas individu, keyakinan, pandangan hidup, dan psikologi.  

D. Latihan Soal   

 1. Bacalah teks di bawah ini dengan saksama! 
Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis 
 
Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di  neraka itu banyak temannya di dunia terpanggang panas, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan, ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar Syeh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, lalu bertanya kenapa mereka di neraka semuanya. Tetapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun tak mengerti juga.  
“Bagaimana Tuhan kita ini?” kata Haji Saleh kemudian. “Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadah, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan ke neraka.” 
“Ya. Kami juga berpendapat demikian. 
Tengoklah itu, orang-orang senegeri kita semua,  dan tak kurang ketaatannya beribadat.” 
“Bagaimana Tuhan kita ini?” kata Haji Saleh kemudian. “Bukankah kita disuruhNya taat beribadah, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan ke neraka.” 
“Ya. Kami juga berpendapat demikian. Tengoklah itu, orang-orang senegeri kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.” 
“Ini sungguh tidak adil.” 
“Memang tidak adil,” kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. 
“Kalau begitu, kita harus minta kesaksian kesalahan kita. Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau ia silap memasukkan kita ke neraka ini.” “Benar. Benar. Benar,” sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. “Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?” suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. “Kita protes. Kita resolusikan,” kata Haji Saleh. “Apa kita revolusikan juga?” tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner. 
“Itu tergantung pada keadaan,” kata Haji Saleh. “Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.” 
“Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,” sebuah suara menyela. 
“Setuju! Setuju! Setuju!” mereka bersorak beramai-ramai. 
Lalu, mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan 
bertanya, “ Kalian mau apa?” 
Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya. 
“O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab- Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa, setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal- hal yang tidak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitab-Mu.” 
“Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan. 
“Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.” 
“O, di negeri yang tanahnya subur itu?” “Ya. Benarlah itu, Tuhanku.” 
“Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?” 
“Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami,” mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu. 
“Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?” 
“Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.” 
“Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat itu?” “Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.” 
“Negeri yang lama diperbudak orang lain itu?” “Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah penjajah itu, Tuhanku.” 
“Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya dan diangkutnya ke negerinya, bukan?” 
“Benar Tuhanku, hingga kami tidak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.” 
“Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?” 
“Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu, kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.” 
“Engkau rela tetap melarat, bukan?” “Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.” 
“Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?” “Sungguhpun anak cucu kami melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala belaka.” 
“Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?” 
“Ada, Tuhanku.” 
“Kalau ada, mengapa biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri engkau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat  
tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. 
Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin? Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembah-Ku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka! Hai malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.” 
Semuanya jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. 
Tetapi Haji Saleh ingin juga kepastian, apakah yang dikerjakannya di dunia ini salah atau benar. Tetapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan, ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu. 
“Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah 
Tuhan di dunia?” tanya Haji Saleh. 
“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, hingga mereka itu kucar-kacir selamanya.. Itulah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.” 
Demikian cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. 
Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. 
“Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget. “Kakek.” 
“Kakek?” 
“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang ngeri sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.” 
“Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya melangkah secepatnya meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. 
Aku mencari Ajo Sidi ke rumahnya. Tetapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia. 
“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi. “Tidak ia tahu Kakek meninggal?” “Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kafan buat Kakek tujuh lapis.” “Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,” dan sekarang ke mana dia?” “Kerja.” 
“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa. “Ya. Dia pergi kerja.” *** 
 
Apa pesan moral yang hendak disampaikan pengarang cuplikan cerpen di atas?  
 
2. Perhatikan puisi berikut! 
GADIS PEMINTA-MINTA 

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil 
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka 
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu 
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa 
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil 
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok 
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan 
Gembira dari kemayaan riang 
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral 
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal 
Jiwa begitu murni, terlalu murni 
Untuk bias membagi dukaku 
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil 
Bulan diatas itu, tak ada yang punya 
Dan kotaku, ah kotaku 
Hidupnya tak punya lagi tanda 
 
                                    (Toto Sudarto Bachtiar, Tonggak 2, hlm. 3) 
 
Apa pesan yang hendak disampaikan pengarang dalam puisi di atas?  
 
Kunci Jawaban  dan  Pembahasan 
1. Pesan moral yang hendak disampaikan  adalah: 
Kunci Jawaban : Kita tidak cukup hanya melaksanakan ibadah saja  tanpa memperhatikan urusan dunianya, karena kita tidak akan bisa beramal  jika kita dalam keadaan  miskin. Sehingga harus seimbang antara  urusan dunia dan akhirat.
Pembahasan : Pesan moral merupakan pesan yang berisi anjuran   yang harus  dilaksanakan atau  memberi contoh nasehat kepada pembaca, sehingga pembaca akan dapat mengetahui anjuran dalam sebuah cerita. Pesan moral merupakan  ajakan  pembaca  untuk berbuat baik dalam  mnenjalankan kehidupannya. 
Skor : 60 
2. Kunci Jawaban : Kita jangan pernah menganggap rendah orang lain yang status sosialnya lebih rendah daripada kita. Karena dimata Tuhan derajat manusia adalah sama.
Pembahasan :Pada puisi “Gadis Kecil Peminta-minta” mengandung pesan sebagai tujuan penulis  menyampaikan  pelajaran  kepada pembaca puisi, ajakan atau pesan  itu terselubung  dengan pilihan kata yang indah. Skor : 40 
 
Rubrik/ Pedoman Penskoran Menemukan  pesan dalam  menemukan pesan moral        pada fiksi (cerpen) 

E. Penilaian Diri 

Setelah kalian belajar kegiatan belajar 1 berikut diberikan tabel untuk mengukur diri kalian terhadap materi yang sudah kalian pelajari. Isilah dengan mencentang (V) pada refleksi diri terhadap pemahaman materi pada tabel berikut! 
 
Tabel Refleksi Diri Pemahaman Materi  
Jika kalian menjawab  “TIDAK” pada salah satu pertanyaan tersebut, maka pelajarilah kembali materi dalam modul, ulang kegiatan pembelajarannya, apabila diperlukan silakan kalian menghubungi guru atau teman sejawat untuk menyampaikan pembimbingan. Jangan putus  asa untuk mengulang lagi! Dan apabila kalian menjawab “YA” pada semua pertanyaan, maka lanjutkan kegiatan pembelajaran selanjutnya. 

Setelah kalian menuliskan penguasaan terhadap materi menganalisis pesan  dari dua buku  fiksi   yang kalian baca,  kemudian lanjutkan kegiatan berikutnya yaitu menyususn  ulasan terhadap pesan dari dua  buku kumpulan puisi yang dikaitkan  dengan  kekinian.. 


Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, mudah-mudahan dengan adanya Materi Pesan Buku Fiksi Mapel Bahasa Indonesia kelas 11 SMA/MA ini para siswa akan lebih semangat lagi dalam belajar demi meraih prestasi yang lebih baik. Selamat belajar!! 


#
Pesan Buku Fiksi File ini dalam Bentuk .pdf File Size 74Kb
Diupload oleh www.bospedia.com


      Pencarian yang paling banyak dicari
      • contoh buku fiksi
      • menganalisis buku fiksi
      • jelaskan langkah-langkah menganalisis pesan dalam buku fiksi!
      • jelaskan maksud pesan moral dalam buku fiksi
      • jelaskan langkah menganalisis buku fiksi
      • contoh analisis buku non fiksi
      • apakah buku buku fiksi dapat digunakan sebagai referensi penulisan karya ilmiah
      • pdf, 2018,2019,2020,2021,2022